Bisnis / Energi
Kamis, 08 Januari 2026 | 18:34 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi PNBP dari sektor minyak dan gas (migas) pada 2025 belum tercapai, hanya 83,7 persen dari target APBN. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor migas 2025 hanya tercapai Rp 105,04 triliun atau sekitar 83 persen dari target APBN.
  • Target lifting gas bumi tahun 2025 juga belum tercapai.
  • Realisasi lifting minyak tahun 2025 berhasil melampaui target menjadi 605.300 barel per hari.

Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan lifting minyak untuk tahun 2025 berhasil mencapai target, meski masih gagal untuk merealisasikan capaian penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor migas dan mencapai target lifting gas.

Realisasi PNBP dari sektor minyak dan gas (migas) pada 2025 belum tercapai. Tercatat realisasi penerimaan negara dari  sektor migas pada 2025 hanya Rp 105,04 triliun atau 83,7 persen dari target APBN yakni Rp 125,46 triliun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berlasan kegagalan itu disebabkan oleh harga minyak dunia yang rata-ratanya berada di angka USD 68 per barel.

"Sejak dari Januari sampai 31 Desember, rata-rata harga minyak dunia itu 68 dolar. Maka itu berdampak, begitu harganya tidak sampai 82 dolar, itu berdampak pada pendapatan negara kita. Karena itu pendapatan negara kita untuk di sektor migas mencapai Rp 105,4 triliun," jelas Bahlil saat menggelar konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Selain itu capaian lifting gas juga masih jauh dari target. Lifting gas bumi pada 2025 mencapai 951,800 barel setara minyak per hari (mboepd). Realisasi tersebut masih berada di bawah target yang ditetapkan pada APBN 2025 yakni 1.005.000 mboepd.

"Tapi berkat kerja keras kita semua, di tahun 2025 tidak ada kita melakukan impor gas," kata Bahlil.

Tercatat total produksi gas bumi sepanjang 2025 mencapai 5.600 BBTUD. Sebanyak 69 persen atau 3.908 dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri seperti hilirasi sebesar 2.091 BBTUD yang mencakup industri dan pupuk.

Lalu, 1.817 BBTUD untuk keperluan domestik lain seperti BBG, Jargas, ketenagalistrikan hingga LPG. Sementara sisanya sebanyak 31 persen atau 1.691 BBTUD dimanfaatkan untuk ekspor.

Adapun lifting minyak pada 2025 lalu mencapai sebesar 605.300 barel per hari. Realisasi tersebut mencapai 100,05 persen dari target yang ditetapkan pada APBN 2025 yakni sebesar 605.000 barel per hari.

Baca Juga: Pendapatan Negara Menurun, Menteri Bahlil Wacanakan Pembukaan Kembali Freeport

"Jadi target lifting kita alhamdulillah mencapai target, bahkan melampaui sekalipun ini sedikit," kata Bahlil.

Bahlil mengeklaim realisasi lifting minyak ini menjadi pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir.

"Kalau kita melihat target APBN kita sembilan tahun terakhir di lifting itu enggak pernah tercapai. Pertama itu kenaikan lifting kita itu di 2008," klaim dia.

Load More