Tidak hanya itu, China juga mengendalikan proses pemurnian mineral tanah jarang, dengan kontribusi 92 persen. Di bawah China ada Malaysia dan Vietnam, yang kontribusinya di bawah 10 persen.
Artinya saat ini China bisa menentukan perusahaan mana saja, termasuk para produsen peralatan perang AS, yang bisa mendapatkan mineral tanah jarang.
Mengapa China bisa monopoli?
Semua mineral tanah jarang mengandung elemen radioaktif, yang berbahaya jika terpapar ke manusia. Karenanya banyak negara yang enggan menambang dan memproduksi mineral tanah jarang.
Adapun cadang mineral tanah jarang China sebagian besar tersimpan di Baotou, di tengah-tengah Gurun Gobi. Di sana juga China membangun fasilitas pemurnian dan membuang sampah radioaktif yang sangat berbahaya.
Strategi Beijing untuk menjadi pemain utama mineral tanah jarang sudah dicetuskan Deng Xiaoping - pemimpin yang juga dikenal sebagai otak di balik reformasi ekonomi Tiongkok - di era 1990an.
Pada kunjungan ke Mongolia pada 1992, ia mengatakan, "Timur tengah punya minyak, tapi China punya mineral tanah jarang."
Bagaimana China mengunci mineral tanah jarang
China pada April lalu mulai membatasi ekspor tujuh mineral tanah jarang yang sangat penting bagi industri pertahanan - salah satu sektor andalan Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump Mulai Panik Soal Perang Dagang, Mau Turunkan Tarif ke China Jadi 80 Persen
Sejak 4 April lalu, semua perusahaan mineral tanah jarang China harus mengantongi izin khusus agar bisa mengekspor semua produk mereka, termasuk magnet ke luar negeri.
Bagaimana dampaknya ke Amerika?
Menurut data pemerintah AS, ketergantungan Washington terhadap mineral tanah jarang dari China sudah mencapai 70 persen di periode 2020 - 2023. Artinya industri pertahanan AS akan lumpuh akibat kebijakan China ini.
Produk dari mineral tanah jarang China digunakan pada banyak persenjataan AS, mulai dari rudal, radar hingga pesawat tempur. Termasuk di antaranya adalah jet tempur F-34, drone tempur Predator hingga rudal Tomahawk.
Memangnya Amerika tak punya mineral tanah jarang?
Amerika hanya punya satu tambang mineral tanah jarang, tapi negeri adikuasa itu tak punya fasilitas pemurnian dan harus mengirim hasil tambangnya ke Tiongkok untuk dimurnikan.
Berita Terkait
-
Amerika - China Berantem Gara-gara Magnet, IHSG Ditutup Melemah
-
Kalah Sama China, Ekonomi Halal RI Hanya jadi Penonton
-
Harga Mobil Listrik Bekas Anjlok Ratusan Juta, Ini Waktu Terbaik Berburu EV Murah!
-
Risiko PHK Mengancam Akibat Perang Tarif Trump ke Indonesia
-
Perang Tarif AS-China Dorong RI Jadi Pusat Manufaktur dan Rantai Pasok Global
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
ASDP Tunda Alihkan Rute Kapal Ferry Bajoe-Kolaka, Ini Penyebabnya
-
Pertamina Raih Efisiensi Setelah Ubah Sistem Distribusi FAME Lewat Pipa
-
Perhatian! 18 Emiten Diusir BEI dari Pasar Modal RI, Ini Daftarnya
-
OJK Masih Telusuri Pelanggaran Kasus Debt Collector Mandiri Tunas Finance
-
Siap-siap! Pergi ke Stadion JIS Bisa Naik KRL Mulai Juni
-
Awas, Kendaraan 'STNK Only' Bisa Jadi Awal Petaka! Ini Penjelasan OJK
-
IHSG Tertekan Rekor Teburuk Kurs Rupiah, BBRI Jadi Salah Satu Rekomendasi Analis
-
Anggaran EO BGN Tembus Rp113 Miliar: Publik Minta Transparansi, BGN Klarifikasi
-
Jejak di Balik PT Yasa Artha Trimanunggal, Dipercaya Garap Proyek Triliunan BGN
-
Purbaya Buka Opsi Tukar Guling PNM dan Geo Dipa Demi Bantu Kredit UMKM