- Harga minyak dunia pada Selasa, 6 Januari 2025, turun akibat potensi peningkatan suplai minyak mentah Venezuela pasca penangkapan Presiden Maduro oleh AS.
- Penangkapan Maduro membuka peluang pencabutan embargo AS dan pemulihan produksi minyak Venezuela, memperkuat proyeksi surplus pasokan global 2026.
- Jika suplai Venezuela naik, Arab Saudi mungkin memotong produksi untuk menjaga harga Brent tetap antara USD 55 hingga USD 60 per barel.
Suara.com - Harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2025. Harga terkoreksi karena pasar bereaksi terhadap potensi meningkatnya suplai minyak mentah dari Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pihak AS.
Situasi tersebut memperkuat proyeksi surplus pasokan global sepanjang tahun 2026 di tengah lesuhnya permintaan global.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,2 persen menjadi USD 61,62 per barel pada pukul 01.03 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 0,3 persen menjadi USD 58,15 per barel.
Analis Marex, Ed Meir berpendapat penerapan strategi Presiden AS Donald Trump di Venezuela berpotensi mendorong kenaikan produksi minyak mentah di negara tersebut.
"Saya pikir jika strategi Trump sebagian saja terwujud, produksi minyak mentah Venezuela seharusnya meningkat. Jika meningkat, akan ada lebih banyak tekanan pada pasar yang sudah kelebihan pasokan," kata Meir.
Sementara itu berdasarkan survei yang dilakukan Reuters terhadap pada pedagang pada Desember 2025, telah memperkirakan harga minyak berada di bawah tekanan pada 2026 karena meningkatnya pasokan dan lemahnya permintaan.
Tekanan harga minyak mentah dunia diperkirakan akan meningkat menyusul penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat pada Sabtu lalu. Peristiwa ini membuka jalan bagi pencabutan embargo minyak dan pemulihan output produksi negara tersebut.
Menindaklanjuti hal itu, pemerintahan Donald Trump dilaporkan akan segera bertemu dengan jajaran eksekutif perusahaan minyak AS untuk membahas strategi percepatan produksi minyak di Venezuela.
Meskipun harga minyak sempat menguat lebih dari 1 persen pada sesi sebelumnya karena pasar bereaksi terhadap ketidakpastian pengambilalihan kekuasaan oleh AS, masa depan pasar tetap dibayangi oleh potensi melimpahnya pasokan.
Baca Juga: Minyak di Balik Serangan AS ke Venezuela, Mengapa China Paling Rugi?
Di sisi hukum, Maduro sendiri telah menyatakan tidak bersalah atas dakwaan penyelundupan narkotika dalam persidangan hari Senin.
Sebagai negara pendiri OPEC dengan cadangan minyak terbesar dunia mencapai 303 miliar barel, Venezuela sebenarnya memiliki peran sentral.
Namun, akibat sanksi AS yang berkepanjangan serta minimnya investasi, infrastruktur perminyakan mereka mengalami penurunan produksi yang serius dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat rata-rata produksi tahunan Venezuela sebanyak 1,1 juta barel per hari.
Sejumlah analis memprediksi bahwa output minyak Venezuela berpotensi tumbuh sebesar 500 ribu barel per hari dalam dua tahun mendatang, dengan catatan kondisi politik stabil dan masuknya modal dari Amerika Serikat.
"Dalam jangka panjang, keinginan yang dinyatakan oleh pemerintahan AS untuk meningkatkan pasokan minyak Venezuela kemungkinan akan memberikan dorongan negatif bersih bagi pasar," menurut analis Citi dalam catatan kepada kliennya.
Jika lonjakan pasokan dari Venezuela menyebabkan penumpukan stok global yang berlebihan, Arab Saudi dan sekutunya diperkirakan akan mengambil tindakan tegas dengan memotong kuota produksi. Langkah ini bertujuan untuk menjaga agar harga minyak mentah jenis Brent tetap berada di kisaran USD 55 hingga USD 60 per barel.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
Pilihan
Terkini
-
Inflasi Tinggi Mengancam di Awal 2026, Apa Dampaknya?
-
Nama-nama di Balik Bursa Kripto ICEX, Benarkah Ada Haji Isam dan Happy Hapsoro?
-
Dilema Pengetatan Defisit APBD 2026: Antara Disiplin Fiskal dan Risiko Penurunan Belanja
-
Kelanjutan Proyek PLTN Tinggal Tunggu Perpres dari Prabowo
-
Tak Terbukti Dumping, RI Bisa Kembali Ekspor Baja Rebar ke Australia
-
Penggunaan SPKLU PLN Naik Hampir 500 Persen Saat Libur Nataru
-
Aturan Baru Soal Akuntan Dinilai Buka Peluang Kerja untuk Gen Z
-
Purbaya Siapkan Pembangunan Sekolah Terintegrasi Impian Prabowo, Apa Itu?
-
Ganti Jibor dengan INDONIA, BI Mau Buat Pasar Keuangan Lebih Transparan
-
Awas Bubble Pecah! Bahaya Mengintai saat IHSG Menuju Rp 10.000