Suara.com - Pemerintah Kabupaten Tangerang, Banten mengakui lahan pertanian produktif, terutama di bagian utara, terus berkurang setiap tahun karena digunakan untuk pembangunan perumahan dan pergudangan.
"Sulit untuk dibendung karena hak warga menjual demi memenuhi kebutuhan hidup mereka," kata Sekretaris Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Pemkab Tangerang Mawardi Nasution di Tangerang, Rabu (13/4/2016).
Marawardi mengatakan lahan pertanian berkurang terutama di Kecamatan Pasar Kemis, Rajeg, Sepatan, Mauk, Kosambi dan Sepatan Timur. Sejak tahun 2013 jumlah lahan pertanian produktif yang dapat ditanami padi dengan dua kali panen seluas 53.000 hektar.
Namun belakangan ini jumlah lahan tersebut menjadi 41.000 hektar dan mayoritas telah beralih fungsi menjadi pergudangan dan perumahan. Lahan produktif dijual warga kepada pengembang dengan harga relatif murah kemudian menguruk dengan tanah merah lalu dibangun kawasan perumahan.
Demikian pula tanah produktif tersebut dibangun pergudangan, seperti di Kecamatan Kosambi, Mauk, Sepatan, Pakuhaji dan Cikupa. Dia mengatakan pihaknya tidak dapat melarang warga agar mereka tidak menjual tanah produktif kepada pengembang atau pengusaha lain karena sudah merupakan hak.
Pihaknya menyesalkan lahan produktif dijual untuk perumahan dan pergudangan karena dikhawatirkan mengancam ketahanan pangan lokal. Meski begitu, pihaknya hanya dapat menyarankan kepada pemilik tanah supaya tidak menjual bila memang tidak untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.
"Tanah produktif dijual untuk membeli kendaraan, keperluan anak sekolah atau kebutuhan lainnya seperti membangun rumah," katanya.
Sementara itu, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengatakan pihaknya telah menyarankan kepada warga agar tidak menjual lahan produktif bila untuk kepentingan pabrik atau perumahan. Ahmed mengatakan, diupayakan agar tanah itu dipertahankan karena menunjang kebutuhan pangan setempat, apalagi sawah dapat menghasilkan dua kali panen.
Dia mengatakan bila tidak mendesak, sebaiknya tanah produktif tidak diperjualbelikan kepada pengusaha supaya ketahanan pangan lokal dapat dipertahankan. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- Sudah 4 Bulan Ditahan, Bupati Pati Sudewo Sampaikan Pesan Rindu dari Rutan KPK
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Cara Andi Hakim Tilap Dana Nasabah Rp28 Miliar, Modus 'BNI Deposito Investment'
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Sampai Waktu yang Tak Ditentukan, Gegara Ulah Trump
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Pemerintah Mulai Kaji Kereta Papua, Rute Sentani-Kota Jayapura Jadi Proyek Awal
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan