- Ombudsman RI menyatakan realisasi pemanfaatan biomassa listrik masih di bawah target nasional, berpotensi sebabkan maladministrasi.
- Ketidakcapaian target disebabkan lima isu utama termasuk ketersediaan, kualitas, biaya, efisiensi, dan lemahnya koordinasi.
- Kementerian ESDM mengakui tantangan pasokan biomassa dipicu permintaan ekspor yang lebih kompetitif daripada harga domestik.
Suara.com - Ombudsman Republik Indonesia mengungkapkan realisasi pemanfaatan biomassa untuk pembangkit listrik ramah lingkungan masih di bawah target. Hal itu pun berpotensi mengakibatkan maladministrasi.
Temuan tersebut berdasarkan hasil rapid assessment atau kajian cepat Ombudsman terhadap program pemanfaatan biomassa dalam implementasi pembangkit listrik ramah lingkungan.
"Realisasi pemanfaatan biomassa masih berada di bawah target yang ditetapkan di dalam kebijakan nasional dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL secara nasional," ujar Ketua Ombudsman RI, Mokhammad Najih di Kantor Ombudsman, Jakarta, Kamis (15/1/2025).
Ia melanjutkan, belum tercapainya target pemanfaatan biomassa disebabkan lima persoalan utama, ketersediaan dan kontinuitas yang belum terjamin, kualitas biomassa yang belum seragam, keterbatasan teknologi dan tingginya biaya retrofit, aspek perekonomian yang belum efisien, serta lemahnya tata kelola koordinasi dan skema intensif.
Berbagai persoalan itu menurutnya berpotensi menyebabkan maladministrasi, jika tidak dikelola dan diawasi.
"Ini kemudian berpotensi menimbulkan ketidak efektifan program dan bahkan memicu terjadinya maladministrasi jika tidak dikelola dan diawasi secara ketat," kata Najih.
Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Lana Saria mengakui bahwa realisasi pemanfaatan biomassa untuk pembangkit listrik belum memenuhi target.
"Hingga saat ini perlu kami sampaikan dan harus kami akui bahwa biomassa memang belum sepenuhnya dikategorikan sebagai komoditas yang memerlukan perizinan," ujarnya.
Hal itu disebabkan klasifikasi yang belum dianggap sebagai sektor berisiko tinggi.
Baca Juga: Dapat Restu ESDM, Vale Gaspol Lakukan Operasional
"Sehingga kondisi ini memang akan kita lakukan peninjauan lebih lanjut, seiring dengan meningkatnya peran biomassa dalam bauran energi nasional," kata Lana.
Dia juga mengungkap pengembangan bioenergi yang berkelanjutan sangat tergantung pada kolaborasi lintas sektor. Kementerian ESDM ditegaskannya tidak bisa bekerja sendiri, khususnya di sektor hulu.
"Mengingat penyediaan bahan baku biomassa yang berbasis produksi berada dalam ranah sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Sinergi kebijakan antar kementerian ini menjadi suatu hal yang krusial untuk menjamin ketersediaan pasokan yang stabil bagi sektor energi," katanya.
Selain itu, juga dihadapkan tantangan yang signifikan dalam pemenuhan kebutuhan biomassa domestik, akibat tingginya permintaan ekspor. Harga pasar internasional jauh lebih kompetitif dibanding dengan harga domestik.
"Sehingga khususnya ini untuk program co-firing pembangkit listrik, maka ini akan menjadi pertimbangan kita di dalam kita melaksanakan biomasa," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Ulasan Cafe Minamdang: Penyamaran Dukun Palsu Bongkar Aksi Kejahatan
-
Gedung Baru Pemkab Kediri Resmi Difungsikan, Mas Dhito Dorong Optimalisasi Pelayanan Publik
-
Sudaryono Akui Ada Penyelewengan di BGN, Janji Ubah Tata Kelola Berbasis Sistem
-
Adaptasi Doc Martin, Drama Medis Komedi Best Medicine Siap Hadir di Netflix
-
Bawa Baterai "Monster" 9.020 mAh, iQOO Z11 Sanggup Diajak Main MLBB Berapa Jam?
-
Strategi Spektrum XLSMART di Jalur 700 MHz dan 2,6 GHz demi Masa Depan 5G Indonesia
-
Lantik 1.177 Perwira, Prabowo Tegaskan TNI-Polri Adalah Jantung Negara
-
Bus H2 DDF dan Koridor Jakarta-Patimban, Tandai Babak Baru Ekosistem Hidrogen Indonesia
-
Investor Enggan Masuk, Proyek Storage Minyak Nasional Jalan di Tempat
-
Trauma Masa Kecil: Luka yang Berawal dari Hal-hal yang Dianggap Sepele