- Menkeu Purbaya memprediksi ada K/L yang akan mengembalikan anggaran lebih dari Rp 3,5 triliun karena rendahnya penyerapan.
- Defisit APBN per Oktober 2025 tercatat Rp 479,7 triliun atau 2,02% PDB, lebih rendah dari target 2,78%.
- Pendapatan negara mencapai Rp 2.113,3 triliun (73,7% Outlook), sementara belanja negara Rp 2.593,0 triliun (73,5% proyeksi).
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ada kementerian dan lembaga (K/L) Pemerintah yang akan mengembalikan anggaran lebih dari Rp 3,5 triliun di akhir tahun 2025.
Alasannya, Menkeu Purbaya mengatakan kalau masih ada K/L yang tidak mampu menyerap anggaran sebelum tutup buku Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2025.
"Saya duga sih akan ada yang balikkin lagi beberapa sampai akhir November kita monitor," kata Purbaya saat konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (21/11/2025).
Meski begitu Kemenkeu masih memantau penyerapan anggaran K/L hingga akhir tahun. Apabila ada kementerian dan lembaga yang bisa menyerap lebih cepat pada November atau Desember 2025, Purbaya bisa menambah anggaran K/L tersebut.
"Tapi kalau enggak ya kita gunakan untuk mengurangi defisit anggaran kita supaya lebih terkendali," ujarnya.
Sebelumnya Purbaya mengungkap terdapat sejumlah K/L yang secara sukarela mengembalikan anggaran sebesar Rp3,5 triliun kepada Kementerian Keuangan karena tidak sanggup menyerapnya hingga akhir tahun 2025.
"Ada beberapa yang sudah nyerah mengembalikan uang ke kita. Kita hitung-hitung ada Rp3,5 triliun yang dibalikin sampai sekarang karena mereka nggak mampu belanjain," kata Purbaya dalam media briefing di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2025).
Diketahui Purbaya mengumumkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 479,7 triliun atau 2,02% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per akhir Oktober 2025.
"Defisit APBN per 31 Oktober 2025 tercatat sebesar Rp 479,7 Triliun atau sebesar 2,02 persen dari PDB," kata Purbaya saat konferensi pers APBN Kita di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Baca Juga: Sepakat dengan Purbaya, Mendag Tegaskan Bayar Pajak Tak Bisa Jadikan Impor Pakaian Bekas Legal
Menkeu Purbaya menilai kalau angka defisit ini berada dalam batas aman dan terkendali, jauh lebih rendah dari target Outlook APBN sebesar 2,78 persen PDB saat ini.
"Mencerminkan komitmen disiplin fiskal yang kuat," katanya.
Ia memaparkan, pendapatan negara terkumpul Rp 2.113,3 triliun atau 73,7 persen dari Outlook tahun 2025 yang masih berjalan.
Rincinya, penerimaan pajak mencakup Rp 1.708,3 triliun atau 71,6 persen dari total pendapatan. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 402,4 triliun atau 84,3 persen.
Sedangkan dari sisi pengeluaran, belanja negara terealisasi Rp 2.593,0 triliun atau 73,5 persen dari proyeksi.
Pengeluaran itu terdiri dari belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.879,6 triliun atau 70,6 persen, lalu transfer ke daerah Rp 713,4 triliun atau 82,6 persen.
Berita Terkait
-
Sepakat dengan Purbaya, Mendag Tegaskan Bayar Pajak Tak Bisa Jadikan Impor Pakaian Bekas Legal
-
Purbaya Heran BTN Minta Tambah Dana SAL Padahal Penyerapan Minim: Aneh Juga Dia
-
Saham Bank BUMN Rontok Serempak, Investor Cuek usai Menkeu Purbaya Suntik Rp76 T
-
Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,04% Q3 2025, Belanja Pemerintah Ikut Ngegas
-
Alasan Menkeu Purbaya Ngotot Gali Pajak dari Ekspor Emas
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari