- Saham BRMS ditutup Rp1.220 pada 15 Januari 2026, namun tetap tumbuh 10,4% secara tahunan (ytd).
- BRI Danareksa dan CGS International merekomendasikan aksi *speculative buy* dengan target harga jangka pendek Rp1.275–Rp1.355.
- Estimasi harga konsensus analis berbeda, memproyeksikan harga BRMS maksimal hanya mencapai Rp1.200 dalam setahun.
Suara.com - Saham emiten tambang mineral, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), menunjukkan sinyal positif untuk kembali menguat menuju level resistance atau batas atasnya.
Meskipun sempat mengalami koreksi tipis pada perdagangan tengah pekan, sejumlah sekuritas ternama melihat adanya peluang bagi investor untuk memaksimalkan keuntungan melalui strategi speculative buy.
Pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (15/1/2026), saham BRMS tercatat berada di level Rp1.220, atau terkoreksi sekitar 2,4%.
Namun, jika dilihat secara year to date (ytd), performa saham ini masih cukup solid dengan pertumbuhan mencapai 10,4%.
Dua sekuritas besar telah merilis panduan teknis bagi para pemodal yang ingin masuk ke saham BRMS dengan mempertimbangkan titik masuk dan manajemen risiko yang terukur.
1. Pandangan BRI Danareksa Sekuritas BRI Danareksa Sekuritas menyarankan aksi beli (buy) dengan target harga yang cukup optimistis di kisaran Rp1.295 hingga Rp1.355. Secara teknikal, pergerakan BRMS saat ini dinilai sedang dalam fase pullback.
Area Beli: Rp1.200 - Rp1.230.
Level Support: Rp1.180 - Rp1.215.
Analisis: Selama harga mampu bertahan di atas level support, tren bullish diperkirakan akan berlanjut menuju target resistance utama.
Baca Juga: OJK Serahkan Pelaku Saham Gorengan di Pasar Modal, Ini Sosoknya
2. Pandangan CGS International Sekuritas Indonesia CGS International juga memberikan sinyal spec buy dengan target harga jangka pendek di level Rp1.275 hingga Rp1.300. Mereka menekankan pentingnya disiplin pada titik batasan risiko.
Level Support: Rp1.225.
Titik Cut Loss: Jika harga menembus di bawah Rp1.200.
Analisis: Apabila harga tidak memecah level Rp1.225, potensi penguatan jangka pendek sangat terbuka lebar.
Aktivitas perdagangan saham BRMS terpantau cukup likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat sebanyak 130 juta lembar saham telah berpindah tangan dengan total nilai transaksi mencapai Rp161,7 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 14,6 ribu kali.
Meskipun indikator teknikal menunjukkan peluang penguatan ke atas Rp1.300, data konsensus dari 9 analis pasar memberikan gambaran yang lebih konservatif untuk estimasi harga satu tahun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
Terkini
-
Saham BBCA dan BBRI Sedang 'Cuci Gudang', Saatnya Borong?
-
Pasar Modal Indonesia Ditinggal Investor, 15 Perusahaan Masih Nekat IPO Tahun Ini
-
MinyaKita Hilang dari Rak Toko, Tukang Gorengan Akui Rugi Pengeluaran Bengkak
-
Punya Rumah Tak Lagi Ribet, Pengajuan KPR untuk Gen Z Dipermudah
-
Meski Rupiah-IHSG Loyo, Purbaya Buktikan Arus Modal Asing Masih Ramai Masuk RI
-
Akibat IHSG Bobrok, Dana Asing Telah Keluar Rp 4,1 T Sepanjang Mei
-
Raih Kinerja Topcer, Anak usaha Emiten TUGU Catatkan Laba Bersih Rp 95,1 M di 2025
-
Emiten Farmasi MDLA Perkuat Bisnis Berkelanjutan, Gunakan Mobil Listrik
-
Orang Kaya Tak Wajib Serok Surat Utang Danantara, Siapa yang Beli?
-
Perbaiki Arus Kas, Begini Strategi Emiten PPRO