Suara.com - Operasi militer Rusia ke Ukraina yang sudah berjalan selama satu pekan belakangan menurut pakar akan memberi dampak pada ekonomi Indonesia.
Hal ini terutama berasal dari volatilitas yang terjadi pada beberapa barang akibat dari konflik Ukraina. Selain itu, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga akan merasakan dampak langsung dari konflik ini.
Disampaikan oleh Ekonom Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, dampak mungkin tidak secara kasat mata terlihat.
"Pertama tentu dampak tidak langsung dalam hal positif akan diberikan kepada BUMN yang bergerak di bidang komoditas batu bara seperti misalnya Antam dan MIND ID," ujar Yusuf saat dikonfirmasi Warta Ekonomi, Kamis (3/3/2022).
Menurutnya, hal ini karena konflik antara Rusia dan Ukraina mendorong kenaikan harga energi global. Namun demikian, kenaikan harga energi juga bisa memberikan dampak ke penyesuaian harga energi dari perusahaan BUMN, seperti PLN dan Pertamina.
Untuk informasi, kenaikan harga batu bara berpotensi berdampak pada kenaikan ongkos produksi penyediaan listrik dari PLN.
"Begitupun dengan Pertamina, kenaikan harga minyak internasional juga akan mempengaruhi harga jual," jelasnya dikutip dari Warta Ekonomi.
Ia menambahkan, kenaikan harga energi bisa berdampak pada inflasi global lebih utama ke negara maju seperti AS. Dengan kenaikan inflasi, maka The Fed berpotensi akan lebih cepat menaikkan suku bunga acuan.
"Kenaikan suku bunga acuan bisa mendorong capital outflow dari negara emerging market seperti Indonesia yang pada muaranya akan mendorong terdepresiasinya nilai tukar Rupiah," unhkapnya.
Baca Juga: Kisah Lahirnya Liga di Crimea Akibat Konflik Ukraina-Rusia
Dengan begitu, ada hal yang perlu diantisipasi oleh BUMN yang mempunyai Utang Luar Negeri dalam bentuk USD, apalagi jika jatuh tempo utangnya terjadi dalam waktu dekat ini/tahun ini.
"Penyesuain subsidi perlu dilakukan entah dengan membiarkan pagu anggaran subsidi atau melakukan penyesuaian subsidi dengan melaluka APBN-perubahan. Sementara bagi BUMN yang belum melakukan hedging (lindung nilai), bisa dipertimbangkan untuk dilakukan saat ini," tutupnya.
Berita Terkait
-
WHO Sebut bahwa Konflik Rusia-Ukraina Bisa Tingkatkan Penularan Virus Corona, Begini Pemaparannya
-
Rusia Dapat Sanksi Ekonomi, WNI di Rusia Ikut Terdampak
-
Dubes Rusia: 8 Tahun Militer dan Neo Nazi Ukraina Membunuhi Warga Donbas, Kenapa Barat Tak Pernah Berteriak?
-
Indonesia Masih Jadi Negara Konsumtif, Konflik Ukraina Buat Ekonomi Negara Makin Terdesak
-
Kisah Lahirnya Liga di Crimea Akibat Konflik Ukraina-Rusia
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi
-
Jumlah Saham HSC Membengkak Jadi 51 Emiten Pasca Pengesahan Aturan Baru BEI
-
Rombak Aturan Pasar Modal, OJK Target Demutualisasi Tuntas September 2026
-
Saham HSC Dilarang Masuk LQ45, Puluhan Emiten Jumbo Kena Dampak!
-
Analis Sebut IHSG Seharusnya Jauh Lebih Tinggi, Ini Alasannya
-
Purbaya Minta Investor Beli Saham dan Jual Dolar, Klaim Ekonomi RI Mulai Diakui Internasional
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
-
Inflasi Juli 2026 Naik ke 3,34%, Tiket Pesawat hingga Harga Beras Jadi Pemicu
-
Amman Mineral Bidik Produksi 16 Ton Emas dan 162.000 Ton Tembaga di 2026
-
Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM