Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat. Dari tahun 2008-2013, tutupan lahan perkebunan bertambah mencapai 35 persen atau dari 7,4 juta ha pada tahun 2008 menjadi 10 ha pada tahun 2013. Tidak bisa dipungkiri, terjadinya pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya permintaan pasar global terhadap minyak sawit mentah (CPO) yang digunakan untuk berbagai macam produk. Namun sayangnya, pesatnya pertumbuhan berbanding terbalik dengan kondisi petani mandiri komoditi sawit.
Berdasarkan hasil kajian TuK INDONESIA yang dilakukan di Propinsi Riau tahun 2016, petani sawit menghadapi kendala untuk mengoptimalkan produktivitas dan menghasilkan TBS yang berkualitas. Hal ini disinyalir terjadi karena petani mandiri tidak mendapatkan pendampingan pengelolaan kebun yang baik dan akses terhadap pembiayaan terutama dari perbankan. Sulitnya mengakses pembiayaan perbankan dipicu oleh indikator penilaian bank yang cukup tinggi, seperti penilaian terhadap risiko gagal panen, harga jual TBS rendah dan biaya produksi semakin tinggi.
Rahmawati Retno Winarni, Direktur Program TuK INDONESIA menyampaikan bahwa, selain melihat akses petani ke perbankan, pihaknya juga hendak melihat apakah ada program pemerintah yang dialokasikan untuk pekebun mandiri. "Dimulai dengan memetakan kondisi petani kecil, akses pembiayaan usaha, aspirasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil dan tentunya untuk mendorong alternatif-alternatif ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup petani kecil mandiri dan pendidikan generasi penerusnya," kata Rahmawati di Jakarta, Selasa (31/5/2016).
Ichsan, Petani Mandiri, Kabupaten Siak, Riau mengungkapkan, bahwa selama ini di desa, masyarakat khususnya petani mandiri tidak banyak memiliki pengetahuan mengenai pembiayaan. Ternyata, pemerintah misalnya melalui BPDPKS (Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit) telah menyusun program pemberdayaan dan pembiayaan bagi petani, namun informasi ini nyatanya belum sampai ke level masyarakat bawah.
“Dengan adanya kajian mengenai akses pembiayaan pekebun mandiri ini, kami berharap bahwa kondisi kami di desa dapat di dengar oleh pemerintah dan perbankan. Saat ini, terutama di Desa kami, Empang Pandan, sedang dalam masa replanting dan butuh biaya banyak. Kami pernah mencoba mengajukan pinjaman ke perbankan, sayangnya penolakanlah yang kami dapatkan, harapannya program pembiayaan terutama terkait replanting dapat kami akses.” Ujar Ichsan, perwakilan petani Siak, Provinsi Riau saat berada di Jakarta, Selasa (31/5/2016).
Dalam pengelolaan kebun, petani mandiri lebih banyak mengandalkan modal pribadi, padahal dana tersebut tidak cukup memenuhi syarat good agricultural practices. Ketika petani mandiri mencoba untuk mengakses pembiayaan dari perbankan, demi menunjang pengeloaan kebun tersebut, petani mandiri malah dihadapkan dengan berbagai permasalahan, seperti masalah agunan, bunga pinjaman yang tinggi dan administrasi yang rumit.
Berita Terkait
-
Indonesia-Pakistan Targetkan Negosiasi CEPA, Dari Minyak Sawit hingga Tenaga Medis
-
Diprotes Pengusaha Sawit soal Aturan DHE, Purbaya Tantang Balik: Saya Kejar!
-
Bahlil Sebut Mandatori B40 Bikin Keuangan Negara Tokcer, Mau Setop Impor Solar di 2026
-
Pemkab Cirebon Bakal Ganti Sawit yang Terlanjur Ditanam dengan Mangga Gedong Gincu, Ini Alasannya
-
Larangan Sawit Jabar Vs Regulasi Nasional: Mengapa Surat Edaran Dedi Mulyadi Rawan Digugat?
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Terhubung Judol, 5.284 Akun QRIS Ditutup!
-
5 Fakta Kasus Timothy Ronald dan Dugaan Penipuan Kripto MANTA Network
-
Target Lifting Minyak Pertamina di 2025 Terlampaui, Pakar Bilang Begini
-
Harga Saham RMKE Ditarget 10.000, Ini Profil Pemiliknya
-
IBOS EXPO 2026 Siap Digelar Awal Tahun, Buka Peluang Bisnis dan Dorong Pertumbuhan Wirausaha
-
Lowongan Magang Bank BTN Terbaru Januari 2026, Terbuka untuk Semua
-
BRI Peduli Dukung Komitmen Kelola Sampah Modern Melalui Dukungan Operasional
-
Kementerian PU Bangun Sekolah Rakyat Tahap II di 104 Lokasi
-
Tak Cuma Impor Solar, Impor Avtur Juga Akan Dihentikan
-
Purbaya Buka Opsi Diskon Tarif Listrik untuk Korban Banjir Sumatra