Suara.com - Pelaku Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM) terus menyiapkan strategi bisnis guna mendukung kelangsungan ekonomi, khususnya saat menghadapi wabah Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia.
Begitu juga yang dilakukan oleh Koperasi Simpan Pinjam Balo' Toraja (Balo’Ta) yang berlokasi di Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
Menurut Bendahara KSP Balo'Ta Mika Mallisa, Covid-19 membuat orang sangat membatasi aktivitasnya, termasuk anggota dan pengurus koperasi Balo'ta.
“Karyawan berhati-hati dalam melaksanakan tugas, banyak pekerjaan yang seharusnya sudah dikerjakan menjadi tertunda. Jadi kondisi ini sangat mengganggu kinerja koperasi kami,” kata Mika, Jumat (3/4/2020).
“Pembatasan sosial atau social distancing sebagai salah satu upaya memutus penyebaran Covid-19, membuat kami tidak mungkin melakukan pendataan anggota koperasi kami yang terdampak, namun secara umum semua sektor usaha terkena dampak. Pasar-pasar tradisional sepi, warung-warung juga banyak yang tutup, semua orang khawatir melakukan banyak kegiatan,” lanjutnya.
Meskipun koperasi belum melakukan pendataan, namun awal April 2020 ini didapatkan informasi bahwa wilayah yang paling terdampak ada di pedesaan. Sehingga berakibat ke semua sektor ekonomi, hulu ke hilir, saling mempengaruhi. “Harapan kami pandemi Covid-19 secepatnya berlalu dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat dapat bergerak kembali,” tutur Mika.
Berbicara soal kebijakan khusus tentang pembayaran angsuran, koperasi yang memiliki 45 kantor cabang ini selalu mengedepankan asas kekeluargaan dalam mengambil kebijakan.
“Hal ini perlu dilihat dan diamati secara detail kasus per kasus baru kemudian menentukan kebijakan yang akan diterapkan. Mengingat besarnya jumlah anggota kami yakni sebanyak 33.000 orang, sehingga tidak bisa digeneralisir, namun disesuaikan kesepakatan dengan masing-masing anggota yang terdampak. Kami selalu memiliki alternatif pemecahan bagi tiap anggota,” jelas Mika.
Menurut Mika, di bulan Maret ini beberapa anggota koperasi telah menyampaikan keresahannya yakni kesulitan usaha karena penurunan pendapatan sebagai dampak Covid-19. Kebijakan social distancing kian menyulitkan beberapa sektor industri seperti pertanian, perdagangan, pariwisata dan industri jasa. Namun tingkat pengembalian angsuran pinjaman berdasarkan data koperasi bulan Februari 2020 tercatat cukup baik.
Baca Juga: Persiapan Ramadan, LPDB-KUMKM Pastikan Pelayanan Tidak Kendur
Sebagai salah satu koperasi simpan pinjam terbesar di Indonesia, Koperasi Balo’Ta mendapatkan kepercayaan mengelola pinjaman/pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) selaku satuan kerja Kementerian Koperasi dan UKM. Fasilitas pinjaman modal yang diberikan LPDB-KUMKM dimanfaatkan koperasi untuk membantu anggotanya yakni pelaku UMKM dalam membangun dan menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2020 telah tersalur dana bergulir LPDB-KUMKM ke Koperasi Balo’Ta mencapai Rp51 miliar, yakni sebesar Rp26 miliar pinjaman telah lunas, dan sisanya sebesar Rp25 miliar yang cair tahun 2019 dan 2020 telah terserap seluruhnya ke anggota koperasi. Seluruh pinjaman yang dimanfaatkan untuk usaha sektor produktif.
“Tidak ada perubahan pola angsuran anggota pasca social distancing, hanya saja banyak anggota kami yang menunda pengajuan permohonan atau menunda pencairan pinjamannya sampai kondisi baik kembali. Meskipun Koperasi Balo’Ta memiliki pinjaman lain selain LPDB-KUMKM yang diarahkan untuk kelompok petani pra sejahtera, namun kami sudah bersurat ke pihak tersebut untuk memohon penundaan pembayaran angsuran pokok dan bunga selama 6 bulan terhitung mulai April sampai dengan September 2020. Jadi kelanjutan pembayaran angsuran dilanjutkan di bulan Oktober 2020,” tutur Mika.
Demikian pula dengan pinjaman yang diperoleh dari LPDB-KUMKM. Mika mengatakan, pada tanggal 1 April 2020, Pengurus KSP Balo'ta secara resmi mengirimkan surat melalui email perihal Pengajuan Permohonan Penundaan Pembayaran Angsuran Pokok dan Bunga ke LPDB-KUMKM selama 6 (enam) bulan mulai bulan April 2020 sampai dengan September 2020.
“Pembayaran angsuran pokok dan bunga akan kami lanjutkan kembali di bulan Oktober 2020 mendatang. Besar harapan kami, LPDB-KUMKM dapat memahami kondisi kami dan menyetujui surat permohonan kami,” tutup Mika.
Tag
Berita Terkait
-
Jabat Dirut LPDB, Supomo Ingin Lembaganya Ramah Bagi Pelaku KUMKM
-
Supomo Gantikan Braman Setyo Jadi Dirut LPDB-KUMKM
-
Blusukan ke Sentra Peternakan Sapi Lampung, LPDB Siap Tampung Aspirasi
-
LPDB-KUMKM Tahun Ini Target Salurkan Rp 1,85 Triliun Dana Bergulir
-
Tingkatkan Ekonomi, LPDB Salurkan Dana Bergulir untuk KUMKM
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Kapal Mulai Keluar Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah
-
LPS Pastikan Keamanan Tabungan, Ratusan Juta Rekening Dijamin hingga Rp2 Miliar
-
Zulhas Respons Keluhan Mitra MBG, Janji Libatkan dalam Perumusan Kebijakan
-
Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Tembus Rp17.995, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed
-
DSI Diminta Jadi Operator Bisnis, Bukan Regulator Baru
-
Sinergi Mengemaskan Indonesia, Pegadaian - Pupuk Kaltim Kolaborasi Demi Pertumbuhan Berkelanjutan
-
IHSG Menghijau Lagi Dibuka ke Level 6.000, TPIA dan ASII Mulai Dibeli Asing
-
Waktunya Beli, Harga Emas Antam Dua Hari Nggak Berubah Masih Rp2.665.000/Gram
-
Emiten Konstruksi PPRE Catatkan Pendapatan Rp3,9 Triliun Sepanjang 2025
-
Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi