Suara.com - Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Hedy Rahadian, mengatakan, pemerintah akan menggunakan teknologi transaksi tol nontunai berbasis nirsentuh (Multilane Free Flow/MLFF) di seluruh ruas jalan tol di Indonesia, mulai tahun depan. MLFF merupakan tujuan terakhir transaksi tol nontunai, dimana pembayaran tol dilakukan pada kecepatan tempuh normal (tanpa berhenti atau melambat).
“Akhir tahun ini sudah akan kita lelang, tahun depan sudah bisa diterapkan. Ini akan sangat menolong operasional di jalan tol,” terang Hedy, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, penerapan MLFF memiliki kelebihan, diantaranya tidak perlu berhenti untuk transaksi, tidak ada antrean akibat transaksi di gerbang tol, kemudahan interoperabilitas dan pembagian pendapatan antar badan usaha jalan tol, efisiensi biaya operasional dan ramah lingkungan.
Mengenai progres pembangunan jalan tol di Indonesia, Hedy menilai, saat ini konstruksi jalan bebas hambatan sudah berjalan pada jalur yang tepat. Berdasarkan data Ditjen Bina Marga, pada 2015-2019, pembangunan jalan tol terjadi sepanjang 1.298 kilometer. Jumlah tersebut berhasil melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, yang sepanjang 1.027 kilometer.
Pembangunan jalan tol secara masif di Indonesia merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan indeks daya saing nasional dan indeks performa biaya logistik nasional. Hedy mengatakan, saat ini secara umum, untuk menempuh jarak 100 kilometer dibutuhkan waktu rata-rata selama 2,5 jam. Kondisi tersebut masih kalah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.
“Untuk itu, pemerintah berupaya keras menekan rata-rata waktu perjalanan 100 kilometer tersebut menjadi di bawah 2 jam, bahkan kalau memungkinkan di kisaran 1,5 jam seperti di Malaysia,” lanjutnya.
Untuk mencapai target tersebut, Hedy menjalankan strategi, diantaranya menjadikan jalan tol sebagai tulang punggung jalur logistik nasional. Hal tersebut didasarkan pada kondisi jalan nasional non tol yang masih mengalami banyak kendala, sehingga belum optimal dalam upaya mempercepat waktu tempuh rata-rata perjalanan di Indonesia.
Berita Terkait
-
Beri Nilai Tambah, Jembatan Gantung PUPR akan Dibangun dengan Lantai Kaca
-
Bulan Ini, Pembangunan Hunian bagi Warga Terdampak Bencana di Palu Selesai
-
Rumah Dihancurkan, Warga Benda Tangerang Tergusur Proyek Jalan Tol Kunciran
-
Ngedumel, Warga Benda Pasrah Angkut Barang Rumah Digusur Proyek Tol Jokowi
-
PUPR Bentuk Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Bidang Perumahan
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis