-
Rupiah dibuka melemah ke Rp16.726 per dolar AS, turun 0,11 persen dari penutupan sebelumnya.
-
Sejumlah mata uang Asia juga melemah, dengan Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam.
-
Tren depresiasi turut dialami Ringgit, Yen, Baht, Dolar Hong Kong, Peso Filipina, Dolar Singapura, dan Yuan China
Suara.com - Nilai tukar Rupiah dibuka melemah pada hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah di pasar Senin (17/11/2025) dibuka di level Rp 16.726 per Dolar Amerika Serikat (AS).
Alhasil, Rupiah makin merosot 0,11 persen dibanding penutupan pada Jumat yang berada di level Rp 16.707 per Dolar AS.
Beberapa mata uang Asia lainnya juga bergerak fluktuatif. Salah satunya, Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,31 persen.
Disusul, Ringgit Malaysia yang ambles 0,21 persen. Berikutnya, Yen Jepang yang tergelincir 0,03 persen,
Diikuti, Baht Thailand dan dolar Hongkong yang sama-sama cenderung melemah di pagi ini.
Selanjutnya ada Peso Filipina yang terkoreksi 0,16 persen dan Dolar Singapura yang turun 0,15 persen. Lalu ada Yuan China yang terdepresiasi 0,1 persen.
Dalam hal ini, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan Rupiah ini disebabkan oleh dua faktor yakni dari global maupun domestik.
Salah satunya dari global dipengaruhi ileg suasana pasar yang secara umum konstruktif setelah kesepakatan untuk mengakhiri penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) meredam minat untuk kenaikan harga emas lebih lanjut.
Investor kini berfokus pada rilis data ekonomi AS yang tertunda yang akan kembali dirilis seiring dengan dimulainya kembali operasi federal, yang diperkirakan dapat mempertajam ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (Fed) pada bulan Desember.
Baca Juga: Purbaya Lempar ke BI soal Wacana Redenominasi Rupiah: Kemenkeu Tak Ada Strategi
Lalu, prospek dovish The Fed membebani Dolar AS (USD) dan menjaga imbal hasil Treasury tetap rendah, membatasi penurunan logam non-imbal hasil.
"Sentimen pasar secara keseluruhan juga tetap condong ke arah positif untuk Emas, dengan pendorong makro dan struktur teknis mendukung tren bullish yang sedang berlangsung," katanya.
Sedangkan dari sisi domestik disebabkan oleh Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto, dipandang menjadikan disiplin fiskal dan stabilitas makro sebagai fondasi utama penguatan ekonomi Indonesia pada 2025.
Arah kebijakan ekonomi Prabowo telah membawa Indonesia menjadi salah satu kekuatan baru di Asia.
Apalagi, memasuki tahun 2025 dengan kondisi makroekonomi yang solid dan stabil.
Doktrin stabilitas makroekonomi Prabowo yang mengkombinasikan kehati-hatian fiskal, pengendalian inflasi, serta ekspansi industri jangka panjang telah mendorong proyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen hingga 5,8 persen.
Berita Terkait
-
Rupiah Senin Sore Perkasa, Didorong Keyakinan Mayarakat Soal Prospek Ekonomi RI
-
Senin Pagi, Rupiah Dibuka Menguat Terhadap Dolar AS
-
Untung Rugi Redenominasi Rupiah
-
Apakah Indonesia Pernah Redenominasi Rupiah? Purbaya Mau Ubah Rp1.000 Jadi Rp1
-
Aliran Modal Asing Keluar Begitu Deras Rp 4,58 Triliun di Pekan Pertama November 2025
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
Pilihan
Terkini
-
Inflasi Tinggi Mengancam di Awal 2026, Apa Dampaknya?
-
Nama-nama di Balik Bursa Kripto ICEX, Benarkah Ada Haji Isam dan Happy Hapsoro?
-
Dilema Pengetatan Defisit APBD 2026: Antara Disiplin Fiskal dan Risiko Penurunan Belanja
-
Kelanjutan Proyek PLTN Tinggal Tunggu Perpres dari Prabowo
-
Tak Terbukti Dumping, RI Bisa Kembali Ekspor Baja Rebar ke Australia
-
Penggunaan SPKLU PLN Naik Hampir 500 Persen Saat Libur Nataru
-
Aturan Baru Soal Akuntan Dinilai Buka Peluang Kerja untuk Gen Z
-
Purbaya Siapkan Pembangunan Sekolah Terintegrasi Impian Prabowo, Apa Itu?
-
Ganti Jibor dengan INDONIA, BI Mau Buat Pasar Keuangan Lebih Transparan
-
Awas Bubble Pecah! Bahaya Mengintai saat IHSG Menuju Rp 10.000