Suara.com - KONVO yang merupakan representasi resmi komunitas pengguna mendukung program APPNINDO sebagai komunitas industri rokok elektrik di tahun 2022 ini.
Hal itu diungkapkan Hokkop T I Situngkir, Ketua KONVO, dan Roy Lefrans, Ketua Umum APPNINDO dalam webinar yang diselenggarakan oleh RELX Indonesia bersama dengan APPNINDO dan KONVO berjudul "Cigarette VS e-Cigarette".
Dalam webinar tersebut, Roy mengatakan di tahun 2022 ini APPNINDO akan melakukan fokus pada beberapa hal yang juga akan didukung oleh KONVO. Di antaranya meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat akan kategori Rokok Elektrik (RE) dan Hasil Pengolahan Tembakau lainnya (termasuk memberikan advokasi perbedaan karakteristik dan profil risikonya).
“Kenapa tidak mau membuka diri bahwa sudah ada pengganti rokok konvensional yang adalah sebuah evolusi untuk masyarakat yang ingin beralih bahkan berhenti merokok. Agar terjadi penggunaan rokok elektrik yang bertanggung jawab perlu dua regulasi yang penting dan berkesinambungan, yakni mampu mencegah pengguna dibawah 18 tahun, serta menjamin akses informasi akurat dan perlindungan bagi perokok dewasa,” kata Roy ditulis Sabtu (11/6/2022).
Pernyataan Roy didukung oleh Hokkop sebagai perwakilan dari para konsumen rokok elektrik bahwa memang informasi terkait vaping sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, termasuk informasi mengenai kualitas dari rokok elektrik itu sendiri.
Dalam webinar tersebut, Yudhistira Eka Saputra, General Manager RELX Indonesia, menjelaskan bagaimana perbedaan dari rokok tembakau dengan rokok elektrik. Pembakaran rokok tembakau membutuhkan suhu diatas 650 derajat celcius, dan pada saat pembakaran tercipta banyak bahan-bahan berbahaya yang selanjutnya dapat menimbulkan penyakit.
Sedangkan rokok elektrik, memakai suhu dibawah 650. Yudhi dari RELX menyatakan bahwa produknya hanya menggunakan 220 derajat yang dinilai suhu paling tepat untuk mendapatkan sensasi merokok yang masih bisa dinikmati oleh para konsumennya.
“Setiap ada terobosan baru, pasti berhubungan dengan kualitas. Memasuki tahun keempat, RELX international sudah melakukan ekspansi yang luar biasa serta sudah menjadi market leader di dunia di luar Cina dan US, hal ini dikarenakan RELX berinvestasi yang masif dalam rangka menjamin dan memastikan bahwa produk yang dikeluarkan sudah memiliki standar dan kualitas yg baik,” tambah Yudhi.
Dalam kesempatan webinar ini Dr, Drg. Amaliya, MSc. pun turut memberikan pandangannya terkait rokok elektrik yang dinilai sebagai produk alternatif bagi para perokok dewasa yang ingin beralih atau berhenti merokok.
Baca Juga: Wamenkes Dante Tegaskan Aturan Rokok Elektrik Sama dengan Rokok Konvensional
“Ternyata tidak semua perokok bisa berhenti meski sudah ada warning atas resikonya, sehingga produk alternatif ini adalah sebuah solusi untuk beralih ke produk yg rendah resiko. Meskipun e-cigarette bukan bebas bahaya, namun dapat digunakan sebagai alternatif, hal ini juga berdasarkan riset dari Public Health England yang menyatakan bahwa rokok elektrik sudah 90% lebih aman dibanding rokok tembakau,” tuturnya.
Ketakutan masyarakat atas nikotin yang seringkali disebutkan sebagai penyebab kanker yang juga terkandung di dalam rokok elektrik disanggah oleh Drg. Amaliya.
“Nikotin bukan penyebab kanker, tapi memang menyebabkan adiksi. Namun jika overdosis pun akan berbahaya maka sebaiknya tetap harus berhati-hati dalam pengkonsumsiannya,” ucapnya.
Efek lainnya yang sudah biasa terjadi saat penggunaan rokok tembakau adalah perubahan warna pada gigi, hal ini disebutkan oleh Dosen dan Peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran bahwa pewarnaan gigi terjadi dari tar, sementara sejauh ini berdasarkan beberapa penelitian terhadap gigi sapi, rokok elektrik tidak memberikan efek pewarnaan gigi, namun pada gigi manusia masih sedang dilakukan risetnya di Indonesia dan tentu jika sudah ada hasilnya akan segera diinformasikan ke masyarakat.
Kehadiran rokok elektrik adalah untuk memenuhi harm reduction dalam penggunaan rokok tembakau, dan bukan ingin menyaingi rokok tembakau karena rokok elektrik adalah produk alternatif bagi yang ingin beralih atau berhenti. Yudhi dan Roy sama-sama menghargai pengguna rokok tembakau yang masih belum mau beralih.
“Namun bagi yang tertarik untuk menggunakan rokok elektrik dan ingin memilih produk yang baik, tepat dan berkualitas, pilihlah produk yang bercukai dan merek yang sudah jelas,” tutup Roy.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Amerika Serikat Masih 'Labil', Pemerintah Diminta Tak Buru-buru Ratifikasi ART RIAS
-
Apakah Tarif Trump Bagi Indonesia Masih Bisa Diubah, Ini Kata Pemerintah
-
6 Fakta Evaluasi Mekanisme Full Call Auction (FCA) Bursa Efek Indonesia
-
Registrasi Online Link PINTAR BI untuk Tukar Uang Baru
-
Syarat Free Float Naik, Saham CBDK Dilepas Rp157,5 Miliar
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Pemerintah Sebut Kesepakatan RIAS Tetap Jalan Meski Ada Putusan Supreme Court
-
Sosok Pemilik Bening Luxury, Perusahaan Perhiasan Mewah Disegel Bea Cukai
-
Harga Emas Batangan Naik, di Pegadaian Bertambah Rp 60 Ribuan!
-
Presiden Prabowo Respon Perubahan Tarif Trump: RI Hormati Politik AS