- Menkeu Purbaya mengunjungi kantor pusat BNI secara tiba-tiba saat direksi sedang rapat.
- Kedatangannya menimbulkan spekulasi dan ia menyatakan tujuannya adalah untuk "melihat bagaimana kerja mereka.
- Kedatangan Purbaya ini diduga kuat terkait isu naiknya suku bunga deposito valas (dolar AS) menjadi 4% di BNI dan bank Himbara lainnya.
Suara.com - Sebuah kejutan terjadi di markas besar PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tiba-tiba datang mengunjungi kantor pusat BNI secara mendadak pada Senin (29/9/2025).
Kedatangan Purbaya ini sontak menjadi sorotan, apalagi saat itu jajaran direksi BNI sedang menggelar rapat.
Mengenakan kemeja putih seragam Kemenkeu, Purbaya langsung menuju lift untuk menemui para direksi. "Ini sidak ke BNI, kita mau lihat bagaimana kerja mereka," kata Purbaya dalam sebuah video yang beredar dari internal Kementerian Keuangan.
Meskipun Purbaya tidak menjelaskan secara detail tujuan kunjungannya, kedatangan ini terjadi tak lama setelah isu kenaikan suku bunga deposito valuta asing (valas) mencuat. Beberapa bank Himbara, termasuk BNI, baru-baru ini kompak menaikkan suku bunga deposito dolar Amerika Serikat (AS) hingga 4 persen.
BNI secara resmi mengumumkan kenaikan suku bunga deposito US$ menjadi 4 persen pada Rabu, 24 September 2025. Langkah serupa juga diikuti oleh bank-bank BUMN lainnya seperti Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BTN, dan Bank BSI.
Sebelumnya Purbaya dengan tegas membantah tuduhan bahwa pemerintah atau Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berada di balik keputusan bank-bank Himbara yang kompak menaikkan suku bunga deposito valuta asing (valas) hingga 4 persen.
Purbaya mengatakan, isu ini telah memicu sentimen negatif di pasar keuangan dan menekan nilai tukar rupiah.
"Orang menuduh saya, itu kebijakan menteri keuangan dikte perbankan untuk menaikkan bunga deposito dolar ke 4 persen. Jadi enggak ada kebijakan seperti itu," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Sebagai Ketua KSSK, Purbaya menegaskan bahwa tidak ada perintah dari lembaga tersebut untuk menaikkan bunga deposito valas. Ia bahkan telah berkoordinasi dengan anggota KSSK lainnya, termasuk Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, yang juga tidak mengetahui adanya instruksi semacam itu.
Baca Juga: Rupiah Mulai Menguat, Sesuai Prediksi Menkeu Purbaya
"Kan saya ketua KSSK. Saya belum dengar berarti belum. Saya diskusi dengan Gubernur BI juga tadi, Anda pernah dengar? Enggak juga," paparnya.
Purbaya menduga kenaikan suku bunga ini merupakan inisiatif dari beberapa pimpinan bank yang merasa membutuhkan dana valas. Ia menekankan bahwa keputusan itu bukan hasil dikte dari pemerintah, BI, maupun Danantara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
Terkini
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.995
-
Jangan Terkecoh Bandar, Investor Ritel Diingatkan Bahaya Broker Summary
-
Harga Emas Antam Lebih Murah Hari Ini, Dibanderol Rp 2,82 Juta/Gram
-
IHSG Rebound Pagi Ini, Cek Saham yang Cuan
-
Cara Tarik Tunai GoPay di ATM BRI
-
Rupiah Sudah Sentuh Rp17.000, Sinyal Waspada Buat Indonesia
-
Menlu Iran Desak Raja Arab Saudi Usir Amerika Serikat
-
Strategi Jitu Pemerintah Jajaki Pasar China untuk Produk Unggulan Indonesia
-
Pemerintah Nilai Tuduhan Amsal Sitepu Bisa Matikan Ekosistem Ekonomi Kreatif
-
Wall Street Terkoreksi, Gejolak Timur Tengah Guncang Pasar Global