Mandiri secara ekonomi adalah bagian integral dari proyek politik yang hendak diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo.
Pada tataran program, swasembada daging sapi merupakan salah satu yang hendak dijadikan target pemerintahannya, yang realisasinya bisa dipatok dalam satu dekade ke depan.
Setahun silam, ketika melakukan kunjungan kerja ke sebuah perusahaan peternakan sapi di Cibodas, Bogor, Jawa Barat, Presiden Joko Widodo memprediksi Indonesia baru bisa berswasembada daging sapi dalam sepuluh tahun ke depan.
Jokowi tampaknya belajar dari pengalaman pemerintahan sebelumnya, yang terlalu ambisius menargetkan swasembada daging sapi pada 2005, kemudian direvisi menjadi 2010.
Namun, swasembada daging sapi yang dicanangkan itu tak pernah tercapai. Selalu saja laju kebutuan konsumsi daging sapi di dalam negeri lebih kencang dibandingkan laju produksi daging sapi.
Akibatnya impor pun tak terelakkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi itu. Tanpa didukung impor, harga daging sapi bisa melambung tinggi sehingga tak terjangkau bahkan oleh mereka yang berpenghasilan sedang, bukan kelompok warga miskin.
Apalagi di hari-hari besar seperti menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Tampaknya swasembada daging sapi bukan perkara sepele. Kenapa? Untuk menjadi negara yang sanggup memenuhi kebutuhan dalam negeri dalam konsumsi daging sapi, negara itu perlu membangun sistem perternakan sapi berskala besar dan modern sebagaimana yang dilakukan negara yang maju sebagai pengekspor daging sapi.
Produksi daging sapi di Indonesia selama ini tak berasal dari sistem peternakan sapi berskala besar dan modern seperti Australia, namun dari perusahaan peternakan skala madya dan peternakan rakyat.
Ketika Dahlan Iskan menjabat Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dia punya ambisi untuk membangun sistem peternakan sapi skala besar dan modern dengan ancang-ancang membuka lahan ribuan hektare di Kalimantan.
Baca Juga: Swasembada Daging Sapi Terancam Gagal Karena Surra
Namun rencana itu tinggal impian sampai akhirnya periode kedua pememrintahan SBY berakhir dan digantikan oleh Jokowi.
Tampaknya Jokowi ingin merealisasikan impian untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi itu dengan mendayagunakan kemampuan anak bangsa dalam penyediaan bibit sapi potong dari tahapan paling hulu.
Pada tahap itu, diperlukan penyediaan sebanyak dua hingga tiga juta sperma beku dari sapi pejantan pilihan yang ketersediaannya harus dilakukan secara kontinyu.
Jutaan benih itu lalu didistribusikan ke industri peternakan dan peternak rakyat di seluruh nusantara.
Namun mata rantai untuk sampai bisa menghasilkan seekor sapi unggul dari senokta sperma beku masih perlu penanganan sistematis yang melibatkan kemampuan berbagai disiplin keilmuan.
Pakar biologi, ilmu kedokteran hewan, ahli gizi untuk memproduksi pakan yang bernutrisi namun memenuhi kelayakan ekonomis hingga dukungan teknologi canggih untuk pemeliharaan dan perawatan sangat dibutuhkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan