Suara.com - Sosok Bimo Wijayanto kini menjadi buah bibir di berbagai kalangan, seiring dengan kabar santer yang menyebutkan dirinya sebagai kandidat kuat untuk menduduki kursi panas Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak), menggantikan Suryo Utomo.
Kiprah dan rekam jejak Bimo dalam dunia perpajakan dan birokrasi pemerintahan memang tak bisa dipandang sebelah mata. Lahir dari rahim Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Bajawa, Flores, pada tanggal 5 Juli 1977, perjalanan hidup Bimo membawanya menimba ilmu dan membangun karier yang cemerlang. Sejak usia delapan tahun, Yogyakarta menjadi rumah keduanya, sebuah wilayah yang kelak menjadi salah satu fondasi aset propertinya.
Bimo adalah lulusan Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara (Tarnus), sebuah institusi pendidikan angkatan tahun 1995. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), meraih gelar sarjana ekonomi. Bimo kemudian meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari The University of Queensland, Australia. Puncak dari pendidikan formalnya adalah gelar PhD yang diraih dari University of Canberra, Australia.
Karier Bimo di lingkungan pemerintahan dimulai di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), institusi yang kini berpeluang besar untuk ia pimpin. Ketika masih berstatus sebagai pegawai Ditjen Pajak, Bimo mendapatkan penghargaan Hadi Soesastro Australia Award pada tahun 2014, sebuah kehormatan yang diraihnya bertepatan dengan masa studinya di Canberra. Sebelum sepenuhnya mengabdikan diri pada negara, Bimo sempat mencicipi dunia profesional sebagai auditor di salah satu firma akuntansi, PricewaterhouseCoopers (PwC), selama dua tahun.
Jejak karier Bimo di lingkaran pemerintahan semakin menanjak dengan dipercaya menduduki posisi Tenaga Ahli Utama di Kedeputian II Kantor Staf Presiden (KSP). Usai di KSP, Bimo kembali mendapatkan jabatan sebagai Asisten Deputi Investasi Strategis pada Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves). Di bawah kepemimpinan Menteri Koordinator Luhut Binsar Pandjaitan, Bimo memiliki peran menarik investasi strategis serta mengelola sektor pertambangan yang vital bagi perekonomian nasional.
Selain di pemerintahan, Bimo juga jabatan di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sejak Juni 2022, ia dipercaya sebagai Komisaris Independen di PT Phapros Tbk, sebuah perusahaan farmasi anak usaha dari PT Kimia Farma Tbk. Ia kembali menjabat komisaris pada tahun 2024.
Kekayaan Bimo Wijayanto
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 15 Maret 2022, total kekayaan Bimo per akhir tahun 2021 tercatat sebesar Rp 6,67 miliar. Mayoritas asetnya berupa properti, dengan kepemilikan lima bidang tanah dan bangunan yang tersebar di wilayah Sleman, Kota Yogyakarta, dan Gunung Kidul, dengan total nilai mencapai Rp 5,8 miliar.
Selain properti, Bimo juga memiliki satu unit mobil Toyota Fortuner TRD tahun 2017 dengan nilai tak kurang dari Rp 370 juta, harta bergerak lainnya senilai Rp 200 juta, serta kas atau setara kas sebesar Rp 300 juta. Dalam laporan kekayaannya tersebut, Bimo tercatat tidak memiliki utang, yang berarti seluruh kekayaannya merupakan aset bersih yang dimilikinya.
Baca Juga: Semprot Varrell Bramasta, Segini Kekayaan Bupati Purwakarta: Punya 85 Tanah di LHKPN
Tren peningkatan kekayaan Bimo dari tahun ke tahun juga tercatat dalam LHKPN. Pada tahun 2019, saat menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di KSP, total hartanya tercatat sebesar Rp 5,97 miliar. Angka ini kemudian meningkat menjadi Rp 6,17 miliar pada tahun 2020, dan kembali bertambah menjadi Rp 6,67 miliar pada tahun 2021.
Dengan latar belakang pendidikan yang mumpuni, pengalaman karier yang kaya dan strategis di berbagai lini pemerintahan dan BUMN, Bimo Wijayanto menjadi figur yang banyak disorot, seiring jabatan penting Direktorat Jenderal Pajak.
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
-
Profil dan Kontroversi Dewi Soekarno, Janda Presiden Soekarno Curi Perhatian di Cannes 2025
-
Biodata dan Profil Zhao Ying Zi, Artis China yang Diusir dari Red Carpet Cannes 2025
-
Sosok Valeria Marquez, Influencer Asal Meksiko yang Ditembak saat Live TikTok
-
Jejak Hadi Poernomo, Mantan Tersangka KPK yang Jadi Penasihat Khusus Presiden
-
Profil Chris Brown, Mantan Kekasih Rihanna yang Kembali Ditangkap Polisi
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Purbaya Baru Tahu Ada Pengadaan Motor Listrik MBG, Sebut dari Anggaran Tahun Lalu
-
Kolaborasi Pemerintah & Industri Jadi Kunci Peluang Kerja Tetap Terbuka di Tengah Tantangan Global
-
Jumlah Turis Empat Kali Lipat dari Penduduk, Gubernur Koster Sebut Orang Bali Makin Terpinggirkan
-
Purbaya soal Marak Joki Coretax: Desain Agak Cacat, Sulit Dipakai Orang Biasa
-
Rupiah 'Pura-pura' Kuat di Level Rp17.000, Cadangan Devisa yang Keropos Jadi Ancaman Nyata
-
BRI Salurkan KUR Rp31,42 Triliun, Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan
-
Lawan Serbuan Impor, Latinusa (NIKL) Genjot Efisiensi dan Daya Saing di 2026
-
Menghitung Harga Tiket Pesawat Setelah Avtur Naik 70%
-
Iran Buka Selat Hormuz, Bagaimana Nasib 2 Kapal Pertamina?
-
Komitmen Energi Berkelanjutan, Pertamina Borong 14 Proper Emas & 108 Hijau dari KLH