Suara.com - Sudah patut dan sepantasnya Anda berbangga diri karena memiliki kartu kredit. Di zaman seperti sekarang, kartu kredit merupakan bagian dari gaya hidup seseorang. Kartu kredit juga menggambarkan kesanggupan finansial seseorang. Tak jarang orang menyimpulkan bahwa pengguna kartu kredit adalah orang kaya.
Tidak semua orang diperkenankan untuk menggunakan kartu kredit, hanya mereka yang dipercaya oleh bank saja yang bisa memilikinya. Meskipun kartu kredit menawarkan banyak manfaat, Anda perlu berhati-hati pada manfaat tersebut. Anda diharuskan untuk tetap melek saat menggunakan kartu kredit. Kalau tidak, malapetaka akan datang menghampiri yang berakibat kerugian pada diri sendiri.
Di era serba canggih seperti sekarang, hampir setiap orang dapat berbuat kejahatan. Salah satunya adalah cybercrime pada pengguna kartu kredit. Sudah banyak orang yang diduga menjadi korban dari kasus ini. Kejahatan yang bersumber dari kartu kredit biasanya pencurian data-data pengguna. Data ini dapat dibobol oleh para hacker. Maka dari itu, Anda harus selalu menjaga kerahasiaan data kartu kredit, termasuk nomor PIN.
Mengamankan kartu kredit bukanlah perkara yang sulit. Pahami perihal pengamanan kartu kredit berikut agar Anda aman.
1.Menjaga Kerahasiaan Nomor CVV
Nomor CVV adalah tiga nomor yang terletak di belakang kartu kredit. Nomor ini sangatlah berguna jika Anda tidak ingin kartu kredit disalahgunakan oleh oknum tak bertanggung jawab. Kartu kredit seperti Visa atau MasterCard, umumnya memiliki tiga digit angka di belakang. Sedangkan kartu kredit seperti American Express, biasanya memiliki empat digit angka.
Untuk bertransaksi secara online, kode ini akan selalu diminta. Banyak orang beranggapan memberikan nomor CVV pada sebuah toko online itu aman. Padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar 100%. Anda juga harus tetap berhati-hati pada sebuah toko online. Terlebih lagi jika toko online tersebut masih baru dan belum terkenal. Bisa-bisa Anda masuk dalam perangkap yang berakibat pada kerugian diri sendiri.
Tak hanya nomor CVV, 16 digit nomor kartu kredit juga harus dirahasiakan. Jangan karena pamer kartu kredit, Anda jadi mengumbar-umbar 16 digit angka tersebut.
2.Dilarang Keras Memfotokopi Kartu Kredit
Memfotokopi kartu kredit adalah hal terkonyol yang pernah ada. Jika hal ini Anda lakukan, sudah pasti nomor kartu kredit tidak aman lagi. Nomor tersebut akan diketahui oleh pihak tempat fotokopi, sehingga bisa disalahgunakan jika ia menginginkannya. Lagi pula apa esensi Anda memfotokopi kartu kredit? Toh bank tidak pernah meminta Anda untuk melakukannya.
3.Merahasiakan Nama Gadis Ibu Kandung
Dalam pengisian data pembuatan kartu kredit, nama gadis ibu kandung akan selalu diikutsertakan. Sama halnya ketika kartu kredit bermasalah. Pihak bank khususnya customer service sudah pasti meminta nama gadis ibu kandung. Karena nama ibu kandung itu digunakan saat verifikasi kartu kredit, sebaiknya dirahasiakan dari sekarang. Jangan pernah mengumbar nama ibu kandung secara sembarangan. Terlebih lagi pada orang yang tidak dikenal.
4.Berlakukan Notifikasi Nomor Ponsel
Untuk mengetahui aktivitas transaksi, Anda diperkenankan untuk menerima notifikasi melalui nomor ponsel. Setiap transaksi yang dilakukan akan dikirimkan melalui notifikasi ponsel ini. Ketika Anda merasa tidak melakukan transaksi, Anda bisa langsung menghubungi penerbit bank untuk ditindaklanjuti.
Agar terjaga kerahasiannya, pastikan kalau nomor ponsel yang digunakan hanya diketahui oleh pihak bank saja. Tak apa jika orang lain mengetahui nomor tersebut. Namun, pastikan jika mereka tidak mengetahui bahwa nomor tersebut digunakan sebagai nomor valid untuk kartu kredit.
5.Mengetahui Sistem Transaksi dengan Kartu Kredit
Ada dua sistem transaksi yang diberlakukan di Indonesia. Pertama, magnetic stripe artinya suatu transaksi dianggap sah jika disertai dengan tanda tangan pemilik kartu kredit. Jadi, setiap transaksi yang dilakukan mengharuskan pemiliknya untuk tanda tangan pada transaksi tersebut. Hal ini berpotensi pada tindakan cybercrime. Di mana pemalsuan tanda tangan mungkin saja terjadi.
Kedua, chip adalah transaksi dianggap sah jika memasukkan nomor PIN. Sewaktu Anda membeli sesuatu di pusat perbelanjaan, Anda diharuskan untuk memasukkan PIN agar transaksi sah. Potensi cybercrime yang muncul adalah nomor PIN dapat diketahui oleh orang lain. Apalagi jika Anda tidak menutupi mesin EDC saat menekan nomor PIN tersebut.
Baca juga artikel Cermati lainnya:
Mengenal BPR dan Perbedaannya dengan Bank Umum
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Harga Genteng Rp4.300 Per Unit, Transaksi Awal Program Gentengisasi di Jabar Capai Rp12,6 Miliar
-
BRI Bantu Biayai Program Gentengisasi lewat KUR Perumahan
-
Manggis Subang Tembus China, LPDB Koperasi Siap Perkuat Pembiayaan Hingga Rp20 Miliar
-
Indonesia Emas 2045 Butuh Koperasi Modern dan Generasi Produktif
-
Satu Rumah Dihuni 10 Orang, Pemerintah Bedah 82 Hunian di Menteng Tenggulun
-
Proyek Percontohan Gentengisasi Prabowo Disorot, Kontraktor Jujur: Bukan Genteng, Kita Pakai Spandek
-
Kantongi Sertifikat, Pertamina Bisa Jual Avtur dari Minyak Jelantah Secara Global
-
RI-India Mau Kembangkan Industri Logam
-
Nasib THR Ojol Akan Ditentukan Selasa Pekan Depan
-
MKBD Tembus Rp 1 Triliun, KISI Perkuat Fundamental di Tengah Persaingan Sekuritas