Suara.com - Harga minyak rebound di perdagangan Asia pada Jumat (4/3/2022) terdampak kekhawatiran sanksi Barat yang dapat mengganggu ekspor minyak Rusia melebihi kemungkinan lebih banyak pasokan Iran. Sementara laporan kebakaran pembangkit nuklir di Ukraina menakuti pasar keuangan.
Saham global jatuh dan harga minyak naik di tengah tanda-tanda eskalasi konflik Rusia-Ukraina setelah laporan kebakaran di pembangkit listrik tenaga nuklir Ukraina menyusul serangan oleh pasukan Rusia.
Saat ini, kekhawatiran akan potensi bencana nuklir di pembangkit listrik terbesar di Eropa, telah menyebar ke seluruh ibu kota dunia sebelum pihak berwenang mengatakan api di sebuah gedung yang dikabarkan telah padam.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik setinggi 114,23 dolar AS per barel dan pada pukul 07.55 GMT menguat 73 sen atau 0,7 persen, menjadi diperdagangkan di 111,19 dolar AS per barel.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April bertambah 1,21 dolar AS atau 1,1 persen, menjadi diperdagangkan di 108,88 dolar AS per barel setelah menyentuh tertinggi 112,84 dolar AS di awal sesi.
Harga minyak mentah akan mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak pertengahan 2020, dengan WTI melonjak 19 persen dan Brent terangkat 13 persen, setelah mencapai level tertinggi dalam satu dekade minggu ini.
Minyak naik di tengah kekhawatiran bahwa sanksi Barat terhadap Rusia atas konflik Ukraina akan mengganggu pengiriman dari Rusia, pengekspor minyak mentah dan produk minyak terbesar di dunia. Aktivitas perdagangan minyak mentah Rusia melambat karena pembeli ragu untuk melakukan pembelian akibat sanksi dan sementara Presiden AS Joe Biden mendapat tekanan yang semakin besar untuk melarang impor minyak Rusia.
"Eskalasi perang Rusia di Ukraina tidak hanya menyebabkan risiko geopolitik, tetapi juga menambah kekhawatiran inflasi yang sudah meningkat serta mendorong peningkatan premi risiko," kata analis RBC Capital Christopher Louney dalam sebuah catatan.
Lebih banyak pasokan minyak dapat ditambahkan dari pelepasan terkoordinasi 60 juta barel cadangan minyak oleh negara-negara maju.
Baca Juga: Indonesia Masih Jadi Negara Konsumtif, Konflik Ukraina Buat Ekonomi Negara Makin Terdesak
Pemerintah Jepang mengatakan pada hari ini untuk melepaskan 7,5 juta barel minyak, meskipun itu adalah sebagian kecil dari permintaannya.
Harga berayun dalam kisaran 10 dolar AS pada Kamis (3/3/2022) tetapi menetap lebih rendah untuk pertama kalinya dalam empat sesi karena investor fokus pada kebangkitan kesepakatan nuklir Iran, yang diharapkan dapat meningkatkan ekspor minyak Iran dan mengurangi pasokan global yang ketat.
"Kenaikan harga terkait dengan gangguan aktual dan yang dirasakan terhadap ekspor minyak Rusia seharusnya lebih dari mengimbangi penurunan harga dari potensi pasokan minyak mentah Iran yang lebih banyak," kata analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar dalam sebuah catatan.
Dhar memperkirakan Brent akan mencapai rata-rata 110 dolar AS per barel pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini, tetapi mengatakan "risikonya adalah harga naik di atas perkiraan kami dalam jangka pendek", menambahkan bahwa masuk akal Brent berjangka bisa mencapai 150 dolar AS.
Berita Terkait
-
BUMN Bisa 'Babak Belur' Terdampak Konflik Rusia - Ukraina, Pakar: Sektor Batu Bara Harus Bersiap
-
WHO Sebut bahwa Konflik Rusia-Ukraina Bisa Tingkatkan Penularan Virus Corona, Begini Pemaparannya
-
Rusia Dapat Sanksi Ekonomi, WNI di Rusia Ikut Terdampak
-
Dubes Rusia: 8 Tahun Militer dan Neo Nazi Ukraina Membunuhi Warga Donbas, Kenapa Barat Tak Pernah Berteriak?
-
Indonesia Masih Jadi Negara Konsumtif, Konflik Ukraina Buat Ekonomi Negara Makin Terdesak
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Mimpi Besar Prabowo Terancam, World Bank Beri Catatan Ini
-
Banyak Investor Ambil Untung, IHSG Merah Lagi di Sesi I
-
Berapa Tarif yang Dikenakan Iran untuk Lewati Selat Hormuz?
-
BRI Jadi Merek Paling Bernilai di Indonesia Versi Brand Finance Global 500 2026
-
Akui Harga Plastik Naik, Industri Mulai Cari Bahan Baku Lain di Luar Timur Tengah
-
Harga Avtur Terbang 70 Persen, Tarif Kargo Udara Ikut Melambung 40 Persen
-
Permata Bank Bagi Dividen Rp1,226 Triliun hingga Romba Direksi
-
Harga Plastik Melonjak, Komisi XII DPR Koordinasi dengan Kemenperin
-
Harga Pangan Bergerak Liar, Bawang Naik Tajam, Cabai Ambruk
-
Bahlil Jamin LPG Tak Langka, Stok Sudah di Atas 10 Hari