Suara.com - Ketimpangan upah atau gaji antara CEO dengan pekerja lapis bawah makin lebar saja ditengah kondisi pemulihan ekonomi global dari pandemi Covid-19.
Kondisi ini disebabkan karena para bos eksekutif yang gajinya terpotong selama pandemi Covid-19 mulai bisa memulihkan pendapatan mereka yang hilang pada tahun lalu.
Menurut laporan Equilar 100 para CEO menghasilkan 254 kali lebih banyak upah dibandingkan rata-rata upah pekerja pada tahun 2021, angka ini naik 7 persen dari tahun sebelumnya.
Pada tahun 2021, kompensasi CEO rata-rata mencapai USD20 juta atau meningkat 31 persen dari tahun sebelumnya, karena lonjakan besar dalam penghargaan saham dan bonus tunai berdasarkan kinerja pasar dan produktivitas perusahaan.
"Pembayaran CEO terdiri dari upah, serta bonus yang sangat menguntungkan, insentif jangka panjang dan, yang paling penting, opsi saham, yang terdiri dari sekitar 85 persen dari kompensasi CEO, menurut Lawrence Mishel, pakar kebijakan publik dari Economic Policy Institute, dikutip CNBC, Selasa (19/4/2022).
Sebagai perbandingan, gaji CEO turun hanya 1,6 persen antara 2019 dan 2020 karena pemotongan pandemi, dari USD15,7 juta menjadi USD15,5 juta.
Sementara kompensasi para pekerja rata-rata di perusahaan Equilar 100 naik dari USD68.935 pada tahun 2020 menjadi USD71.869 pada tahun 2021, meningkat sekitar 4 persen.
Equilar mengatakan lonjakan ini sebagian disebabkan oleh perusahaan yang menawarkan bonus dan pembayaran tunai lainnya dalam pemulihan ekonomi pandemi yang melihat peningkatan permintaan konsumen dan pasokan pekerja yang diperketat.
"Kesenjangan yang melebar menunjukkan manfaat dari keuntungan perusahaan tetap berada di puncak sementara pekerja, banyak dari mereka berada di garis depan krisis, belum menuai hasilnya,” Sarah Anderson, pakar kompensasi eksekutif di lembaga think tank progresif Institute for Studi Kebijakan
Baca Juga: Gaji Ke 13 dan Tukin PNS 2022 Kapan Cair? Ini Jadwal Pencairan dari Kemenkeu
“Mereka benar-benar melepaskan diri pada tahun 2021 dan fokus untuk membuat eksekutif mereka bahagia dan tidak terlalu khawatir tentang apa yang terjadi di sisi pekerja,” katanya.
“Dalam jangka panjang, dan bahkan dalam jangka pendek, itu tidak akan baik untuk keuntungan.” pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Resmi! Lurah Kalisari Dinonaktifkan Buntut Skandal Tangani Laporan di JAKI Pakai Foto AI
-
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
-
Serangan Brutal di Istanbul, 3 Orang Tewas di Dekat Konsulat Israel
-
Piala AFF 2026: Kalahkan Malaysia, Timnas Futsal Indonesia Lolos ke Semifinal
-
Memo Rahasia: Ayatollah Mojtaba Khamenei Kritis, Koma, Dirawat di Qom
Terkini
-
Pemerintah Belanja Ekspansif Sembari Jaga Disiplin Fiskal, Ekonomi Beri Sinyal Positif
-
Pemerintah Kebut Restrukturisasi BUMN, 15 Perusahaan Logistik Akan Digabung Jadi Satu
-
Rupiah Babak Belur ke Rp17.100, BI Siapkan Instrumen Operasi Moneter
-
Lowongan Kerja BRI Terbaru April 2026, Terbuka untuk Semua Jurusan
-
Ekspor Produk Perikanan Capai 6,27 Miliar Dolar AS di 2025, Tertinggi dalam 5 Tahun
-
Siapa PT Yasa Artha Trimanunggal? Pemenang Pengadaan Motor Trail Listrik MBG
-
Restrukturisasi Utang Whoosh Rampung, Dony Oskaria Bocorkan Skemanya
-
Pengujian B50 di Alat Berat Sukses, Indonesia di Ambang Swasembada Energi
-
Kemenhum Aktifkan Notifikasi Otomatis Perpanjangan Merek HKI Online
-
Transaksi Kripto RI Anjlok, Apa yang Terjadi?