- Permata Institute memproyeksikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi 4,89 persen pada Kuartal III tahun ini.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi melambat 5,1-5,2 persen, di bawah target pemerintah dan BI 2026.
- Gejolak ekonomi global dan penurunan harga komoditas menekan prospek ekonomi Indonesia tahun 2026.
Suara.com - Permata Institute for Economic Research 2026 Economic Outlook, melaporkan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih melambat.
Adapun, pada kuartal ketiga tahun ini berada di angka 4,89 persen secara tahunan.
Angka ini cukup rendah dibandingkan pada kuartal ketiga tahun lalu yang tercatat 4,91 persen.
"Konsumsinya mengalami kelemahan dan ini tentunya bukan masalah 1-2 tahun saja tapi ini masalah 20 tahun terakhir ini, yang mungkin harus dijawab dengan bagaimana reformasi struktural dan juga bagaimana penciptaan lapangan pekerjaan," ujar Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede pada agenda PIER Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Kata dia, dengan rendahnya konsumsi rumah tangga membuat ekonomi Indonesia terus terkontraksi.
Apalagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh lebih lambat pada tahun 2026.
" Laju ekonomi hanya mencapai 5,1 persen hingga 5,2 persen di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 yang menetapkan patokan 5,4 persen serta proyeksi Bank Indonesia sebesar 5,33 persen," bebernya.
Josua menilai peluang pertumbuhan lebih tinggi dari kisaran 5,1 persen hingga 5,2 persen tetap terbuka apabila pemerintah dapat mengeksekusi program prioritas secara optimal.
Program seperti makan bergizi gratis, pembangunan tiga juta rumah, serta Korporasi Merah Putih diyakini dapat mendorong konsumsi dan investasi bila berjalan efektif.
Baca Juga: Pemerintah Diminta Kompak Atasi Pertumbuhan Industri Otomotif yang Lesu
" Kita perlu ekspansi fiskal yang terukur untuk menjaga stabilitas, sembari tetap memaksimalkan program prioritas tersebut," ujarnya.
Dia pun juga mengungkapkan bahwa di tingkat global, harga energi terus turun sepanjang 2025.
Apalagi, gejolak ekonomi global yang belum mereda juga masih menekan prospek ekonomi di Indonesia.
"Pada 2026, pertumbuhan ekonomi global akan melemah terutama akibat perlambatan ekonomi Tiongkok di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS)," katanya.
Dia pun memperkirakan, ada pemangkasan lanjutan suku bunga acuan The Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen pada Desember 2025.
Hal ini disusul penurunan tambahan sebesar 25 bps menjadi 3,50 persen pada 2026.
Berita Terkait
-
Kantong 'Mepet' Usai Lebaran, Konsumsi Rumah Tangga RI Loyo di Kuartal II-2024
-
Motor Utama Penggerak Ekonomi RI Kehabisan Bensin
-
Wamenkeu: Buka Aplikasi Grab Saja Sudah Mampu Tingkatkan Konsumsi Rumah Tangga
-
Soal Pertumbuhan Ekonomi RI, Jokowi Bilang Yang Lain Masuk Jurang, Kita Terbang
-
Mampukah Pemilu Dongkrak Daya Beli Masyarakat RI yang Saat Ini Lesu?
Terpopuler
- 63 Kode Redeem FF Terbaru 21 Januari: Ada Groza Yuji Itadori, MP40, dan Item Jujutsu
- 5 Motor Bekas 6 Jutaan Cocok untuk Touring dan Kuat Nanjak, Ada Vixion!
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Toyota Vios Bekas Tahun Muda Pajaknya Berapa? Simak Juga Harga dan Spesifikasi Umumnya
- Mobil 7 Seater dengan Harga Mirip Mitsubishi Destinator, Mana yang Paling Bertenaga?
Pilihan
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
-
5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan RAM 8 GB Terbaik Januari 2026, Handal untuk Gaming dan Multitasking
-
Harda Kiswaya Jadi Saksi di Sidang Perkara Dana Hibah Pariwisata
-
Aksi Jual Asing Marak, Saham BBCA Sudah 'Diskon' Hampir 10 Persen
-
Rumor Panas Eks AC Milan ke Persib, Bobotoh Bersuara: Bojan Lebih Tahu Kebutuhan Tim
Terkini
-
Bahlil Pamer Capaian ESDM di Tahun 2025
-
Purbaya Gandeng BUMN Tarik Pajak Transaksi Luar Negeri, Incar Rp 84 M per Tahun
-
Investor RI Kini Bisa Short Option Saham AS
-
Izin Dicabut Prabowo, Tambang Emas Astra di Martabe Akan Beroperasi Lagi?
-
Rupiah Berhasil Tundukan Dolar AS Hari, Tembus Level Rp 16.820/USD
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
-
Serap 4 Juta Ton Beras Petani, Bulog Mau Cari Gudang Tambahan
-
ESDM Wajibkan SPBU Swasta Beli BBM Solar dari Kilang Pertamina Mulai Tahun Ini
-
Pelni Siapkan Strategi Jitu Hadapi Cuaca Ekstrem Saat Mudik Lebaran, Apa Saja?
-
Purbaya Gunakan AI hingga Beli Data dari Luar Negeri buat Cari Tambahan Pajak