Suara.com - Harga minyak dunia jatuh ke posisi terendah dua bulan di New York, Selasa (19/7/2016) atau Rabu pagi WIB karena Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan global mengutip dampak keputusan Inggris meninggalkan Uni Eropa.
IMF mengatakan mereka memperkirakan ekonomi dunia akan ekspansi 3,1 persen tahun ini, lebih rendah dari perkiraan pada April. Pertumbuhan yang secara keseluruhan lebih lambat kemungkinan akan mengurangi ekspansi permintaan minyak mentah.
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, turun 59 sen menjadi 44,65 dolar AS per barel dibandingkan dengan penutupan Senin (18/7), terendah sejak pertengahan Mei.
Harga minyak juga jatuh di London, dengan kontrak Brent untuk pengiriman September turun 30 sen menjadi menetap 46,66 dolar AS per saham.
Dukungan pasar melemah untuk hari kedua berturut-turut setelah upaya kudeta militer di Turki memicu lonjakan akhir pekan dalam pembelian.
Segera setelah kegagalan kudeta, "penarikan para investor keuangan dan kelebihan pasokan produk minyak menempatkan harga di bawah tekanan," kata analis Commerzbank, Carsten Fritsch.
Pasar tetap waspada terhadap stok minyak mentah dan produk-produknya yang tinggi di seluruh dunia, dan dalam pengamatan laporan persediaan komersial AS yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Para pedagang terus memantau data persediaan minyak mentah AS, yang diperkirakan akan turun untuk pekan kesembilan berturut-turut.
Sebuah jajak pendapat Reuters terhadap para analis pasar minyak menunjukkan stok minyak mentah AS kemungkinan turun 2,2 juta barel pada pekan lalu.
Namun, penguatan dolar dan kelebihan bahan bakar minyak global mengimbangi dukungan perkiraan penurunan.
Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama, naik ke tertinggi dalam empat bulan pada Selasa, membuat minyak dalam denominasi dolar kurang menarik bagi pemegang mata uang lainnya.
"Persediaan global tetap sangat tinggi, dan dampak potensial dari peningkatan ekspor Iran, persaingan Saudi-Iran untuk pangsa pasar serta pertumbuhan ekonomi global yang melemah adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan harga minyak tergelincir dari level mereka saat ini," kata Moody Investors Service dalam sebuah catatan.
"Prospek jangka menengah kami (untuk harga minyak mentah) tetap tidak berubah, dan kami terus melihat ini sebagai waktu yang menantang bagi pelaku pasar minyak." (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Rupiah Terpuruk, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur
-
Industri Herbal RI Mulai Hilirisasi, Tak Mau Lagi Jual Bahan Mentah
-
Jualan Digital, Begini Strategi UMKM Biar Makin Cuan
-
Wall Street Ditutup Bervariasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
-
Mark Dynamics (MARK) Tebar Dividen Rp90 per Saham, Berikut Jadwalnya
-
IHSG Anjlok 4 Persen, BEI Minta Investor Tetap Tenang
-
Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Dunia Melandai
-
Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita
-
Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru
-
Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun