Suara.com - Program Taxi Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo disambut petani dan pelaku usaha pertanian di Sumatera Selatan (Sumsel). Fasilitas ini merupakan program penyediaan alsintan secara mandiri melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Ini ide brilian Mentan agar masyarakat bisa memiliki sendiri atau bersama-sama memiliki Taxi Alsintan," kata Direktur Alsintan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Andi Nur Alam Syah, dalam rapat koordinasi dan pemantapan Program KUR Taxi Alsintan di Palembang, Sumsel, Kamis (24/2/2022).
Program ini bertujuan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui pengucuran KUR alsintan, sehingga petani tidak lagi tertuju kepada bantuan yang berasal dari APBN, tetapi bisa mengadakan pembelian sendiri dengan insentif dari KUR.
Ia mengatakan, permintaan petani pada alsintan sangat besar. Sayangnya, dana pemerintah untuk pendistribusian alsintan ini sangat terbatas, yang mana untuk tahun ini saja, anggaran belanja alsintan kini tersisa Rp600 miliar.
“Taxi Alsintan merupakan terobosan dalam membantu petani dalam pengadaan alsintan secara mandiri, sehingga tak lagi seterusnya bergantung kepada APB,” terangnya.
Namun lebih dari itu, sambung jebolan sarjana teknologi pertanian Universitas Gajah Mada ini menegaskan, Program Taxi Alsintan menunjukkan kehadiran negara sekaligus menghadirkan semangat gotong royong antara semua pihak, baik pemerintah, dalam hal ini Kementan, dinas pertanian daerah, petani, perbankan, dan penyedia alsintan..
"Inti dari Taxi Alsintan adalah bagaimana kita mengelaborasi, bekerja bersama sehingga pembangunan mekanisasi pertanian bisa terus berlanjut. Kami bersyukur, sekarang makin banyak petani yang inisiatif membeli alsintan untuk milik sendiri atau pun untuk disewakan. Dengan situasi yang serba sulit saat ini, mekanisasi pertanian tidak bisa lagi bertumpu kepada APBN dan APBD. "Tentunya akan beda antara bapak beli sendiri. Rasa memilikinya lebih besar. Jadi ketika rusak, bapak pasti perbaiki. Beda dengan APBN," katanya.
Nur Alam minta pada perusahaan penyedia alsintan untuk mulai berpikir membangun market sendiri langsung ke petani. Bukan mencari-cari proyek pembelian alsintan yang bersumber dari APBN.
“Bapak (pelaku usaha) harus malu sama kepada petani kita, yang tidak lagi mau dibantu dengan APBN. Jangan bergantung dari APBN. Perusahaan penyedia alsintan harus merubah pola bisnisnya. Caranya dengan memperluas pasar marketnya. Di sini, penyedia bisa terlibat dengan membantu insentif dalam meringankan uang muka dalam pembelian KUR alsintan, yang bagi petani sebenarnya masih cukup berat dengan aturan DP 30 persen. Ini kalau sama-sama tidak menyadari, sama-sama akan mati," jelasnya.
Baca Juga: Promosi di Mesir, Kementan Raup Kontrak Dagang Rp4,7 Triliun
“Kami usul, penyedia alsintan memberikan insentif berupa pinjaman DP kepada petani untuk menutupi kekurangan DP petani dalam pembelian alsintan," pinta Nur Alam.
Sementara itu, Ketua Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA) Desa Talang Makmur, Kabupaten OKI, Hasan menyatakan bersyukur, perbankan dan penyedia alsintan mau memberikan kemudahan untuk pembelian alsintan menggunakan KUR. Hasan sendiri membeli satu unit combine harvester senilai Rp500 juta untuk pengolahan lahan miliknya seluas 12 hektare, dengan masa kredit 3 tahun. Rencananya, combine atau mesin panen ini juga akan disewakan ke petani lain dengan harga Rp1 juta per hektare.
"Tempat kami sudah survei, tinggal ACC Bank Sumsel dan alatnya. Alhamdulillah, dapat keringanan DP 20 persen dari PT Corin dengan tanpa bunga," katanya.
Hasan optimis mampu membayar angsuran KUR untuk alsintan. Apalagi bisnis alsintan ini sangat menguntungkan. Dari bisnis alsintan, ia bisa mengantongi keuntungan Rp50 juta per satu kali musim tanam.
"Combine ini sangat membantu, karena setelah dipakai untuk panen, bisa disewa ke petani lain," jelasnya.
Ketua UPJA Sumber Mulia, Desa Muara Telang Agus Cahyono mengaku, pihaknya mengajukan KUR untuk pengadaan ekskavator senilai Rp750 juta. Alat ini bukan hanya untuk usaha saja, namun juga digunakan bersama-sama untuk meningkatkan kualitas hidup petani di desanya.
Berita Terkait
-
Mentan Ingin Para Petani Bisa Hasilkan Pupuk Organik secara Mandiri
-
Banyak Mengalami Tantangan, Kementan Terus Upayakan Kebutuhan Kedelai Nasional
-
Kuota Pupuk Subsidi Terbatas, Pemprov Lampung Bantu Petani dengan Pupuk Non Subsidi
-
Untuk Mewujudkan Ekspor Beras di 2022, Kementan Siap Optimalisasi Alsintan dan Jaringan Irigasi
-
Terkait Perubahan Iklim yang Ancam Ketahanan Pangan, Gus Muhaimin Minta Kementan Waspada
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Trump Isyaratkan Damai dengan Iran, Harga Minyak Kini di Bawah 100 Dolar AS
-
Investor Belanda Jajaki Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Ekonomi di Papua
-
Tertekan Data AS dan Sentimen Domestik, Kurs Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.180
-
Harga Emas Antam Terus Terjungkal Hari Ini, Dibanderol Rp 2.868.000/Gram
-
Indonesia Kejar Pasar Amerika, Ekspor Tekstil Jadi Andalan Baru
-
IHSG Bangkit pada Jumat Pagi, Cek Saham-saham yang Cuan
-
Tren Anabul Jadi Anggota Keluarga, OJK Sebut Potensi Besar Asuransi Hewan Peliharaan
-
OJK Minta Pinjol Kasih Utang ke Program MBG
-
RI Borong Minyak Rusia, Soal Volume Bahlil Enggan Jawab
-
'Cuci Gudang' BUMN Energi, Anak Usaha Pertamina Dipangkas dari 1.000 jadi 250