Suara.com - Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang hukum, Dr. KH Ikhsan Abdullah, mengingatkan umat Islam untuk waspada terhadap aksi yang dikenal sebagai ‘Palestine Washing’.
Ini adalah strategi yang digunakan oleh perusahaan multinasional asing untuk menghindari gerakan boikot terhadap produk-produk yang pro-Israel dengan menciptakan kesan bahwa mereka peduli terhadap bangsa Palestina melalui berbagai aktivitas simbolis.
“Banyak merek global (perusahaan multinasional) yang mendekati MUI untuk meminta dukungan, karena saham dan produk mereka terkena dampak dari gerakan boikot terhadap produk-produk pro-Israel. Mereka semuanya meminta agar boikot ini segera dihentikan,” ungkap Ikhsan dalam acara “Bulan Palestina & Sosialisasi Fatwa MUI” di Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini.
Di hadapan santri, pejabat setempat, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan penggiat organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Ikhsan menjelaskan bahwa gerakan boikot yang semakin marak di berbagai belahan dunia telah berdampak signifikan, khususnya pada penjualan produk dari perusahaan multinasional seperti McDonald’s, KFC, Starbucks, Danone Aqua, dan beberapa merek lainnya.
Ia menambahkan bahwa tidak mengherankan jika para pemilik merek tersebut mencoba untuk melobi berbagai pihak, berpartisipasi dalam donasi untuk Palestina, menjalankan kampanye iklan yang menunjukkan dukungan mereka, serta melakukan pencitraan positif di media sosial terkait Palestina.
Ikhsan menegaskan bahwa MUI tidak akan mengindahkan lobi dari perusahaan-perusahaan multinasional tersebut. “Prinsip kemanusiaan tidak boleh diabaikan. Isu Palestina adalah isu kemanusiaan yang transcends religious boundaries,” tegasnya.
Bagi Ikhsan, situasi genosida di Gaza yang sudah berlangsung lebih dari setahun merupakan isu kemanusiaan yang belum sepenuhnya diselesaikan.
“Selama Zionis Israel melakukan genosida di Gaza, boikot juga harus terus jalan. Intinya, boikot yang telah menggejala di tengah masyarakat dalam setahun lebih terakhir tak boleh padam,” kata Ikhsan.
Lebih jauh, Ikhsan mengungkapkan gerakan boikot produk pro Israel terus mendapatkan momentum di tengah masyarakat.
Baca Juga: Cabut Status PSN Pada PIK 2! MUI Ingatkan Proyek Terkait Tak Sesuai Aturan
“Di Indonesia, masyarakat sudah mulai bergeser dari menggunakan produk-produk global. Dari riset yang kami lakukan, sekitar 85% masyarakat Indonesia ingin beralih dari produk global ke produk nasional. Ini sangat positif,” katanya. “Semangat boikot ini harus terus dipelihara, untuk mendukung produk lokal dan nasional.”
Berbicara dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Hukum Universitas Gunung Jati, Dr. Harmono, mengatakan salah satu semangat pendirian negara Republik Indonesia adalah keinginan untuk menghapuskan penjajahan di atas bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan.
“Boikot terhadap produk-produk (terafiliasi Israel) agar keuntungannya tidak mengalir ke sana, lama-lama kemudian (Israel) stop karena tenaganya habis, kemudian tidak menindas lagi. Divestasi dan Sanksi berarti mengambil kembali, mencabut segala investasi yang ada di negara Israel, dan diikuti pemberian sanksi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama bidang pemberdayaan perekonomian, Dr. KH. Eman Suryaman, berharap umat Islam menyatukan langkah dalam memboikot produk perusahaan multinasional asing yang pro Israel sebagai bentuk dukungan atas Palestina dan sekaligus protes atas kebijakan luar negeri negara-negara Barat yang mendukung Israel.
"Boikot produk pro Israel yang marak di berbagai negara dalam setahun lebih terakhir, termasuk Indonesia, perlu diteruskan agar memberi efek jera pada Israel dan negara-negara pendukungnya," katanya.
Berita Terkait
-
Gaza Kelaparan: Hanya 12 Truk Bantuan Berhasil Tembus Blokade Israel
-
MUI Usul Pinjol Perlu Ditertibkan, Ada Suku Bunga Tembus 9% per Bulan
-
Keamanan Warga Semakin Terancam, Israel Bangun Pos Pemukiman di Area Kontrol Palestina
-
MUI 'Cuma' Haramkan Muslim Lakukan Ini saat Natal, Apakah Mengucapkan Selamat Juga Termasuk?
-
Haaretz: 235 Tentara Divisi Elit Israel Gugur di Gaza, Perang Genosida Berlanjut
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
-
Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel
-
Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih
-
IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global
-
Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini
-
Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?
-
RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital
-
Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri
-
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?