Bisnis / Energi
Rabu, 21 Januari 2026 | 20:19 WIB
Petugas PLN memperbaiki jaringan listrik di daerah pedalaman pascabencana banjir bandang di Lokop, Aceh Timur, Aceh, Senin (22/12/2025). PT PLN mengerahkan 1.600 personil untuk melakukan pemulihan jaringan di 18 kabupaten dan kota yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 di Provinsi Aceh. [Antara]
Baca 10 detik
  • Dirut PLN Darmawan Prasodjo menangis saat rapat DPR pada 21 Januari 2026 mengenai pemulihan kelistrikan pascabencana Sumatera.
  • Kerusakan infrastruktur PLN di Aceh sangat masif; pemulihan total di Sumbar 100%, Sumut 99,97% per Desember 2025.
  • PLN akan menyusun contingency master plan baru dan membangun dashboard digital untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana.

Suara.com - Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo menangis saat menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (21/1/2026). Dengan suara yang serak Darmawan menceritakan tantangan yang mereka hadapi dalam proses pemulihan jaringan listrik wilayah terdampak bencana, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Awalnya, Darmawan memaparkan dampak bencana yang terjadi pada akhir November 2025 lalu terhadap jaringan kelistrikan PLN di tiga wilayah tersebut. Ia secara khusus menyoroti kerusakan infrastruktur kelistrikan di Aceh, yang dia nilai sangat dahsyat.

"Dampaknya dalam hal ini, baik itu ke pembangkit kami, baik itu ke tower-tower kami, baik itu ke gardu induk kami, baik itu ke tiang listrik yang di pinggir jalan, baik itu ke instalasi di rumah. Sehingga ini dampaknya sangat masif," kata Darmawan di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Rabu (21/1/2026).

Namun demikian, perlahan PLN mulai memulihkan sistem jaringan listrik yang sebelumnya terdampak. Untuk Sumatera Utara, kata Darmawan, sudah pulih 99,97 persen, karena masih ada dua desa yang terputus jaringan listrik. Sementara untuk Sumatera Barat, sejak 23 Desember 2025 telah pulih 100 persen.

Untuk Aceh, kata Darmawan membutuhkan penanganan khusus, karena kerusakannya di luar dugaan PLN.

"Kerusakannya betul-betul kerusakan dalam ukuran skala yang belum pernah kami hadapi sebelumnya. Pertama adalah adanya tower-tower transmisi kami yang roboh antara Bireun - Arun" kata Darmawan.

Selain itu juga terdapat kerusakan lain, seperti 24 tower yang terdampak dan membutuhkan penanganan segera. Untuk berbagai cara dilakukan PLN, seperti penggunaan pesawat TNI AU untuk mengangkat sejumlah peralatan dan bahan material lainnya.

Dengan suara serak, dan mata-mata berkaca-kaca Darmawan mengakui penanganan bencana di Aceh menjadi pembelajaran bagi PLN.

"Dan pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan Alam. Tim kami memberikan yang terbaik di luar batas kemampuan kemanusiaan. Dan kami mengakui bahwa ini adalah perubahan besar bagaimana kami menyikapi keandalan dari sistem kelistrikan," ujarnya.

Baca Juga: Beberapa Wilayah Aceh Masih Gelap Gulita, PLN Akui Kesalahan Data ke Menteri Bahlil

Lebih lanjut Darmawan juga menjelaskan langkah jangka pendek yang telah dilakukan PLN dalam pemulihan listrik pascabencana di Sumatera, antara lain pembangunan tower emergency.

“Tadinya satu jalur, kami bangun menjadi tower emergency dua jalur. Ke depan perlu tower permanen sehingga ada tiga jalur,” ujarnya.

Darmawan menekankan bahwa bencana ini mengubah standar keamanan sistem kelistrikan. Jika sebelumnya gardu induk dianggap aman dari banjir, kali ini untuk pertama kalinya gardu induk PLN terendam lumpur.

“Misalnya area 10x10 meter dengan lumpur setinggi 1 meter berarti 150 ton lumpur. Evakuasi arena 10x10 membutuhkan peralatan khusus, yang saat itu kami akui tidak punya. Kami terpaksa mengerahkan pasukan PLN, dibantu rakyat, TNI, dan Polri,” katanya.

Darmawan menambahkan PLN akan mulai menyiapkan contingency master plan baru yang komprehensif dalam menghadapi bencana. Ia mencontohkan jaringan kelistrikan di Aceh dan Sumatera yang awalnya dianggap aman ternyata menjadi doomsday scenario, di mana transmisi backbone Sumatera terputus ke sistem Aceh.

“Kami tidak pernah memikirkan ribuan gardu distribusi terendam lumpur. Kami tidak pernah memikirkan ribuan tiang listrik tenaga tegangan rendah kami akan ambruk. Kami tidak pernah terpikirkan bagaimana setelah listrik menyala pun kami tidak bisa menyalakan rumah pelanggan kami,” ujar dia.

Load More