-
IHSG anjlok ke level 8.213 didorong sentimen negatif global.
-
Bursa AS melemah karena khawatir bubble saham teknologi dan The Fed.
-
IHSG diprediksi terus melemah, net buy asing fokus pada saham blue chip.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih merosot di awal perdagangan Rabu, 5 November 2025. IHSG melemah di level 8.213.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.04 WIB, IHSG masih terus anjlok 0,25 persen di level 8.221.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,04 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,50 triliun, serta frekuensi sebanyak 153.800 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 154 saham bergerak naik, sedangkan 331 saham mengalami penurunan, dan 470 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, AADI, ADES, ATIC, BESS, BSSR, BTPN, CMRY, COIN, ELPI, FPNI, ITMG.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, AALI, AMMN, DATA, DSSA, EPMT, FITT, GGRM, INCO, INKP, MIKA, MKPI, PANI.
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Rabu (5/11), seiring tekanan dari bursa global yang cenderung terkoreksi di tengah kekhawatiran valuasi saham teknologi dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Mengutip laporan BNI Sekuritas Retail Report, IHSG sebelumnya ditutup turun 0,4 persen dengan masih mencatatkan net buy asing sekitar Rp 308 miliar.
Baca Juga: IHSG Berakhir Merosot Dipicu Aksi Jual Bersih Asing
Saham-saham yang paling banyak diborong investor asing antara lain TLKM, BBCA, BBNI, BMRI, dan UNTR.
"IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan hari ini," tulis Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman dalam risetnya.
Adapun level support IHSG diperkirakan berada di rentang 8.180–8.200, sementara resistance berada di kisaran 8.280–8.350.
Dari sisi global, sentimen negatif datang dari Wall Street yang kompak ditutup melemah pada Selasa (4/11). Indeks Dow Jones terkoreksi 0,53 persen, S&P 500 turun 1,17 persen, dan Nasdaq Composite anjlok 2,04 persen.
Kekhawatiran investor meningkat terkait kemungkinan terjadinya bubble pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, pasar juga mencermati pernyataan pejabat The Federal Reserve (The Fed) di tengah minimnya rilis indikator ekonomi penting. Situasi politik dalam negeri AS, seperti pemilu lokal di New York, New Jersey, dan Virginia, turut menambah kehati-hatian pelaku pasar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
Terkini
-
Harga Emas Antam di Bawah 3 Juta saat Lebaran, Cek Rincian Lengkapnya di Sini!
-
Cara Transfer BRI ke DANA Melalui BRImo, ATM, dan Internet Banking
-
IHSG Senin Pekan Ini Buka atau Tidak? Ini Jadwal Lengkap Libur Bursa
-
Harga Emas Pegadaian Turun Saat Lebaran, UBS dan Galeri 24 Anjlok!
-
Cara Mencari Lokasi ATM dan Kantor Cabang BRI Terdekat
-
Nominal Uang Pensiun DPR yang Resmi Dicabut MK
-
Jadwal dan Titik One Way Garut Selama Momen Idulfitri
-
Remitansi Pekerja Migran melalui BRI Lonjak 27,7 Persen di Momen Lebaran 1447 H
-
Biaya Transaksi BRI ke Sesama BRI, Bank Himbara, dan Bank Lain
-
Kecam Iran, 20 Negara Siap Buka Selat Hormuz