- BPS mencatat pengangguran November 2025 sebanyak 7,35 juta orang, menunjukkan penurunan dari Agustus 2025.
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per November 2025 turun menjadi 4,74 persen seiring bertambahnya pekerja.
- Jumlah angkatan kerja per November 2025 mencapai 155,27 juta orang, dengan penduduk bekerja naik 1,371 juta.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran di Indonesia kini sebanyak 7,35 juta orang per November 2025. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan data BPS pada Agustus 2025 lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, penurunan ini seiring bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja.
"Jumlah orang yang menganggur pada bulan November 2025 adalah sebanyak 7,35 juta orang," ujar Amalia dalam konferensi pers di Kantor BPS RI, Kamis (5/2/2026).
Penurunan jumlah pengangguran tersebut mendorong perbaikan TPT. BPS mencatat TPT pada November 2025 berada di level 4,74 persen.
"Selama periode Agustus 2025 sampai dengan November 2025, terdapat 7,35 juta orang menganggur, di mana angka ini setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka yang turun menjadi sebesar 4,74 persen," kata Amalia.
Ia menambahkan, penurunan TPT terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan. Tren penurunan juga terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan.
"Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka dibandingkan dengan Agustus 2025 terjadi baik pada penduduk laki-laki maupun perempuan dan juga di wilayah perkotaan maupun di pedesaan," ucapnya.
Bersamaan dengan itu, jumlah angkatan kerja Indonesia juga mengalami peningkatan. Hingga November 2025, jumlah angkatan kerja tercatat mencapai 155,27 juta orang.
Dari jumlah tersebut, penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 147,91 juta orang. Jumlah ini bertambah signifikan dibandingkan Agustus 2025.
Baca Juga: BPS Sebut Investasi Tumbuh Dua Digit di 2025, Ini Penyebabnya
"Jumlah penduduk yang bekerja ini bertambah sebanyak 1,371 juta orang dibandingkan bulan Agustus 2025," katanya.
Peningkatan jumlah penduduk bekerja turut mendorong naiknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). BPS mencatat TPAK pada November 2025 mencapai 70,95 persen.
Jika dirinci menurut jenis kelamin, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki masih lebih tinggi dibandingkan perempuan. Namun, keduanya sama-sama mengalami peningkatan.
"Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja laki-laki mencapai 84,83 persen, sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan mencapai 56,91 persen," imbuhnya.
BPS juga mencatat proporsi pekerja penuh waktu mengalami peningkatan pada November 2025. Pekerja penuh waktu merupakan mereka yang bekerja minimal 35 jam dalam seminggu.
"Persentase pekerja yang bekerja penuh adalah sebesar 67,94 persen atau sekitar 100,5 juta orang," ucap Amalia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri