- Harga minyak dunia naik tipis pada Senin 5 Januari 2026 akibat penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat.
- Presiden AS mengumumkan kendali atas Venezuela dan menegaskan kebijakan embargo minyak tetap berlaku penuh.
- Fasilitas vital energi Venezuela dilaporkan tidak terganggu, namun stabilitas politik menentukan dampak pasokan minyak.
Suara.com - Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Senin 5 Januari 2026. Pasar saat ini mempertimbangkan dampak gangguan pasokan akibat keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) yang menangkap Presiden Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Mengutip dari Investing.com, tercatat harga minyak mentah Brent berjangka naik 17 sen menjadi USD 60,92 per barel pada pukul 00.24 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di harga USD 57,43 per barel, naik 11 sen.
Sebagaimana dilaporkan AS melancarkan operasi penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu.
Dalam pernyataan resminya, Trump menegaskan Washington akan mengambil kendali atas negara produsen minyak tersebut. Trump juga juga mengatakan kebijakan embargo terhadap seluruh minyak asal Venezuela masih tetap berlaku secara penuh.
Dua sumber internal di perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, mengatakan operasi AS untuk mengamankan presiden mereka tidak mengganggu fasilitas vital energi. Dilaporkan infrastruktur produksi maupun industri pengolahan minyak Venezuela tidak mengalami kerusakan akibat serangan AS dalam operasi penangkapan terhadap Nicolas Maduro.
Para analis menilai bahwa potensi gangguan pada ekspor minyak Venezuela akan memberikan dampak yang tidak terlalu besar terhadap harga, mengingat pasokan minyak yang tengah melimpah.
"Kami melihat risiko yang ambigu namun moderat terhadap harga minyak dalam jangka pendek dari Venezuela, tergantung pada bagaimana kebijakan sanksi AS berkembang," kata tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Daan Struyven dalam catatan tertanggal 4 Januari.
Oleh karenanya Goldman Sachs tetap mempertahankan proyeksi harga minyak mereka untuk tahun 2026.
Helima Croft dari RBC Capital menilai bahwa stabilitas politik adalah kunci bagi pasokan minyak Venezuela. Jika transisi berjalan lancar dan sanksi dihapus, produksi minyak bisa meningkat signifikan dalam 12 bulan ke depan.
Baca Juga: Trump Kudeta Venezuela, Harga Minyak Dunia Bisa Melejit?
"Namun, semua prediksi bisa meleset dalam skenario perubahan kekuasaan yang kacau seperti yang terjadi di Libya atau Irak," ujarnya menambahkan.
Sementara itu, seorang pejabat tinggi Venezuela menyatakan pada hari Minggu bahwa pemerintah negara itu akan tetap bersatu di belakang Maduro.
Adapun Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC dan sekutunya memutuskan untuk menahan produksi mereka pada hari Minggu.
Di samping itu, para analis juga mengamati reaksi Iran setelah Trump mengancam pada hari Jumat untuk campur tangan dalam penindakan terhadap protes di negara produsen OPEC tersebut, yang meningkatkan ketegangan geopolitik.
Sebagaimana dalam laporan kelompok HAM pada Minggu, setidaknya 16 orang tewas dalam dalam satu pekan terakhir akibat kerusuhan yang terjadi di Iran, seiring protes atas inflasi yang melonjak menyebar ke seluruh negeri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Trump Tetapkan Tarif Baru 10 Persen Usai Kesepakatan RI-AS, Indonesia Rugi?
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
Terkini
-
Deal Perjanjian Dagang RIAS Tak Mutlak, Bisa Berubah Jika Ada Perjanjian Baru
-
Trump Tetapkan Tarif Baru 10 Persen Usai Kesepakatan RI-AS, Indonesia Rugi?
-
9 Tips Mengatur THR agar Tidak Cepat Habis untuk Persiapan Lebaran
-
Impor Energi dari AS, CORE: Ini Bertentangan dengan Kemandirian Energi
-
Setelah Kesepakatan Dagang, Produk AS Bakal Banjiri Pasar RI
-
Bukan Sekadar Ekspor-Impor, ART Ikat RIAS dalam Koordinasi Kebijakan Global
-
Perjanjian Tarif Resiprokal, Produk Impor dari AS Tak Perlu Sertifikasi Halal? Ini Faktanya
-
Pedagang Pasar Bilang Harga MinyaKita Tak Pernah Rp 15.700/Liter
-
Pedagang Pasar: Harga Pangan Semuanya Naik, Cabai Rawit Tembus Rp 100 Ribu/Kg
-
Bukan Sekadar Renovasi, Program Pondasi Bangun Rasa Aman dan Produktivitas Warga