Bisnis / Keuangan
Jum'at, 09 Januari 2026 | 12:55 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi. [Suara.com/Achmad Fauzi].
Baca 10 detik
  • OJK melaporkan tingginya kerugian masyarakat akibat modus penipuan love scamming daring yang menggunakan identitas palsu.
  • Indonesia Anti-Scam Center menerima 3.494 laporan love scam dengan total kerugian mencapai Rp 49,198 miliar.
  • Modus penipuan akhir tahun didominasi belanja online dan panggilan palsu, meskipun laporan periode Natal menurun.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan modus penipuan yang terus tinggi dan masih terjadi. Termasuk menggunakan modus percintaan atau love scamming yang ternyata merugikan masyarakat Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan kerugian modus penipuan love scamming ini mencapai Rp 49,19 miliar.

Adapun, love scamming adalah jenis penipuan daring yang memanfaatkan kedok mencari pasangan, di mana pelaku menggunakan identitas palsu untuk menargetkan korban tanpa memandang usia maupun latar belakang.  

Ilustrasi Modus Love Scamming. [Suara.com/AI]

"Terkait datanya, kalau ada yang bertanya-tanya yang diterima Indonesia Anti-Scam Center terkait dengan Love Scam ini di tahun 2025 sampai dengan akhir tahun lalu Indonesia Anti-Scam Center telah menerima 3.494 laporan kerugian masyarakat yang terkena skam melalui modus Love Scam ini dengan total kerugian yang cukup besar yaitu sebesar 49,198 miliar rupiah," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (9/1/2026).

OJK pun meminta agar masyarakat berhati-hati terhadap modus penipuan yang bisa membuat korban kehilangan uangnya. Apalagi banyak pelaku penipuan menggunakan cara untuk memanupulasi korban sehingga terkena modusnya dan kehilangan uang yang cukup besar.

"Untuk itu kami terus mengajak seluruh masyarakat untuk terus berhati-hati, terus meningkatkan kewaspadaan terkait berbagai hal manipulatif ya terutama terkait Love Scam ini," katanya.

Sementara itu, wanita yang akrab disapa Kiki menyebutkan peningkatan laporan penipuan selama periode Natal ini khususnya rentang waktu di minggu terakhir 24 sampai dengan 31 Desember 2025 berkurang. Secara keseluruhan angkanya lebih rendah daripada apa yang disampaikan oleh masyarakat di tahun 2024 lalu.

"Ini kalau dilihat angkanya kalau di atas sampai dengan 30 sebagai perbandingan hingga yang tahun 2025 itu ada hingga 30 November itu laporan tercatat 373.129 laporan," katanya.

Kiki mengungkapkan, modus penipuan yang banyak terjadi di akhir tahun ini yakni mengenai belanja online. Hingga penipuan tilang online dan modus telepon panggilan yang dilakukan oleh pelaku.

Baca Juga: OJK Waspadai Efek Domino Operasi Militer AS di Venezuela terhadap Stabilitas Keuangan RI

"Pasti kalau di akhir tahun itu penipuan transaksi belanja online jual-beli online kalau mungkin banyak seperti iklan atau diskon-diskon ya tiket-tiket Natal dan Tahun Baru dan sebagainya itu paling marak ya 1.127 laporan dan kemudian fake call dan seterusnya," pungkasnya.  

Load More