Suara.com - Dua kecelakaan mematikan pesawat Boeing 737 Max yang jatuh di Indonesia dan Ethiopia beberapa waktu lalu merenggut lebih dari 300 nyawa dalam peristiwa tersebut.
Meski telah memakan banyak korban jiwa, namun sepertinya Boeing tak kapok dengan terus memproduksi 737 Max. Boeing memiliki harapan dapat segera memasarkan produknya tersebut pada akhir tahun ini.
Namun sepertinya harapan Boeing terganjal regulator AS yang secara tegas menyebut bahwa 737 Max tak bisa secepatnya dipasarkan dan digunakan untuk transportasi publik.
Tanpa menghiraukan peringatan regulator AS, Boeing yang berbasis di Seattle, Washington mengaku tidak akan memberhentikan produksi yang terkait dengan 737 Max.
Karena menurut Boeing, penghentian itu justru malah akan mempengaruhi stok pesawat di gudang penyimpanan dan menghambat pendistribusian ke pemesan.
"Mengembalikan 737 Max ke industri penerbangan adalah prioritas utama kami," kata Boeing seperti dilansir dari BBC.com, Selasa (17/12/2019).
"Kami tahu bahwa proses menyetujui 737 Max untuk kembali ke layanan, dan menentukan persyaratan pelatihan yang tepat, harus luar biasa teliti dan kuat, untuk memastikan bahwa regulator, pelanggan, dan masyarakat penerbangan kami memiliki kepercayaan diri dalam pembaruan 737 Max," Boeing menambahkan.
Peringatan dari Regulator AS bukan tanpa alasan, setelah kecelakaan pertama di Indonesia pada Oktober 2018, akan ada risiko kecelakaan lebih lanjut.
Selain itu Analis Otoritas Penerbangan Federal bahkan menyebut, jika 737 Max tetap digunakan sebelum dinyatakan aman, maka akan ada selusin kecelakaan lagi yang akan terjadi.
Baca Juga: Boeing Akhirnya Akui Kesalahannya Dalam Kecelakaan Pesawat 737 MAX
Dalam posisi ini, kinerja Boeing kata Analis industri perjalanan Henry Harteveldt bakal tergerus. Perintah otoritas AS untuk menunda produksi 737 Max juga akan memperkeruh kondisi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembuatan 737 Max.
"Ini benar-benar akan menciptakan kekacauan bagi maskapai penerbangan yang terlibat dalam hal ini, serta 600 perusahaan yang merupakan bagian dari rantai pasokan 737 Max dan Boeing sendiri," kata Harteveldt.
Penundaan produksi 737 Max telah menciptakan kerugian bagi Boeing sebesar 9 miliar dolar AS. Saham Boeing pun jeblok hingga 4 persen.
Yang lebih parah lagi, 400 pesawat 737 Max yang telah diproduksi hanya terparkir di gudang penyimpanan karena para maskapai yang telah memesan menunda untuk menerima 737 Max demi faktor keselamatan penerbangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Cara Andi Hakim Tilap Dana Nasabah Rp28 Miliar, Modus 'BNI Deposito Investment'
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Sampai Waktu yang Tak Ditentukan, Gegara Ulah Trump
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Pemerintah Mulai Kaji Kereta Papua, Rute Sentani-Kota Jayapura Jadi Proyek Awal
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan