- Pemerintah ESDM menetapkan target produksi batu bara nasional 2026 menjadi 600 juta ton, turun 24% dari realisasi 2025.
- Tiga emiten besar: AADI, BUMI, dan INDY, dilaporkan lolos dari pemotongan kuota produksi sesuai pengajuan mereka.
- Pengetatan suplai batu bara berpotensi memicu efisiensi ekstrem, bahkan PHK pada perusahaan tambang kecil menengah.
Suara.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil langkah berani dengan mengetatkan suplai batu bara nasional untuk tahun 2026.
Pemerintah menyepakati penurunan target produksi nasional menjadi sekitar 600 juta ton, seperti yang dikutip dari laporan Bloomberg.
Jumlah ini merosot signifikan sekitar 24% atau hampir 200 juta ton dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan untuk menyelaraskan dengan kebutuhan industri serta sebagai upaya strategis menstabilkan harga komoditas di pasar global.
Langkah ini juga menandai kembalinya sistem persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahunan, menghapus skema tiga tahunan yang sempat berlaku sebelumnya.
AADI, BUMI dan INDY di "Zona Aman"
Di tengah kabar pemangkasan massal yang menghantui para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), tiga emiten besar dikabarkan berhasil lolos dari "pedang" pemotongan kuota.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) dilaporkan mendapatkan persetujuan kuota penuh sesuai pengajuan mereka.
Total kuota untuk ketiga raksasa ini diperkirakan mencapai 170 juta ton. Kondisi ini menempatkan ketiganya pada posisi yang sangat menguntungkan secara kompetitif.
Baca Juga: Yaqut Diperiksa KPK, Gus Yahya: Semua Tahu Dia Adik Saya, Silakan Diproses!
Saat produsen lain harus mengerem produksi, mereka tetap dapat beroperasi normal dan berpeluang menikmati ekspansi margin jika harga batu bara terkerek naik akibat kelangkaan suplai global.
Meskipun secara nasional terjadi pengetatan, detail operasional ketiga emiten ini menunjukkan ketahanan yang solid:
PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Aset utama BUMI tetap kokoh. Kaltim Prima Coal (KPC) diproyeksikan memproduksi sekitar 54 juta ton, sementara Arutmin Indonesia menyumbang sekitar 20 juta ton. Keduanya dilaporkan tidak terkena pengurangan kuota oleh pemerintah.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Produksi grup secara agregat diperkirakan tetap stabil di kisaran 65 juta ton. Meski salah satu anak usaha kecil mengalami pemangkasan 50% menjadi 5,2 juta ton, tambang utama Adaro dengan kapasitas 60 juta ton tetap menjadi tulang punggung yang tidak terganggu.
PT Indika Energy Tbk (INDY): Emiten ini juga masuk dalam kelompok yang terhindar dari pemangkasan signifikan, menjaga kapasitas suplainya tetap sesuai rencana kerja awal.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai bahwa kebijakan pemerintah memangkas kuota produksi dalam RKAB 2026 merupakan langkah strategis untuk mengatasi kondisi oversupply di pasar internasional. Upaya ini dilakukan guna menjaga stabilitas harga komoditas global sekaligus mendorong praktik pertambangan yang lebih berkelanjutan.
Berita Terkait
-
Saham BUMI Terkoreksi Tajam Usai Lonjakan Signifikan, Ini Kata Analis
-
Profil PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan Pemilik Sahamnya
-
KPK Masih Menyisir Biro Travel yang Ikut Bermain Jual-Beli Kuota Haji di Kemenag Periode 2023-2024
-
Citigroup: Pemangkasan Batu Bara Ancam Operasional Tambang dan Risiko Denda Kontrak
-
KPK Segera Tahan Gus Yaqut dan Gus Alex usai Audit Kerugian Negara Rampung
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Investor Harus Waspada, Pasar Saham RI Belum Lolos dari Ancaman MSCI
-
7 Bank RI Telah Tutup Sepanjang 2026, Apa Masalahnya?
-
Tarif KOL Capai Rp 150 Juta, Startup Ini Pilih Bayar Konsumen Biasa
-
MIND ID Percepat Pemulihan Ekosistem Lewat Reklamasi dan Rehabilitasi DAS Skala Besar
-
IHSG Merosot ke Level 5.835 di Sesi I, Saham CUAN dan DEWA Ambrol
-
PT Pegadaian CPS Pondok Aren Kolaborasi dengan Sahabat Berbagi Tangsel Gelar Santunan Yatim & Dhuafa
-
Investasi Rp339 Triliun, Blok Masela Target Mulai Konstruksi 2027
-
Juli 2026, Pemerintah Mulai Produksi CNG Rumah Tangga Pengganti LPG
-
Harga LNG Naik, INDEF Ingatkan Pemerintah Mitigasi Risiko PHK Industri
-
Purbaya Akui Pemda RI Belum Siap Rilis Surat Utang, Ogah Bangkrut Seperti Argentina