- Pengamat UGM memproyeksikan harga minyak mentah dunia dapat melampaui USD 100 per barel akibat tindakan AS terhadap Venezuela.
- Langkah AS mengontrol minyak Venezuela dinilai serupa pola sebelumnya diterapkan terhadap minyak mentah di Irak pasca intervensi.
- Dampak eskalasi geopolitik ini diperkirakan memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia terkait subsidi energi.
Suara.com - Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhy, menilai serangan dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan berdampak terhadap harga minyak mentah dunia.
Dia memproyeks, harganya bisa mencapai di atas USD 100 per barel. Fahmi memandang langkah yang dilakukan AS memiliki pola yang sama seperti sebelumnya terjadi Timur Tengah.
"Modus yang dilakukan di Venezuela sebelumnya dilakukan di Irak. AS mengontrol langsung minyak Irak dan Venezuela," kata Fahmi saat dihubungi Suara.com pada Senin (5/1/2025).
Sebagaimana diketahui usai menangkap Nicolas Maduro beserta istrinya, Trump menyatakan akan mengontrol secara penuh industri minyak di Venezuela.
Fahmi pun memandang China akan terdampak, karena menjadi salah satu negara yang memasok minyaknya dari Venezuela.
"Kalau China sebagai pembeli minyak terbesar dari Venezuela bertindak secara militer, potensi harga minyak akan meningkat," ujarnya.
Harga minyak pun dapat melambung tinggi. Tercatat pada awal perdagangan Senin 5 Januari 2025, harga Brent berjangka naik 17 sen menjadi USD 60,92 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di harga USD 57,43 per barel, naik 11 sen.
"Kalau eskalasi perang meluas, harga minyak dunia akan naik hingga di atas USD 100 per barel," kata Fahmi.
Baca Juga: Pertamina Miliki Kilang Minyak di Venezuela, Terdampak?
Meski demikian, AS dan Rusia, menurutnya tidak akan menghendaki kenaikan harga tersebut, sebab akan merugikan industri di masing-masing negara.
"Pada saat itu-lah, AS akan membuka perundingan dengan China dan Rusia," ujarnya.
Di samping itu, potensi kenaikan harga yang disebabkan gejolak geopolitik itu juga akan berdampak ke Indonesia.
"Kenaikan harga minyak dunia akan semakin memberatkan APBN untuk subsidi," kata Fahmi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas Daihatsu untuk Lansia yang Murah, Aman dan Mudah Dikendalikan
- Apa Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki? Ini 6 Rekomendasi Terbaiknya
- 5 Mobil Bekas Toyota Pengganti Avanza, Muat Banyak Penumpang dan Tahan Banting
- 27 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 3 Januari 2026: Ada Arsenal 110-115 dan Shards
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
Pilihan
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
-
Eksplorasi Museum Wayang Jakarta: Perpaduan Sejarah Klasik dan Teknologi Hologram
Terkini
-
Skrining Riwayat Kesehatan Jadi Syarat Layanan BPJS, Begini Caranya
-
ESDM Targetkan Setop Impor Solar Mulai April, Usai RDMP Kilang Balikpapan Berproduksi
-
Emiten BUMI Target Berapa? Tertekan Aksi Jual Asing, Tapi Saham Tetap Laris
-
Purbaya Pede IHSG dan Rupiah Aman di Tengah Konflik AS-Venezuela
-
Kartu Debit Bisa Dipakai di 200 Negara, Bank Jakarta Bidik Layanan Transaksi Kelas Global
-
Konflik AS-Venezuela, Purbaya: Hukum Dunia Aneh, PBB Lemah Sekarang
-
Inflasi Terjaga, BI Tetap Waspadai Kenaikan Harga Cabai dan Daging Ayam
-
Harga Minyak Dunia Justru Melorot di Tengah Panasnya Penangkapan Presiden Maduro
-
Debit Visa Bank Jakarta Didorong Jadi Motor Transaksi Global UMKM dan Ekonomi Kreatif di DKI
-
Kurs Dolar AS Makin Tinggi, Cek Nilainya di Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA