Bisnis / Energi
Jum'at, 09 Januari 2026 | 15:35 WIB
Ilustrasi gas DME dan gas LPG (Google Studio Ai)
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM menyebut hilirisasi batubara menjadi DME adalah upaya kurangi impor LPG karena produksi domestik rendah.
  • Indonesia sangat bergantung impor LPG mencapai 8,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan domestik tahunan.
  • Pembangunan pabrik DME, memanfaatkan batubara kalori rendah, direncanakan mulai dilakukan pada Januari 2026.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut proyek hilirisasi batubara menjadi dimetil eter atau DME menjadi salah upaya untuk menekan ketergantungan impor liquified petroleum gas atau LPG.

Bahlil menyebut, ketergantungan terhadap impor LPG disebabkan kemampuan produksi dalam negeri.

Dikatakannya, dari 10 juta ton kebutuhan domestik, Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 1,6 juta ton. Dengan tingginya kebutuhan itu berdampak terhadap devisa yang harus dikeluarkan.

"Artinya kita itu impor 8,4 juta untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Berapa ratus triliun itu devisa kita keluar," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta yang dikutip, Jumat (9/1/2026).

Bahlil mengungkap, kendala produksi LPG dalam negeri, salah satu jenis bahannya bakunya.

"Untuk membangun pabrik LPG, kalau pakai gas itu kan bahan bakunya C3, C4. Sementara gas kita itu lebih banyak di C1, C2, mau tidak mau harus ada substitusi impor," ujar Bahli.

Oleh karenanya, proyek hilirisasi batubara menjadi DME menjadi salah satu kunci untuk menekan ketergantungan terhadap penggunaan LPG.

"Nah, caranya adalah memanfaatkan batubara low calorie untuk DME, itu bisa dipakai untuk mengganti LPG," imbuhnya.

Adapun rencana pembangunan pabrik DME akan dimulai pada bulan ini. Hal itu sebagaimana diungkap Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi.

Baca Juga: Bahlil: Kewajiban E10 Paling Lambat Berlaku pada 2028

Dia menyebut, pemerintah akan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking 6 dari 18 proyek hilirisasi pada Januari 2026, termasuk hilirisasi batubara menjadi DME.

"Kemudian juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME," kata Prasetyo.

Load More