Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melakukan konservasi Kali Semarang dan memberi edukasi tentan pentingnya lingkungan sehat dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Semarang, Jawa Tengah. Upaya tersebut menjadi wujud komitmen BRI dalam kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat.
Direktur Utama BRI, Sunarso mengatakan, Program Konservasi Kawasan Sungai menjadi wujud kepedulian BRI, yang senantiasa berupaya memberikan value kepada masyarakat di sekitar area operasional perusahaan.
“Kami berharap, kehadiran BRI dapat memberikan dan mendeliver value di tengah masyarakat, salah satunya melalui Program Konservasi Kawasan Sungai di 19 titik di Indonesia,” ujarnya.
“Program Konservasi Kawasan Sungai yang dilakukan BRI ini mengacu konsep Triple Bottom Line, yang berdasar pada keberlanjutan, yakni Pro People, Pro Planet dan Pro Profit. Pro People merupakan kepedulian BRI kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat, Pro Planet, kepedulian BRI kepada lingkungan hidup, sedangkan Pro Profit untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui edukasi entrepreneurship, administrasi dan manajerial, akses go online, serta good corporate governance,” urai Sunarso.
Ia menambahkan, dalam program konservasi ini, BRI mengarahkan pada dua kegiatan besar yakni bersih-bersih sungai dan sampah jadi duit. Kegiatan bersih-bersih sungai terdiri atas aktivitas normalisasi/pembersihan/pengerukan sungai, pembangunan sarana dan prasarana fisik dan edukasi lingkungan sehat.
“Selain itu, BRI memberi pelatihan bagi masyarakat untuk mengelola sampah agar lebih bernilai ekonomis dan juga memberi bantuan mesin pencacah sampah sehingga program sampah jadi duit ini bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” imbuhnya.
Semarang merupakan satu kota di Indonesia yang menjadi lokasi implementasi tahap pertama Program Konservasi Kawasan Sungai oleh BRI. Secara total, ada 19 kota di Tanah Air yang menjadi target pelaksanaan program konservasi kawasan sungai oleh BRI sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Sementara itu, pemimpin wilayah BRI Semarang, Wahyu Sulistiyono, menjelaskan, Kali Semarang dipilih sebagai lokasi program karena berada tepat di tengah kota. Kondisi sungai kurang terawat, dengan lingkungan yang kurang tertata rapi, dan bantaran sungai becek sehingga terkesan kumuh.
Konservasi kawasan sungai difokuskan pada sungai/kali yang terletak di sepanjang pemukiman penduduk yang berfungsi sebagai daerah resapan penampung air hujan dan pengaliran air. Program Konservasi Kali Semarang ini dilaksanakan sejak November 2019 dan selesai pada Maret 2020.
Baca Juga: Transformasi Bank BRI Dapat Respons Positif di Mata Investor
“Saat kunjungan pertama kali untuk revitalisasi, kondisi kali tidak terawat, terdapat sampah dan airnya tidak mengalir. Kami bekerja sama dengan pemerintah kota melalui Dinas Pekerjaan Umum setempat dan mengajak dinas terkait untuk merevitalisasi sungai tersebut, lalu dilakukan pengerukan, pembersihan kali dari sampah-sampah, dibuat taman (Kalisari), ditata lebih rapi dan dibuat penghijauan,” ungkap Wahyu.
“Pekerjaan pembersihan, pengerukan dan bantuan sarana prasarana penghijauan, serta edukasi lingkungan sehat, semuanya sudah selesai. Sekarang Kali Semarang jadi bersih, kawasan di pinggirnya menjadi rapi dan tertata,” tambah Wahyu.
Progres fisik bersih-bersih Kali Semarang, saat ini sudah mencapai 100 persen. Kawasan di sepanjang pinggir Kali Semarang menjadi lebih tertata, hijau dan bersih, serta lestari.
Kawasan ini menjadi ruang terbuka hijau dan area taman bermain outdoor yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berjalan-jalan sore dan menikmati sunset. Konservasi Kali Semarang mendorong kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan sungai dan kebersihan lingkungan.
Selain bersih-bersih Kali Semarang, Kantor Wilayah BRI Semarang juga memberikan edukasi dan pemberdayaan mengolah sampah jadi duit pada Bank Sampah Waras, yang terletak sekitar 3 kilometer dari Kali Semarang dan dikelola masyarakat setempat.
“Kami memberikan bantuan dan mensosialisasikannya. Walaupun belum bisa dilakukan pengumpulan masa karena pandemi, BRI sudah memberikan eduaksi kepada pengurus bank sampah. Kita sampaikan ke masyarakat bahwa kalau sampah dilakukan pengolahan akan bisa bermanfaat dan memberdayakan ekonomi,” pungkas Wahyu.
Berita Terkait
-
Bank BRI : Penjualan SR013 Dapat Animo Cukup Besar dari Investor
-
4 Hal yang Didambakan Milenial dan Gen-Z dalam Bekerja
-
BRI Beri Program Cicilan Bunga Ringan bagi Peserta JKN-KIS
-
BRI Peduli Konservasi Sungai, Berdayakan Masyarakat Lestarikan Lingkungan
-
Bank BRI Melakukan Konservasi Sungai Pagarsih di Jawa Barat
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Pertamina Tegaskan Harga BBM Pertamax Cs Belum Naik pada 1 April
-
WFH ASN Daerah: Lokasi Ponsel Akan Dipantau, Wajib Respons Sebelum 5 Menit
-
Konflik Timur Tengah Paksa Pemerintah Terapkan B50 di Juli Tahun Ini
-
Rincian 8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global
-
Bahlil: RI Dapat Pasokan Minyak Baru Pengganti Timur Tengah
-
Skema MBG Diatur Ulang untuk Menghemat Rp20 Triliun di Tengah Krisis Energi
-
Usai ASN, Menaker Segera Berlakukan WFH untuk Karyawan Swasta
-
ASN Wajib WFH Sehari Mulai 1 April Besok
-
Rupiah Terus Melemah Akibat Konflik Timur Tengah, Kemenperin: Gunakan Skema LCT
-
Pemerintah Hemat Rp 260 Triliun dari Kebijakan WFH Hingga Pembatasan BBM