-
Literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah, baru sekitar 43 persen.
-
Meskipun literasi rendah, aset industri keuangan syariah tumbuh 11,3 persen menjadi Rp 3.050 triliun.
-
Peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah penting untuk mendorong kesejahteraan masyarakat
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah.
Hal ini tercemin dengan tingkat literasi keuangan nasional yang masih rendah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, literasi keuangan syariah baru berada di kisaran 43 persen.
“Artinya kalau dari 100 orang yang kita tanya, 66-nya sudah mengerti tentang produk keuangan syariah, tapi yang pakai itu masih sangat sedikit untuk yang syariah masih 43 persen," katanya di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Sementara itu, dia menyebutkan total aset industri keuangan syariah Indonesia tumbuh 11,3 persen secara tahunan (yoy) atau mencapai Rp 3.050 triliun.
Namun, kondisi ini masih dibarengi oleh rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah.
“Dengan rincian di perbankan sebesar Rp 975 triliun, pasar modal Rp 1.800 triliun, dan industri keuangan non bank Rp 1.708 triliun,” bebernya.
Lanjutnya, dia memaparkan peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah bukan hanya sebatas kebutuhan industry tapi juga berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat.
"Kami merujuk hasil studi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang menunjukkan negara dengan literasi dan inklusi keuangan yang tinggi cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik," jelasnya.
Baca Juga: OJK Beri Syarat jika Himbara Mau Naikkan Bunga Deposito Valas
Berita Terkait
-
Banyak Penipuan, OJK Minta Para Ibu Jaga Rahasia Data Pribadi
-
Penyaluran Dana Rp200 Triliun Bikin Bank Himbara Kewalahan
-
OJK Ambil Tindakan Tegas! BPR Artha Kramat Kehilangan Izin Usaha
-
Terungkap! Cara Fintech Lending Manfaatkan AI: Analisis Risiko Lebih Akurat atau Manipulasi Data?
-
OJK Ingin Perbankan Sokong Kredit untuk Ekonomi Kelautan di NTT
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Purbaya Sidak Pabrik Baja Asal China, Diduga Akali Pajak karena Cuma Bayar Rp 20 M
-
Bitcoin dkk Diramal Bisa Jadi Sistem Finansial Alternatif RI Dalam Waktu 3 Tahun
-
Delapan Klaster Program Prioritas Nasional di 2027
-
Bahlil Minta Lebih Banyak Lahan untuk Sawit demi Ambisi B80
-
Bahlil Stop Ekspor Batu Bara Usai PLN Kekurangan Pasokan
-
Sandiaga Uno Suntik Modal MUTU, Pasar Karbon RI Jadi Incaran
-
Jasa Marga Tingkatkan Komitmen Pengelolaan Green Toll Road dan Transformasi Rest Area Berkelanjutan
-
LPS Naikkan Bunga Penjaminan Simpanan Rupiah, Kini Tembus 3,75%
-
Toko Online Wajib Punya NIB, Termasuk Penjual Barang Bekas: Ini Ketentuannya
-
LPDB Koperasi Ajak Gerakan Credit Union Perkuat Koperasi Desa Merah Putih