Suara.com - Harga minyak dunia naik tipis pada akhir pekan lalu karena rencana larangan Uni Eropa terhadap minyak Rusia dan pelonggaran penguncian Covid-19 di China melawan kekhawatiran bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi akan merugikan permintaan.
Mengutip CNBC, Senin (23/5/2022) minyak brent berjangka untuk pengiriman Juli menetap 0,46 persen lebih tinggi pada harga USD112,55 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk delivery Juni menetap 0,9 persen lebih tinggi pada USD113,23 per barel.
Itu menempatkan premi Brent bulan depan di atas kontrak WTI yang sama di jalur untuk turun ke level terendah sejak Oktober 2021.
Premi yang lebih rendah berarti perusahaan energi akan cenderung mengambil barel AS untuk ekspor.
Untuk minggu lalu, WTI berada di jalur untuk kenaikan mingguan keempat berturut-turut untuk pertama kalinya sejak pertengahan Februari, sementara Brent naik sekitar 1 persen setelah jatuh sekitar 1 persen minggu lalu.
"Risiko tetap miring ke atas mengingat pembukaan kembali China dan upaya lanjutan menuju embargo minyak Rusia oleh Uni Eropa," kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA.
Di Cina, Shanghai tidak memberi sinyal perubahan apa pun pada rencana berakhirnya penguncian seluruh kota yang berkepanjangan pada 1 Juni meskipun kota itu mengumumkan kasus covid-19 baru pertama di luar area karantina dalam lima hari.
Pasar energi mengharapkan pencabutan beberapa pembatasan virus corona di Shanghai untuk meningkatkan permintaan energi. China adalah importir minyak mentah utama dunia.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Harga Minyak Dunia Naik Lagi Tembus USD112/Barel
Sementara Uni Eropa berharap untuk mencapai kesepakatan atas usulan larangan impor minyak mentah Rusia yang mencakup pemotongan untuk negara-negara anggota yang paling bergantung pada minyak Rusia, seperti Hungaria.
"Peluang embargo Uni Eropa diumumkan lebih cepat setelah keberhasilan Jerman dalam memotong impor minyak Rusia lebih dari setengahnya dalam waktu yang sangat singkat," kata tim analis BCA dalam sebuah catatan.
Entitas bisnis besar Jerman sedang menyusun rencana untuk menggunakan sistem lelang untuk membantu jatah pasokan yang tersedia jika Rusia memotong gasnya, meskipun beberapa pihak khawatir itu bisa menghukum perusahaan kecil.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Sepatu Adidas Diskon 60 Persen di Sports Station, Ada Adidas Stan Smith
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 7 Sabun Muka Mengandung Kolagen untuk Usia 50-an, Bikin Kulit Tetap Kencang
- 15 Merek Ban Mobil Terbaik 2025 Sesuai Kategori Dompet Karyawan hingga Pejabat
Pilihan
-
Polemik RS dr AK Gani 7 Lantai di BKB, Ahli Cagar Budaya: Pembangunan Bisa Saja Dihentikan
-
KGPH Mangkubumi Akui Minta Maaf ke Tedjowulan Soal Pengukuhan PB XIV Sebelum 40 Hari
-
Haruskan Kasus Tumbler Hilang Berakhir dengan Pemecatan Pegawai?
-
BRI Sabet Penghargaan Bergengsi di BI Awards 2025
-
Viral Tumbler Tuku di Jagat Maya, Berapa Sebenarnya Harganya? Ini Daftar Lengkapnya
Terkini
-
PGN-Gasnet Bangun Jaringan Internet Berkecepatan Tinggi di Kampus
-
Komitmen PNM Hijaukan Negeri: Menumbuhkan Harapan dari Akar Bumi
-
BRI Sabet Penghargaan Bergengsi di BI Awards 2025
-
Kabar Kenaikan Gaji PNS Tahun 2026, Ada 2 Syarat
-
Kementerian ESDM Buka Peluang Impor Gas dari AS untuk Penuhi Kebutuhan LPG 3Kg
-
Bisnis AI Kian Diminati Perusahaan Dunia, Raksasa China Bikin 'AI Generatif' Baru
-
Waskita Karya Rampungkan Transaksi Divestasi Saham Jalan Tol Cimanggis - Cibitung Rp3,28 Triliun
-
Dukung Mitigasi Banjir dan Longsor, BCA Syariah Tanam 1.500 Pohon di Cisitu Sukabumi
-
Magang Nasional Gelombang III Segera Digelar, Selanjutnya Sasar Lulusan SMK
-
Banjir Sumatera Telan Banyak Korban, Bahlil Kenang Masa Lalu: Saya Merasa Bersalah