Suara.com - Jaringan aksesori fesyen Claire's telah mengajukan kebangkrutan di Amerika Serikat (AS) untuk kedua kalinya.
Lantaran, berkurangnya jumlah pembeli produknya dan persaingan daring yang menggerogoti keuntungan perusahaan tersebut.
Perusahaan yang berbasis di AS ini pertama kali mengajukan kebangkrutan pada tahun 2018. Saat ini, mereka mengoperasikan 2.750 toko di 17 negara di seluruh Amerika Utara dan Eropa.
Perusahaan ini memiliki sekitar 280 toko di Inggris, turun dari 370 pada tahun 2018 ketika mengajukan kebangkrutan karena tidak mampu membayar pinjaman.
Claire's dikenal menjual perhiasan, aksesori warna-warni seperti kalung dan gelang, dan menjadi bagian dari kenangan jutaan anak muda akan layanan tindik telinganya.
Perusahaan ini beroperasi dengan dua nama merek, Claire's dan Icing, dan merupakan korban terbaru dari konsumen yang beralih dari toko fisik.
Claire's dimiliki oleh sekelompok perusahaan, termasuk raksasa investasi Elliott Management.
"Keputusan ini sulit karena meningkatnya persaingan, tren belanja konsumen, dan pergeseran yang terus berlanjut dari ritel konvensional atas pernyataan kebangkrutan tersebut, serta kewajiban utang dan gejolak ekonomi yang lebih luas," tulis CEO Claire, Chris Cramer dilansir BBC, Kamis (7/8/2025).
Apalagi, perusahaan tersebut memiliki pinjaman sebesar 500 juta dolar AS yang jatuh tempo pada Desember tahun depan.
Baca Juga: Viral Indonesia Disebut Bangkrut 2030, AMRO Bongkar Faktanya
Sementara itu, analis ritel Catherine Shuttleworth mengatakan, mereka menghadapi tekanan yang sama seperti yang dialami banyak peritel aksesori.
"Banyak produk dari kategori tersebut bersumber dari Asia, dan setiap kenaikan biaya impor sangat berpengaruh ketika harga sedang rendah dan marginnya ketat," tambahnya.
Ia mengatakan, anak muda tidak hanya mencari aksesori murah di High Street seperti dulu. Lantaran, pesaing online seperti Shein yang menargetkan pembeli muda dengan aksesori super murah.
Anak muda sekarang jauh lebih mungkin menemukan merek baru melalui TikTok daripada di pusat perbelanjaan. Serta dengan jumlah pengunjung yang masih jauh di bawah tingkat sebelum Covid, hal ini sangat berdampak pada Claire.
Selain itu, Claire's memiliki 300 toko waralaba lainnya yang sebagian besar berlokasi di Timur Tengah dan Afrika Selatan. Serta, juga menjual produknya di ribuan toko konsesi di Eropa dan AS.
Toko ini sering menjadi tempat persinggahan keluarga dan remaja di mal-mal di seluruh dunia untuk berbelanja di hari Sabtu. Serta, merambah penjualan mainan, termasuk slime, headphone, atau mainan berbulu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Serbu Promo Superindo Weekend, Ada Beli 1 Gratis 1 Minyak Goreng sampai Produk Bayi
-
Harga Minyak Terus Naik, DEN: Pembatasan BBM Akan Berdasarkan CC dan Jenis Kendaraan
-
Pasar Properti Ditopang Rumah Kecil dan Menengah
-
Dari Piutang hingga Tata Kelola, Ini PR Besar Perusahaan Sebelum IPO
-
Tarif Listrik Tak Naik sejak 2022, Kok Tagihan Bisa Membengkak?
-
QRIS Masuk Sektor Logistik, UMKM Agen Paket Ikut Kecipratan Manfaat
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%