- Dittipideksus Bareskrim Polri menyelidiki PT Narada Aset Manajemen atas dugaan praktik insider trading dan wash sales.
- Narada mengalami krisis signifikan November 2019 setelah Nilai Aktiva Bersih anjlok dan OJK mensuspensi operasionalnya.
- Perusahaan yang sempat meraih penghargaan ini kini menghadapi masalah hukum serius terkait manipulasi harga saham di bursa efek.
Suara.com - Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri kini tengah memfokuskan penyelidikan terhadap PT Narada Aset Manajemen.
Perusahaan manajer investasi ini diduga kuat terlibat dalam praktik insider trading dan perdagangan semu (wash sales) yang bertujuan memanipulasi harga saham di bursa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Direktur Tipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, mengungkapkan bahwa penyidik telah menemukan fakta terkait kejanggalan pada aset dasar (underlying asset) produk reksa dana milik Narada.
Pola transaksi yang dijalankan disinyalir sengaja dirancang untuk menciptakan gambaran harga saham yang semu, sehingga nilai yang terbentuk di pasar tidak lagi mencerminkan fundamental perusahaan yang asli.
Temuan ini diperkuat oleh keterangan ahli pasar modal yang menyatakan bahwa rangkaian transaksi antara pihak-pihak yang terafiliasi tersebut sangat menyesatkan investor.
Praktik ini membuat harga pasar kehilangan fungsinya sebagai dasar pengambilan keputusan investasi yang sehat.
Kronologi Kejatuhan: Dari Penghargaan ke Suspensi
Perjalanan Narada Aset Manajemen mengalami pasang surut yang drastis. Berdiri sejak 2012 (sebelumnya bernama Narada Kapital Indonesia), perusahaan ini sempat meraih prestasi gemilang, termasuk penghargaan Best Mutual Fund Award pada 2018 berkat kinerja reksa dananya yang dinilai impresif kala itu.
Namun, kejayaan tersebut runtuh pada November 2019. Masalah mulai terendus publik saat platform Bareksa menghentikan penjualan produk Narada menyusul anjloknya Nilai Aktiva Bersih (NAB) hingga -46% hanya dalam waktu satu bulan.
Baca Juga: Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
Krisis ini semakin dalam setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi suspensi. Narada dilarang:
- Menambah atau membentuk produk reksa dana baru.
- Menerima transaksi pembelian unit penyertaan (subscription).
- Membuat Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) baru.
Pemilik sekaligus Komisaris Utama Narada, Made Adi Wibawa, sempat membantah tuduhan gagal bayar. Ia menyebut kemelut tersebut dipicu oleh adanya tagihan transaksi saham yang belum terselesaikan.
Namun, sentimen pasar yang terlanjur negatif membuat harga saham-saham dalam portofolio Narada terjun bebas, yang secara otomatis menghancurkan nilai NAB mereka.
Di tengah upaya restrukturisasi yang pelik, Direktur Utama Narada, Oktavian Dondi, dilaporkan meninggal dunia pada 26 Februari 2020, meninggalkan perusahaan dalam kondisi tersuspensi yang belum dicabut hingga saat ini.
Profil Struktur Kepemilikan dan Manajemen
Berdasarkan data operasional terakhir, PT Narada Aset Manajemen dikendalikan melalui dua entitas pemegang saham utama, yakni PT Swiss Dana Investama dan PT Jatarupa Graha Invesdana.
Berita Terkait
-
OJK Mulai Kumpulkan Data Saham Gorengan, Ini Bocorannya
-
BEI: 2 Emiten Konglomerat Bakal IPO, Ini Bocorannya
-
Saham BUMI Terkoreksi Tajam Usai Lonjakan Signifikan, Ini Kata Analis
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
OJK Hormati Langkah Hukum Polri Datangi Shinhan Sekuritas Terkait Saham Gorengan
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
Terkini
-
Ada Danantara di Demutualisasi Bursa, Apa Untungnya Buat Investor?
-
OJK Mulai Kumpulkan Data Saham Gorengan, Ini Bocorannya
-
BEI: 2 Emiten Konglomerat Bakal IPO, Ini Bocorannya
-
PLTSa Ditargetkan Mulai Beroperasi pada 2027
-
Saham BUMI Terkoreksi Tajam Usai Lonjakan Signifikan, Ini Kata Analis
-
Bank Indonesia Gabung dengan Proyek Nexus, Apa Untungnya?
-
Purbaya soal Bos BEI-OJK Mundur: Pertanda Baik, Mereka Salah dan Harus Tanggung Jawab
-
Pesan Purbaya ke Investor: Jangan Cemas soal Investasi di RI, Saya Menteri Pintar
-
Mayoritas Harga Pangan Turun, Cabai Rawit Merah Masih Naik Tembus Rp 62.000/kg
-
CIMB Niaga Dorong Masyarakat Kelola Gaji Secara Eifisien