Suara.com - Laju inflasi sepanjang Januari 2016 diperkirakan sebesar 0,7 persen, sebagian besar dipicu gejolak harga kelompok pangan seperti daging sapi dan daging ayam.
"Kami proyeksikan inflasi Januari 'month on month' sebesar 0,7 persen, sedangkan 'year on year' (secara tahunan) 4,3 persen," kata Ekonom lembaga kajian KENTA Institute Eric Alexander Sugandi dihubungi di Jakarta, Kamis (28/1/2016).
Menurut dia, gejolak harga daging ayam dan sapi menjadi pemicu utama inflasi Januari ini. Memang setiap awal tahun, tren inflasi lazim terjadi, namun kata Eric, kendala pasokan dan distribusi dua makanan tersebut menyebabkan laju inflasi terkerek cukup tinggi.
"Masih ada gangguan distribusi karena cuaca di beberapa tempat," ujar dia.
Dari kelompok barang yang harganya diatur pemerintah (administered prices) seperti tarif Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik, menurut Eric, tekanan sudah berkurang sejak awal tahun. Landainya tekanan dari sektor energi itu dipicu penurunan harga premium menjadi Rp 7.150 per liter dan solar menjadi Rp5.950 per liter.
"Tapi penurunan itu tidak bisa mengalahkan tekanan dari harga makanan yang tergantung musim, makanya inflasinya tinggi," ujarnya.
Eric menuturkan inflasi akan turun kembali ketika memasuki akhir Maret 2016, atau mendekati musim panen.
Dia memperkirakan inflasi di akhir 2016 akan berada di level 4.5 persen.
Hingga pekan kedua Januari 2016, Bank Indonesia menghitung laju inflasi sebesar 0,75 persen. Andil terhadap tekanan itu harga itu akibat meroketnya harga komoditas hortikultura, terutama cabai dan bawang merah.
Gubernur BI Agus Martowardojo sudah mengingatkan dalam sisa waktu Januari 2016, akan ada tekanan dari harga bahan makanan telur dan daging ayam ras.
Hal itu karena pembatasan impor "grandparent stock" atau moyang unggas yang diterapkan sejak akhir 2015 akan memicu kelangkaan pasokan dan bisa mengerek harga telur dan daging ayam ras.
"Tentang ketersediaan jagung juga harus menjadi perhatian pemerintah," ujarnya.
Akibat masih tingginya inflasi hingga Maret, Eric Sugandi meyakini Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di 7,25 persen. Setelah inflasi mereda pada awal Maret, kata Eric, BI baru akan menurunkan suku bunganya kembali sebesar 25 basis poin mejadi 7,0 persen.
"Kemudian 'rate cut' lagi 25 basis poin di kuartal empat sehingga akhir tahun 2016 'BI rate' di 6,75 persen," ujar dia.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Desember 2015 terjadi inflasi sebesar 0,96 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 122,99. Dari 82 kota IHK, seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Merauke 2,87 persen dengan IHK 131,04 dan terendah terjadi di Cirebon 0,27 persen dengan IHK 118,94.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 3,20 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,50 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,40 persen; kelompok sandang 0,09 persen; kelompok kesehatan 0,24 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,06 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,45 persen.
Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Desember) 2015 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Desember 2015 terhadap Desember 2014) masing-masing sebesar 3,35 persen. (Antara)
Berita Terkait
-
Mendagri Tito: Inflasi Bulanan 3 Daerah Terdampak Bencana Membaik
-
Harga Produk di Jakarta Berangsur Naik Imbas Perang Iran, Pramono Anung: Inflasi Masih Terjaga
-
Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun
-
Inflasi Maret 2026 Tembus 0,41 Persen, Kenaikan Harga Pangan dan Bensin Jadi Biang Keroknya
-
Belanja Tetap Ramai, OECD Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 4,8% pada 2026
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
-
Serangan AS-Israel Tewaskan Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi
-
Menkeu Purbaya Pastikan BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026: DPR Beri Tepuk Tangan!
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
Terkini
-
Penerimaan Pajak Naik 20,7 Persen di QI 2026, Purbaya: Ekonomi Alami Perbaikan
-
BEI Akui Pengungkapan Saham Terkonsentrasi Tinggi Bikin Investor Asing Kabur
-
Purbaya Ungkap Alasan Defisit APBN Tinggi, Sorot Anggaran Besar BGN
-
CNAF Tebar Dividen Rp129 Miliar
-
Pembangunan Pabrik DME PTBA Butuh 3 Tahun, Pendanaan Masih Menunggu Danantara
-
Bandara Soetta Hujan Ekstrem, Atap Terminal 3 Jebol Hingga 12 Penerbangan Gagal Mendarat
-
Bea Masuk Suku Cadang Pesawat Jadi 0 Persen, Purbaya Bisa 'Rugi' Rp 500 Miliar
-
Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Sampai Akhir Tahun: Gini-gini Uangnya Banyak!
-
Defisit APBN Tembus Rp240,1 Triliun, Meroket Dibandingkan Awal Tahun 2026
-
IHSG Longsor ke Level 6.989, Ini Alasannya