Suara.com - Perbandingan mengenai dampak kesehatan yang ditimbulkan dari pembakaran pada rokok dan pemanasan pada produk tembakau alternatif menjadi salah satu topik pembahasan dalam forum Scientific Summit on Tobacco Harm Reduction: Novel Products, Research & Policy ke-4 yang berlangsung dari 29 - 30 September 2021 secara daring.
Menurut pandangan berbagai ahli yang berpartisipasi dalam forum tersebut, produk tembakau alternatif yang dipanaskan memiliki risiko yang lebih rendah dari pada rokok.
Hal ini dikemukakan oleh Teemu Karkela, peneliti dari VVT Technical Research Centre of Finland yang menjelaskan, asap rokok mengandung partikel padat yang dihasilkan selama pembakaran. Sementara produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, menghasilkan aerosol atau uap. Pemanasan pada produk ini terjadi pada suhu di bawah 350 derajat Celcius.
"Produk tembakau alternatif tidak menghasilkan partikel padat karena dalam penggunaannya melalui pemanasan. Proses tersebut menghasilkan pengurangan yang sangat penting dari zat kimia berbahaya dan berpotensi berbahaya," ujar Karkela yang menjadi pemberi materi dalam forum tersebut dikutip Minggu (10/10/2021).
Dalam kesempatan berbeda, Dosen Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan ahli toksikologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Shoim Hidayat menjelaskan, aerosol yang dihasilkan dari penggunaan produk tembakau alternatif mengandung lebih dari 90 persen partikel cair. Adapun partikel pada asap rokok 75 persen kandungannya adalah air dan 25 persen lainnya terdiri dari nikotin 3 persen, gliserol 10 persen, serta komponen lainnya.
"Berdasarkan perbedaan komposisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa produk tembakau yang dipanaskan dengan suhu tidak lebih dari 3.500 C, proses fisiko-kimia yang terjadi adalah hanya penguapan (evaporasi). Dengan demikian, akan dihasilkan uap yang akan terkondensasi dan menghasilkan aerosol, bukan asap. Fakta ini diharapkan dapat disampaikan kepada masyarakat untuk meluruskan persepsi keliru yang ada selama ini bahwa produk tembakau alternatif sama berbahayanya dengan rokok," ujar dia.
Dengan minimnya risiko yang dihadirkan dari penggunaan produk ini, menurut Shoim produk tembakau alternatif layak dijadikan sebagai solusi alternatif bagi para perokok dewasa yang ingin mengurangi risiko penggunaan produk tembakau.
"Produk ini memang tidak sepenuhnya bebas risiko, namun dapat menjadi pilihan untuk beralih dari rokok. Dan perlu diingat bahwa nikotin bukan penyebab utama dari berbagai penyakit terkait merokok, melainkan TAR," kata dia.
Sependapat dengan Shoim, Head of Medical Community Alodokter, Alni Magdalena menambahkan, nikotin menyebabkan ketergantungan terhadap perokok. Namun, sumber risiko penyakit dari konsumsi rokok adalah asap rokok yang di dalamnya terkandung TAR. Zat ini dapat mempersempit saluran udara kecil di paru-paru atau bronkiolus yang berfungsi untuk menyerap oksigen.
"TAR dalam asap rokok mengandung berbagai bahan kimia karsinogen yang dapat memicu perkembangan sel kanker di tubuh," ujarnya.
Oleh karena itu, Alni menyarankan perokok dewasa untuk berhenti merokok. Namun jika sulit, perokok dewasa disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu sehingga mendapatkan bimbingan dalam berhenti merokok, baik secara langsung maupun dengan penggunaan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, vape, maupun snus.
“Perokok dewasa bisa beralih ke produk tembakau alternatif, dengan begitu asupan nikotin tetap terpenuhi tanpa harus terpapar TAR, sambil secara bertahap mengurangi adiksi nikotin sesuai dengan anjuran dokter,” tutupnya.
Berita Terkait
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Setor Rp213 Triliun ke Negara, IHT Kini Tertekan Kebjakan Pemerintah
-
Tekan Beban Klaim BPJS Kesehatan, Produk Tembakau Alternatif Jadi Opsi Realistis?
-
Buruh Tembakau Minta Moratorium Cukai 3 Tahun, Wanti-wanti PHK Massal
-
Strategi Harm Reduction: Solusi Jitu Tekan Risiko Kesehatan dan Jaga Produktivitas Pekerja
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang
-
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu
-
Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite