- Pada Selasa, 19 November 2025, pukul 09.12 WIB, IHSG terpantau menguat 0,21 persen mencapai level 8.434 berdasarkan data Bursa Efek Indonesia.
- Volume perdagangan saat itu mencakup 5,81 miliar saham senilai total Rp 2,30 triliun, dengan pergerakan 228 saham naik dan 273 saham turun.
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan melanjutkan tren positif menguji level resistance 8.480 didukung oleh sinyal teknikal yang konstruktif.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah di zona hijau pada awal perdagangan, Selasa, 19 November 2025. IHSG menguat ke level 8.427.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.12 WIB, IHSG masih meroket 0,21 persen ke level 8.434.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 5,81 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,30 triliun, serta frekuensi sebanyak 310.600 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 228 saham bergerak naik, sedangkan 273 saham mengalami penurunan, dan 455 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, AMMN, ASII, BBNI, BRAM, CPIN, CSIS, DSSA, EDGE, ICBP, JECC, JPFA, PBSA.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, AADI, AMFG, BABY, DATA, EMAS, IMPC, INCO, ITMG, PJHB, POLU, PTRO. PURI.
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan melanjutkan tren positif pada perdagangan Selasa (18/11), setelah pada sesi sebelumnya ditutup menguat 0,55 persen ke level 8.416,88. Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, peluang penguatan lanjutan terbuka lebar seiring sinyal teknikal yang masih konstruktif.
Phintraco Sekuritas menyebut IHSG kini bergerak di atas MA5, diikuti kenaikan pada histogram positif MACD.
Baca Juga: IHSG Terus Melonjak Hingga Akhir Perdagangan Senin, Tembus Level 8.416
Indikator Stochastic RSI juga membentuk Golden Cross di area overbought, mengindikasikan momentum bullish masih bertahan. Dengan kondisi tersebut, indeks diproyeksikan menguji level pivot 8.450 dan resistance 8.480.
Di sisi makro, rupiah ditutup melemah ke sekitar Rp 16.736 per dolar AS pada Senin (17/11). Pelemahan ini dipicu penguatan indeks dolar setelah komentar pejabat The Fed yang cenderung hawkish, sehingga menekan ekspektasi penurunan suku bunga pada Desember 2025.
Kondisi tersebut dinilai membuat Bank Indonesia berpotensi mempertahankan BI Rate di 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 18–19 November.
Sementara itu, pemerintah menambah penempatan dana negara di perbankan: masing-masing Rp 25 triliun di BMRI, BBRI, dan BBNI, serta Rp 1 triliun di Bank Jakarta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Menteri PU Jelaskan Kasus Dugaan Korupsi di Dirjen SDA
-
Inovasi Baru PGTC 2026: Energy AdSport Challenge Jadi Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis
-
BRI Consumer Expo Jakarta 2026 Hadir di JICC: Banjir Promo Hunian, Kendaraan, Sampai Tiket Pesawat
-
Harga Aspal Jadi Mahal Gegara Rupiah Lemah, Kementerian PU Ganti Pakai Beton
-
DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya
-
PLN Sedang Selidiki Penyebab Mati Lampu di Sumatra Bagian Utara
-
GMFI Kejar Laba Bersih 35,1 Juta Dolar AS di 2026, Begini Strateginya
-
Kementerian PU Butuh Rp30 Triliun untuk Bereskan 136 Perlintasan Sebidang
-
BI Minta Publik Tak Borong Dolar, saat Masyarakat Ramai-ramai Timbun Valas di Bank
-
Sumatra Gelap Gulita, Ini Penjelasan PLN