Suara.com - Perusahaan otomotif dunia, Toyota Motor Corp menangguhkan operasi pabrik di Jepang terhitung sejak Selasa (1/3/2022) akibat serangan siber atau dugaan hacker pada pemasok suku cadang plastik dan komponen elektronik diduga terkena serangan siber.
Dengan keputusan ini, diperkirakan membuat Toyota kehilangan sekitar 13 ribu produksi mobil. Hingga kini, belum diketahui siapa dalang serangan ini dan motif mereka.
Serangan siber ini terjadi setelah Jepang bergabung dengan sekutu Barat dalam menekan Rusia setelah menginvasi Ukraina, meskipun tidak jelas apakah serangan itu saling berkaitan.
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, dikutip dari Reuters, mengatakan pemerintahnya akan menyelidiki insiden tersebut dan apakah Rusia terlibat.
"Sulit untuk mengatakan apakah ini ada hubungannya dengan Rusia sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh," kata Kishida.
Pada hari minggu lalu, Kishida mengumumkan bahwa Jepang akan bergabung dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain dalam memblokir beberapa bank Rusia untuk mengakses sistem pembayaran internasional SWIFT.
Dia juga mengatakan Jepang akan memberikan Ukraina 100 juta dolar AS dalam bentuk bantuan darurat.
Seorang juru bicara pemasok, Kojima Industries Corp, mengatakan tampaknya telah menjadi korban dari beberapa jenis serangan cyber.
Seorang juru bicara dari Toyota menggambarkannya sebagai "kegagalan sistem pemasok."
Baca Juga: Konflik Ukraina - Rusia Ganggu APBN, Beban Subsidi BBM dan Listrik Bisa Membengkak
Perusahaan belum tahu apakah penghentian di 14 pabriknya di Jepang, yang menyumbang sekitar sepertiga dari produksi globalnya, akan berlangsung lebih dari satu hari, juru bicara itu menambahkan.
Beberapa pabrik yang dioperasikan oleh afiliasi Toyota Hino Motors dan Daihatsu termasuk dalam penutupan.
Toyota, yang pernah mengalami serangan dunia maya di masa lalu, adalah pelopor manufaktur Just-In-Time dengan suku cadang yang datang dari pemasok langsung ke jalur produksi.
Sebelumnya, serangan siber terhadap perusahaan Jepang di masa lalu juga pernah terjadi, termasuk serangan terhadap Sony Corp pada tahun 2014, yang mengekspos data internal dan mematikan sistem komputer.
Amerika Serikat menyalahkan Korea Utara atas serangan itu, yang terjadi setelah Sony merilis "The Interview", sebuah komedi tentang rencana untuk membunuh pemimpin rezim Kim Jong Un.
Penghentian produksi Toyota terjadi karena pembuat mobil terbesar di dunia itu sudah menangani gangguan rantai pasokan di seluruh dunia yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, yang telah memaksanya dan pembuat mobil lain untuk mengekang produksi.
Toyota bulan ini juga melihat beberapa produksi dihentikan di Amerika Utara karena kekurangan suku cadang yang disebabkan oleh protes pengemudi truk Kanada.
Berita Terkait
-
Wow! Amerika Serikat Tawarkan Bantuan ke Ukraina, dari Senjata Hingga Sanksi Berat untuk Rusia
-
Balas Sanksi Uni Eropa, Rusia Tutup Wilayah Udaranya Untuk 36 Negara
-
Jepang Beri Sanksi Tegas, Aset Bank Sentral Rusia Dibekukan
-
Imbas Invasi Ukraina, Ini Deretan Sanksi Dunia Ke Rusia: Bank Dibekukan, Ekspor Dilarang, Tim Bola Tak Boleh Main
-
Konflik Ukraina - Rusia Ganggu APBN, Beban Subsidi BBM dan Listrik Bisa Membengkak
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Amar Bank Tebar Dividen Rp110 Miliar
-
Makan Biaya Rp553 Miliar, Bandara International Minangkabau Dipercantik Nuansa Minang
-
UMKM RI Diajari Smart Factory oleh Korea Selatan, Produksi Siap Berbasis AI
-
Tak Cuma Pegadaian, Kini Masyarakat Punya Pilihan Baru untuk Gadai Barang
-
Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan
-
Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond
-
Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik
-
Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM
-
Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi
-
Kejar Pembiayaan Hijau, JAPFA Jadi Pelopor Integrasi LCA dalam Strategi Bisnis