- Hasil investasi asuransi jiwa meroket 60,43% YoY, dominan di instrumen SBN yang likuid.
- Pendapatan premi individu tumbuh 6,58%, bukti stabilitas permintaan proteksi jiwa.
- OJK analisis rencana bisnis 2026 guna dorong pertumbuhan asuransi yang hati-hati.
Suara.com - Industri perasuransian Indonesia mencatatkan kinerja gemilang hingga kuartal keempat 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa hasil investasi industri asuransi jiwa tumbuh signifikan sebesar 60,43% secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan nilai mencapai Rp244,02 triliun per Oktober 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengungkapkan bahwa portofolio investasi industri saat ini didominasi oleh instrumen yang konservatif dan likuid, terutama Surat Berharga Negara (SBN).
"Asuransi jiwa menempatkan investasi SBN sebesar Rp244,02 triliun atau 41,82% dari total portofolionya, sedangkan asuransi umum dan reasuransi menempatkan Rp59,66 triliun atau 36,52%," jelas Ogi dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2026).
Selain hasil investasi yang mentereng, sisi pendapatan premi juga menunjukkan stabilitas yang kuat. Permintaan terhadap produk perlindungan jiwa tercatat tetap positif di dua segmen utama:
- Segmen Individu: Meraup premi sebesar Rp78,87 triliun, tumbuh 6,58% YoY.
- Segmen Kumpulan: Mencatatkan premi sebesar Rp21,70 triliun, naik 1,97% YoY.
Kenaikan ini menjadi indikator bahwa kepercayaan masyarakat terhadap produk perlindungan jiwa masih terjaga meski industri terus menghadapi dinamika pasar yang menantang.
Melihat struktur portofolio yang aman dan arah kebijakan moneter yang stabil, OJK memproyeksikan hasil investasi perasuransian akan tetap berada di jalur positif pada tahun mendatang. Untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, OJK tengah membedah rencana bisnis industri untuk tahun 2026.
Analisis mendalam dilakukan terhadap proyeksi premi, arah pengembangan produk, hingga kesiapan manajemen risiko masing-masing perusahaan. "Rencana tersebut mencerminkan optimisme yang terukur dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian," pungkas Ogi.
OJK berharap dengan permodalan yang kuat dan strategi investasi pada instrumen aman seperti SBN, industri asuransi nasional mampu memberikan imbal hasil yang sehat sekaligus perlindungan maksimal bagi nasabah.
Baca Juga: Jurus OJK Genjot Kredit Perbankan di 2026
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!
-
Menkeu Purbaya Dorong Peran Swasta, Optimis Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Cepat
-
Purbaya Sebut Krisis 1998 Tak Akan Terulang, Optimis 6 Bulan Lagi Orang Susah Berkurang