Suara.com - Harga minyak dunia mencatat kenaikan kuat untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (30/6/2016) atau Kamis pagi WIB, karena persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun lebih besar daripada yang diperkirakan, sedangkan ketakutan Brexit mulai surut.
Harga minyak menguat akibat berkurangnya kekhawatiran tentang keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa dan dampaknya pada ekonomi global.
Kenaikan minyak dipercepat setelah Departemen Energi AS melaporkan persediaan minyak mentah komersial negara itu turun 4,1 juta barel menjadi 526,6 juta barel dalam pekan yang berakhir 24 Juni. Penurunan tersebut sekitar dua kali lebih besar dari yang diharapkan.
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, melonjak 2,03 dolar AS menjadi berakhir di 49,88 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus, patokan global, menetap di 50,61 dolar AS per barel, juga naik tajam 2,03 dolar AS dari penutupan Selasa.
Penurunan persediaan minyak mentah itu merupakan yang keenam minggu berturut-turut di Amerika Serikat, konsumen minyak mentah terbesar di dunia, sebuah kabar baik mengejutkan di tengah kekhawatiran tentang pasokan global yang melimpah.
"Itu 'bullish' dengan sendirinya," kata Bob Yawger dari Mizuho Securities USA. Tapi dia juga menunjuk penurunan tajam dalam produksi minyak mentah AS 55.000 barel per hari.
"Itu adalah penurunan terbesar dalam produksi dalam negeri sejak Februari, sehingga jumlah itu sangat penting," katanya.
Pasar minyak mencerminkan "rebound" di pasar saham AS dan Eropa untuk hari kedua dari aksi jual brutal setelah Inggris secara mengejutkan memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa pada Kamis (23/6) lalu.
Para analis juga menyoroti pemicu kenaikan pasar dari ancaman pemogokan di Norwegia yang akan mempengaruhi persediaan, serta penutupan dua anjungan lepas pantai di Teluk Meksiko AS.
"Kemungkinan pemogokan di sektor hulu Norwegia, di mana perselisihan pembayaran yang melibatkan lebih dari 700 pekerja di tujuh ladang produksi, memiliki potensi untuk mempengaruhi produksi minyak gabungan sekitar 280.000 barel per hari -- hampir seperlima dari produksi negara itu," kata analis di JBC Energy. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Rupiah Turun ke Rp17.685, Dampaknya Bisa Bikin Kantong Warga Makin 'Kering'
-
IHSG Merosot Lagi di Awal Perdagangan, DSSA dan TPIA Terus Anjlok
-
Harga Emas Antam Meroket, Hari Ini Dipatok Rp 2.789.000 per Gram
-
Pertamina Operasikan Kapal Raksasa Pengangkut BBM, Bisa Angkut 160 Ribu KL
-
Harga Minyak Dunia Jatuh Usai Trump Buka Ruang Negosiasi dengan Iran
-
IHSG Bisa Rebound Hari Ini, Saham BUMI dan PTRO Masuk Rekomendasi
-
Rupiah Terpuruk, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur
-
Industri Herbal RI Mulai Hilirisasi, Tak Mau Lagi Jual Bahan Mentah
-
Jualan Digital, Begini Strategi UMKM Biar Makin Cuan
-
Wall Street Ditutup Bervariasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia