BUMN Hadir Untuk Negeri ternyata masih sebatas slogan semata tanpa bukti nyata. Bank BUMN yang seharusnya dapat menjadi pelopor dalam penurunan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah ternyata masih belum terjadi.
Seperti diketahui sampai saat ini Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI 7 Days Repo sebanyak 2 kali per 22 Agustus 2017 4,5 persen dan 22 September 2017 turun lagi 4,25 persen. Seharusnya dengan penurunan ini akan mendorong perbankan untuk dapat juga menurunkan suku bunga KPRnya. Namun suku bunga acuan di beberapa bank termasuk Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN masih berada di kisaran 10,25 – 10,5 persen. Indonesia Property Watch mengakui dibutuhkan waktu untuk penyesuaian suku bunga tersebut. Namun dengan kondisi saat ini rasanya bank-bank BUMN bergerak sangat lambat.
“Bagaimana bisa mengerakkan sektor riil bila perbankan BUMN masih mematok suku bunga tinggi. Spread suku bunga sudah terlalu tinggi, harusnya pemerintah melalui BI dan OJK dapat melakukan sedikit ‘paksaan’ kepada bank BUMN agar dapat menurunkan suku bunga KPRnya,” kata Ali Tranghanda, CEO IPW di Jakarta, Selasa (3/10/2017).
“Di negara lain spread antara safe rate dengan bunga KPR antara 3 – 3,5 persen dibandingkan di Indonesia yang saat ini bisa mencapai 6 persen. Itu terlalu tinggi dan hanya menguntungkan perbankan semata,” tambah Ali.
Berdasarkan analisis yang dilakukan IPW, faktor suku bunga dan tingkat penjualan rumah memerlihatkan keterikatan yang kuat. Dengan adanya penurunan suku bunga, maka terdapat kemungkinan besar tingkat penjualan properti akan naik juga. Setiap penurunan 1 persen suku bunga KPR, maka pangsa pasar KPR diperkirakan akan naik 4 – 5 persen. Dengan suku bunga BI saat ini, maka sangat dimungkinkan terjadi penurunan suku bunga KPR sampai 1 digit menyentuh level 7 – 8 persen. Dengan demikian maka potensi pertumbuhan KPR akan sangat tinggi dapat mencapai 10 – 15 persen di tahun 2017.
"Pertumbuhan KPR ini harus terus digenjot ditengah perlambatan yang masih terjadi di pasar perumahan dan properti," ujar Ali.
Beberapa alasan yang dikemukan perbankan sehingga belum dapat menurunkan suku bunga memerlihatkan bahwa efisiensi perbankan nasional masih jauh dari baik. Penyebab lain terkait lambatnya penurunan suku bunga kredit adalah peningkatan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) sehingga membuat bank sangat waspada dalam mengelola portofolionya.
"Namun dengan tetap mematok suku bunga di level yang tinggi, maka sektor riil pun tidak akan berputar dan dikhawatirkan malah membuat NPL makin tinggi. Perbankan terutama BUMN harus segera menurunkan suku bunganya agar pasar properti dapat bergerak positif," tutup Ali
Baca Juga: Proses KPR Subsidi Lambat, BTN Dikeluhkan Banyak Pengembang
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Pasar Properti Ditopang Rumah Kecil dan Menengah
-
Dari Piutang hingga Tata Kelola, Ini PR Besar Perusahaan Sebelum IPO
-
Tarif Listrik Tak Naik sejak 2022, Kok Tagihan Bisa Membengkak?
-
QRIS Masuk Sektor Logistik, UMKM Agen Paket Ikut Kecipratan Manfaat
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%
-
Gaji Ke-13 PNS dan Pensiunan Kapan Cair? Kabar Gembira, Jadwal Pencairan PPPK Sudah Diumumkan
-
Purbaya Blak-blakan Restrukturisasi Utang Whoosh Lelet, Padahal Sudah Diputuskan