- Bank Indonesia melaporkan Neraca Transaksi Berjalan (NTB) Kuartal III 2025 surplus US$4,0 miliar.
- Surplus NTB tersebut didorong oleh kuatnya ekspor non-migas dan penyempitan defisit neraca jasa akibat kunjungan wisatawan.
- Meskipun NTB surplus, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal III 2025 defisit US$6,4 miliar karena transaksi modal.
Suara.com - Kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan sinyal reversal yang kuat. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Neraca Transaksi Berjalan (NTB) Indonesia pada Kuartal III 2025 berhasil mencatatkan surplus sebesar US$4,0 miliar, atau setara dengan 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Capaian ini merupakan peningkatan signifikan dan berbalik arah drastis dibandingkan dengan Kuartal II 2025 yang mencatatkan defisit sebesar US$2,7 miliar (0,8 persen dari PDB).
Surplus NTB ini merupakan yang pertama sejak Kuartal I 2023 dan merupakan yang terbesar sejak Kuartal III 2022, sekaligus menjadi katalis utama penguatan nilai tukar Rupiah.
Surplus NTB didorong oleh beberapa faktor kunci yang menunjukkan resiliensi ekspor non-migas Indonesia:
Peningkatan Surplus Non-Migas: Peningkatan utama pada surplus neraca perdagangan didukung oleh kenaikan ekspor non-migas yang kuat.
Defisit Jasa Menyusut: Defisit neraca jasa menyempit, terutama didorong oleh peningkatan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Tantangan Migas: Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas justru meningkat akibat kenaikan harga minyak global.
Meskipun NTB mencatat surplus, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Kuartal III 2025 tercatat defisit sebesar US$6,4 miliar.
Defisit NPI ini dipengaruhi oleh transaksi modal dan finansial yang juga mencatatkan defisit sebesar US$8,1 miliar. Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia per September 2025 tercatat stabil di angka US$148,7 miliar.
Baca Juga: The Fed Bisa Bikin Rupiah Tembus Rp16.775 Hari Ini
Data surplus NTB yang diumumkan BI segera memberikan support positif bagi mata uang domestik. Pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/11/2025) di Jakarta, nilai tukar Rupiah bergerak menguat 5 poin atau 0,03 persen, mencapai posisi Rp16.731 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.736 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa Rupiah menguat berkat surplus NTB yang besar.
“Data yang menunjukkan surplus besar (surplus pertama dalam 10 kuartal) pada neraca transaksi berjalan Indonesia kemarin masih mendukung rupiah,” ungkap Lukman.
Potensi penguatan Rupiah ini juga dipengaruhi oleh pelemahan Dolar AS yang disebabkan oleh rentetan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang beragam. Data tersebut menimbulkan ketidakpastian bagi pasar global.
Salah satu data yang disorot adalah penambahan 119 ribu lapangan kerja pada bulan September di AS, yang jauh melampaui ekspektasi pasar.
Pertumbuhan lapangan kerja tersebut terutama didorong oleh sektor perawatan kesehatan (43 ribu), bantuan sosial (14 ribu), serta bar dan restoran (37 ribu).
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Purbaya Targetkan Legalisasi Rokok Ilegal Berlaku Mei 2026 demi Tambah Pendapatan Negara
-
Purbaya Siapkan Insentif Motor Listrik, Bagaimana Nasib Mobil Listrik?
-
Aturan Baru OJK Minta Bank Biayai MBG hingga KDMP, Purbaya Klaim APBN Masih Cukup
-
Kementerian ESDM Lelet Urus RKAB, Perhapi: Banyak Perusahaan Tambang Tak Berfungsi
-
Iran: Tak Ada Keistimewaan, Kapal Pertamina Bisa Bebas Jika Indonesia Negosiasi dengan IRGC
-
Iran Mau Buka Selat Hormuz, AS Sepakat Cairkan Dana Iran yang Dibekukan Qatar
-
Ekspor IKM Surabaya Tembus 2,73 Juta Dolar AS, SIL Festival 2026 Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal
-
Peran Influencer dalam Edukasi Aset Ekonomi Digital, Indodax Soroti Regulasi
-
Mengapa WFH di Jumat Akan Kurang Efektif Tekan Konsumsi BBM?
-
Apindo dan KSPSI Bahas RUU Ketenagakerjaan Bersama-sama