Suara.com - Sebuah kritik pedas dilontarkan oleh Hakam Naja, ekonom senior dari Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF. Di tengah potensi ekonomi syariah domestik dan global yang luar biasa, Hakam menyoroti ironi posisi Indonesia sebagai importir produk halal terbesar di dunia.
Ia mendesak pemerintah agar potensi ini tidak lagi diabaikan, terutama dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
"Eksplorasi tentang ekonomi syariah saya kira bukan hal asing di negara kita. Cuma rasanya kok tidak menjadi perhatian? Padahal peluang yang ada di ekonomi syariah itu luar biasa," katanya dalam diskusi virtual, Senin (25/8/2025).
Hakam memaparkan data mencengangkan dari laporan State of Global Islamic Economic (SGIE). Dengan populasi muslim global yang diproyeksikan meningkat menjadi 2,8 miliar orang pada 2050, ekonomi halal memiliki pasar yang sangat besar. Pada tahun 2023 saja, total belanja umat muslim di seluruh dunia mencapai USD2,43 triliun (sekitar Rp39.441 triliun). Jumlah ini hampir dua kali lipat PDB Indonesia dan hampir 10 kali lipat APBN 2026.
Sebagian besar belanja ini datang dari sektor makanan halal (USD1,434 triliun), diikuti oleh modest fashion, media, pariwisata, farmasi, dan kosmetik halal.
Namun, di tengah potensi raksasa ini, posisi Indonesia justru memprihatinkan.
Hakam menyoroti paradoks yang terjadi. Pada 2023, Indonesia, dengan populasi muslim terbesar di dunia, hanya berada di posisi kesembilan eksportir produk halal global, dengan nilai USD12,33 miliar. Peringkat pertama justru ditempati oleh China (USD32,51 miliar), disusul India, Brasil, dan Rusia—negara-negara dengan populasi muslim minoritas.
Sebaliknya, Indonesia menjadi salah satu importir produk halal terbesar dunia dengan nilai USD29,64 miliar pada 2023. Bahkan, Indonesia mengalami defisit perdagangan produk halal di antara negara-negara OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) sebesar USD17,31 miliar.
"Ini kan ironi sebenarnya. Yang menjadi negara-negara eksportir ke negara OKI adalah negara dengan minoritas muslim. Ini menggambarkan Indonesia posisinya jago impor," ujarnya.
Baca Juga: Logam Tanah Jarang RI Tak Boleh Dikeruk Sembarangan, Negara Ambil Alih?
Hakam menekankan, pemerintah perlu memberikan perhatian serius pada sektor-sektor kunci seperti keuangan, makanan, farmasi, fesyen, pariwisata, dan media halal. Pasalnya, aset keuangan Islam global saja mencapai USD4,93 triliun pada 2023.
"Luar biasa ya, ini empat kali lipat PDB kita dan hampir 20 kali lipat dari APBN kita di 2026," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Selat Hormuz Masih Tertutup, Ranjau Laut Iran Ganggu Pasokan Energi Global
-
WFH ASN Tidak Berlaku di Kementerian PU,Menteri Dody Ungkap Alasan Tugas
-
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Berpotensi Lampaui Proyeksi Bank Dunia, Ini Sektornya
-
Importir Sepakat Jaga Harga Kedelai Rp11.500/Kg untuk Pengrajin Tahu Tempe
-
Bank Dunia: Danantara Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2027
-
RI Ekspor Ribuan Ton Klinker ke Afrika
-
Purbaya Klaim Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan Pertama Tinggi Bukan Karena Lebaran
-
Transaksi E-Commerce Tembus Rp96,7 Triliun, Live Streaming Jadi Sumber Pendapatan Baru Warga RI
-
Hadapi Musim Kemarau Panjang, Menteri PU Mau Penuhi Isi Bendungan
-
BRI Buka Layanan Money Changer, Tukar Riyal Jadi Lebih Praktis untuk Jamaah Haji