Suara.com - Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Revrisond Baswir menyebut banyak pengembang perumahan (developer) yang memulai usaha tanpa modal mencukupi. Selain itu, pinjaman kredit dari para developer terhadap perbankan untuk membangun perumahan jumlahnya tidak besar.
"Pinjaman kredit terhadap perbankan biaya lebih besar karena ada selisih bunga yang harus dibayar. Ini memperbesar biaya yang harus dikeluarkan oleh para developer," kata Revrisond saat dihubungi oleh Suara.com, Senin (15/2/2016).
Akibatnya banyak developer lebih suka menggunakan dana sendiri ketimbang menggunakan kredit perbankan. Sayangnya, banyak developer di Indonesia tidak memimiliki modal yang mumpuni saat memulai usaha. "Akibatnya banyak developer yang mengandalkan perputaran uang masuk dari para konsumen pembeli rumah," ujar pria yang juga menjabat sebagai Komisaris Bank Negara Indonesia (BNI) tersebut.
Situasi inilah yang memberikan ruang besar bagi para spekulan untuk bermain. Sehingga banyak terjadi peristiwa perumahan baru yang baru saja dibangun sudah banyak yang dipesan. "Tapi yang memesan dan membayar uang muka tidak untuk rumah 1 unit. Bisa untuk banyak rumah sekaligus, bahkan ada juga yang langsung pesan 1 blok," tutup Revrisond.
Mengacu data Survey Harga Properti Residensial Kuartal IV 2015 yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), dana internal perusahaan tetap menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial. Sebanyak 61,52 persen pengembang memilih menggunakan dana internal perusahaan untuk membangun perumahan. Hanya 28,66 persen yang memilih menggunakan pinjaman kredit dari industri perbankan.
Sisanya dari nasabah sebanyak 7,31 persen, lainnya 1,71 persen dan terakhir pinjaman Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) sebanyak 0,80 persen.
Berita Terkait
-
Rumah Bukan Hanya Tempat Tinggal: Cara Mengubah Kamar Menjadi Ruang Pemulihan Jiwa
-
Lokasi Tes Kesehatan Manajer Kopdes Merah Putih 2026 yang Diakui, Salah Dikit Bisa Gugur
-
Di Lereng Merbabu, Saya Menemukan Rumah yang Tak Pernah Saya Cari Sebelumnya
-
Viral Rumah Angker Disulap Jadi Kos-kosan Mewah, Untung Rp336 Juta per Tahun
-
Jumlah Masyarakat Kelas Menengah RI Kian Merosot, Alarm Bagi Ekonomi?
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?
-
Orang Kaya Ngeluh LPG 12 Kg Naik, Bahlil: Sorry Yee!
-
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Tapi Dua Kapal Milik Pertamina Masih Tersandera
-
Dobrak Sekat Perbankan dan Telko, BTN-Indosat Berduet Percepat Inklusi Keuangan
-
Harga Plastik Naik, Bapanas Waspadai Dampaknya ke Harga Beras dan Gula
-
Selat Hormuz Dibuka, PIS Siapkan Rute Darurat agar 2 Kapal Pertamina Kembali Berlayar