- JMA Syariah telah memenuhi ekuitas minimum Rp100 miliar sesuai POJK No. 23/2023 bagi perusahaan asuransi syariah.
- Perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan premi asuransi konvensional sebesar 20 persen pada tahun ini.
- JMA Syariah mengalihkan fokus strategis ke asuransi jiwa demi pertumbuhan bisnis lebih berkelanjutan.
Suara.com - PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk atau JMA Syariah memastikan telah memenuhi ekuitas minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk perusahaan asuransi syariah sebesar Rp100 miliar.
Adapun, ekuitas minimun ini sudah seusai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 23/2023. Dalam aturannya ekuitas minimum untuk asuransi konvesional sebesar Rp250 miliar, sedangkan untuk asuransi syariah Rp100 miliar.
Direktur Utama JMA Syariah, Basuki Agus, menyebut capaian ekuitas minimum tersebut untuk memenuhi aturan regularor yang tertuang dalam POJK Nomor 23 Tahun 2023.
“Pemenuhan ekuitas minimum perusahaan syariah, jadi kalau JMA untuk sampai tahun 2026 InsyaAllah itu sudah terpenuhi jadi tidak menjadi isu untuk memenuhi POJK untuk tahun 2023,” katanya dalam Public Expose secara virtual, Selasa (20/1/2026).
Selain itu, emiten dengan kode JMAS membidik pertumbuhan pendapatan kontribusi premi dalam asuransi konvensional sebesar 20 persen pada tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu.
“Jadi kalau 2025, (realisasi pendapatan kontribusi sebesar) Rp295 dikalikan ke 120 persen, kira-kira sekitar Rp360 miliar," imbuh dia.
Selain itu, perusahaan juga mengungkapkan alasan strategis dibalik pergeseran fokus bisnis dari asuransi kesehatan ke asuransi jiwa.
Pergeseran jni dilakukan untuk fokus bisnis demi menjaga pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
"Jadi pertumbuhannya kalau asuransi jiwa itu kita bisa sustain. Kalau asuransi kesehatan itu karena kontraknya pendek itu cenderung akan naik turunnya terlalu tajam,” jelas Basuki.
Baca Juga: Emiten IRSX Jadikan Konser Hybrid Jadi Ladang Cuan Baru
Dia pun menekankan bahwa JMA Syariah tidak sepenuhnya meninggalkan bisnis asuransi kesehatan.
Perusahaan tetap menerima dan menglola produk tersebut, namun dengan pendekatan yang lebih selektif.
“Kita tetap menerima asuransi kesehatan, bukan tidak menerima, tapi untuk yang sustain, yang secara risikonya kita sudah bisa manage,” katanya.
Nantinya, proses underwriting dapat dilakukan secara lebi akurat. Hal ini bukan hanya menguntungkan bagi perusahaan, tapi juga memberikan nilai tambah bagi nasabah.
“Bagi pemegang polis juga lebih menguntungkan ya, karena diberikan price yang sama dengan apa yang sesuai dengan dia terima. Kemudian dengan harga atau benefit yang diberikan juga sesuai dengan kebutuhan yang ada,” bebernya.
Berita Terkait
-
Gegara Tipu Daya Cinta, Uang Masyarakat Rp 49,19 Miliar Lenyap
-
OJK Waspadai Efek Domino Operasi Militer AS di Venezuela terhadap Stabilitas Keuangan RI
-
OJK Desak Perbankan Segara Tutup Ribuan Rekening Judi Online
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
-
Banyak Peretas, OJK Perketat Aturan Keamanan Digital di BPR
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
Terkini
-
Volume Transmisi Gas PGN Naik, EBITDA Tembus USD971,2 Juta
-
Respons Garuda Indonesia Usai Tak Lagi Dapat Bintang 5 dari Skytrax
-
Goldman Sachs Ramal Harga Minyak Tembus USD100 Pekan Depan
-
Sudah Punya Direksi Asing, Tapi Garuda Indonesia Malah Turun Kasta Jadi Bintang 4
-
Garuda Indonesia Turun Kasta Jadi Bintang 4, Kenyamanan dan Fasilitas Menurun
-
Ketum PERBANAS Hery Gunardi Beberkan Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
-
Elektrifikasi Jalur Kereta Malaysia Rampung Lebih Cepat, PLN Group Perkuat Reputasi Internasional
-
Wapres Cek Proyek Strategis Senilai Rp1,4 T di Tuban, Siap Genjot Ekspor Semen ke Pasar Global
-
Fitch Semprot Outlook RI Jadi Negatif, Menkeu Purbaya Jujur: Salah Saya Juga!
-
Pertamina Tegaskan Stok BBM Aman: Cadangan Nasional Bisa Tahan hingga 35 Hari