- Harga Bitcoin (BTC) terkoreksi 1,25% menjadi sekitar US$66.450 pada Kamis (19/2/2026) akibat notulensi FOMC.
- Rilis FOMC memicu sentimen "Extreme Fear" karena adanya perpecahan The Fed mengenai kebijakan suku bunga ke depan.
- Koreksi ini diperkuat oleh menguatnya Indeks Dolar (DXY) dan penurunan probabilitas pemangkasan suku bunga Juni 2026.
Suara.com - Aset kripto utama, Bitcoin (BTC), tercatat mengalami tekanan harga yang cukup signifikan dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (19/2/2026), harga Bitcoin terkoreksi sebesar 1,25%, membuatnya tergelincir ke kisaran US$66.450 atau sekitar Rp1,11 miliar.
Saat artikel ini ditulis pada Sabtu (21/2/2026), harga BTC to USD berkisar USD 67.881.
Penurunan ini dipicu oleh rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengungkap adanya perpecahan suara di internal bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Kondisi ini langsung memicu kepanikan investor, hingga menyeret indeks sentimen pasar kripto ke zona "Extreme Fear".
Notulensi FOMC terbaru menunjukkan bahwa meski mayoritas pejabat The Fed sepakat mempertahankan suku bunga di level tinggi, terdapat perbedaan pandangan yang tajam mengenai langkah berikutnya.
Sebagian pejabat memberikan sinyal agresif untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tetap bandel, sementara sebagian lainnya mulai melunak dan mempertimbangkan pemangkasan jika harga-harga stabil.
Sikap higher for longer (suku bunga tinggi dalam waktu lama) ini memberikan dampak domino:
- Likuiditas Mengetat: Investor cenderung menarik diri dari aset berisiko.
- Indeks Dolar (DXY) Perkasa: DXY melonjak ke level 97,7, yang secara historis selalu menjadi musuh bagi kenaikan harga Bitcoin.
- Probabilitas Pivot Menurun: Data FedWatch Tool dari CME Group menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga pada Juni 2026 kini merosot hingga di bawah 50%.
Menanggapi fluktuasi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai bahwa dinamika yang terjadi saat ini merupakan reaksi teknis yang wajar.
Baca Juga: FOMC 2026: The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Amblas ke Level 70.000 Dolar
Menurutnya, meskipun saat ini Bitcoin diperdagangkan di bawah level psikologis US$67.000, aset ini sebenarnya masih berada dalam fase konsolidasi yang terjaga.
"Koreksi ini adalah penyesuaian pasar terhadap linimasa kebijakan The Fed yang dinamis. Kami memantau area US$64.000 sebagai titik support yang sangat kuat. Secara historis, fase konsolidasi seperti ini justru menjadi pijakan bagi Bitcoin sebelum kembali ke tren penguatan," ungkap Antony.
Antony juga menggarisbawahi pentingnya memperhatikan kebijakan moneter domestik.
Dengan BI Rate yang saat ini berada di kisaran 4,75% hingga 5,5%, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah akan sangat memengaruhi likuiditas investor kripto di tanah air.
Di tengah isu geopolitik dan ketidakpastian suku bunga, narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai (hedge) kembali mengemuka. Kondisi makro yang bergejolak justru memperkuat fungsi BTC bagi investor yang mencari aset tangguh untuk jangka panjang.
DISCLAIMER: Perdagangan aset kripto memiliki risiko volatilitas yang sangat tinggi. Pergerakan harga dipengaruhi secara sensitif oleh kebijakan ekonomi global dan sentimen pasar. Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Pastikan Anda memahami risiko sebelum berinvestasi.
Berita Terkait
-
The Bitcoin Standard: Ketika Uang, Sejarah, dan Masa Depan Ekonomi
-
Harga Bitcoin Makin Sulit Tembus Level USD 70.000, Ini Penyebabnya
-
Harga Bitcoin dan Kurs Dolar AS Mulai Berseberangan, Anomali Tahun Ini Berlanjut?
-
Harvard Borong Ethereum Rp1,4 Triliun, Pasar Kripto Kembali Bergairah
-
Kepercayaan Pengguna Antar CEO Indodax Jadi Sosok Berpengaruh Lini Aset Digital
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
Terkini
-
Frekuensi Transaksi Harian BEI Pecah Rekor Pekan Ini
-
OJK Siapkan Tanda Khusus Bagi Emiten Tak Penuhi Free Float, Paksa Transparansi atau Delisting?
-
Seskab Teddy Ngambek ke Menteri Rosan Gegara Cuma Jadi 'Pajangan' saat Konpres Perjanjian Dagang
-
Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
-
Skema Patungan Saham Berujung Denda: OJK Sikat Tukang Goreng Saham IIMPC Rp5,7 Miliar
-
Profil dan Kekayaan Belvin Tannadi, Influencer Saham Didenda OJK Rp5,35 Miliar
-
Kilau Emas Antam Makin Gila! Terbang ke Rp3 Juta Hari Ini
-
Modus Underinvoicing, Toko Emas Bening Luxury Disegel Bea Cukai
-
Program MBG Diklaim Picu Pertumbuhan Sektor Pertanian Tertinggi dalam Beberapa Tahun
-
Garap Potensi Ekonomi Ramadan dengan Memperluas Akses Ekonomi Syariah