- CSIS mengingatkan bahwa penguatan IHSG didorong saham valuasi tinggi dan praktik goreng saham, bukan saham perusahaan dengan fundamental kuat.
- Kenaikan IHSG ini berpotensi menjadi gelembung pasar karena tidak sejalan dengan kinerja emiten, berkebalikan dengan kondisi rupiah dan didorong domestik.
- Deni Friawan CSIS menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap struktur pasar untuk menjaga stabilitas keuangan.
Suara.com - Para investor diperingatkan akan adanya risiko gelembung harga (bubble) di balik penguatan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang belakangan terus melonjak dan bahkan diprediksi akan sampai ke level Rp 10.000, seperti yang diramalkan Menteri Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam Media Briefing Outlook 2026 CSIS di Jakarta, Rabu (7/1/2026) peneliti senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menjelaskan penguatan IHSG saat ini bukan didorong oleh saham-saham dengan fundamental kuat seperti perbankan besar atau emiten konsumsi utama.
Sebaliknya, kenaikan indeks justru banyak ditopang oleh saham perusahaan-perusahaan baru dengan valuasi sangat tinggi. Ia juga menyebut ada praktik goreng saham dalam pergerakan naik IHSG belakangan.
"(Saham) yang menguat kebanyakan bukan perusahaan-perusahaan yang fundamentalnya bagus. Maksud saya, misalnya bukan Bank BCA, BRI, Bank Mandiri, atau Indofood atau ICBP, dan segala macam, yang kebanyakan ini kan adalah perusahaan-perusahaan baru yang bahkan PER (Price to Earning Ratio) nya saja sampai 500 kali," ujarnya.
Kondisi itu menunjukkan adanya kenaikan harga saham yang tidak sejalan dengan kinerja dan fundamental emiten. Akibatnya, reli IHSG lebih menyerupai pembentukan bubble dibandingkan refleksi kekuatan ekonomi nasional.
Ia mengingatkan risiko utama dari kondisi tersebut adalah terjadinya siklus boom and bust. Ketika ekspektasi pasar tidak lagi sejalan dengan realisasi kinerja perusahaan, koreksi tajam berpotensi terjadi dan memicu gejolak di pasar keuangan.
Narasi tersebut berpotensi kontradiktif dengan kekhawatiran pemerintah sendiri terhadap praktik penggorengan saham yang seharusnya diawasi ketat oleh otoritas bursa.
"Ini menurut saya yang harus dikawal. Jangan sampai praktik-praktik seperti ini menciptakan hal yang semu," tambahnya.
Selain itu, Deni juga menyoroti pergerakan IHSG yang tidak sejalan dengan nilai tukar rupiah. Menurut dia, penguatan indeks tidak dibarengi apresiasi rupiah karena kenaikan IHSG lebih banyak didorong oleh aktivitas domestik, bukan aliran modal asing.
Baca Juga: Target Harga DEWA, BUMI, dan PTRO di Tengah Perubahan Free Float Saham MSCI
"Naiknya IHSG ini bukan karena capital inflow, tapi lebih banyak domestik yang goreng-menggoreng (saham)," tutur dia.
Karena itu, CSIS menilai pengawasan terhadap struktur pasar dan kualitas penguatan indeks menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar keuangan ke depan.
Adapun peringatan CSIS ini muncul di tengah optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang meyakini IHSG mampu menembus level 10.000 pada akhir 2026.
Purbaya bahkan menyebut secara fundamental IHSG seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi.
“Harusnya kalau kemarin desainnya sesuai dengan desain saya, sekarang sudah 9.000. Tapi kan sudah itu sedikit, ke depan dengan kebijakan semakin sinkron dan ekonominya semakin bagus, harusnya IHSG akan naik lebih cepat,” ujar Menkeu.
Berita Terkait
-
IHSG Masih Betah di Level 8.900, Tapi Waspada Aksi Ambil Untung
-
Aturan Baru Purbaya: Barang Impor Nganggur Bisa Dilelang dan Disita Negara!
-
Purbaya Akui Masih Ada Utang Dana Bagi Hasil Rp 83,58 Triliun ke Pemda
-
Saham DADA Bangkit dari Harga "Gocap" Hingga ARA, Inikah Penyebabnya
-
Purbaya Izinkan 41 Proyek Molor 2025 Dilanjutkan Tahun Ini, Dari MBG hingga Sekolah Rakyat
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Miris! 30 Persen Gaji Masyarakat untuk Bayar Ongkos Transportasi
-
Soal Kenaikan DMO, Bahlil: Kebutuhan Dalam Negeri Harus Dipenuhi Dulu
-
Pengusaha IHT Minta Pemerintah Membina, Bukan Binasakan Industri Tembakau
-
Bahlil: Realisasi Investasi Sektor ESDM Investasi Turun, PNBP Gagal Capai Target
-
Timothy Ronald dan Akademi Crypto Mendadak Viral, Apa Penyebabnya
-
Indonesia Raih Posisi Runner-up di Thailand, BRI Salurkan Bonus Atlet SEA Games 2025
-
Fenomena Demam Saham Asuransi Awal 2026, Kesempatan atau Jebakan Bandar?
-
IATA Awali Operasional Tambang di Musi Banyuasin, Gandeng Unit UNTR
-
Realisasi PNBP Migas Jauh dari Target, Ini Alasan Bahlil
-
APBN Tekor Hampir 3 Persen, Dalih Purbaya: Saya Buat Nol Defisit Bisa, Tapi Ekonomi Morat-marit